Breaking News

Internasional

RS di Beijing Kewalahan Hadapi Gelombang Infeksi Covid-19

Rumah Sakit di Beijing dan beberapa kota besar Cina berada di bawah tekanan yang sangat besar menyusul peningkatan kasus Covid-19

Editor: bakri
AFP/Noel CELIS
Pekerja yang mengenakan alat pelindung diri (APD) mengendarai sepeda roda tiga di sepanjang jalan di Beijing yang tampak lengang pada Sabtu (26/11/2022) 

BEIJING - Rumah Sakit di Beijing dan beberapa kota besar Cina berada di bawah tekanan yang sangat besar menyusul peningkatan kasus Covid-19.

Dokter dan perawat dikhawatirkan dapat menulari pasien karena mereka sendiri terpapar.

Pekerja medis garis depan tetap diperintahkan untuk bekerja karena kekurangan stafnya.

Beijing sendiri melaporkan hanya 1.027 kasus baru pada Selasa (13/12/2022) waktu setempat, namun skala kasus sebenarnya diyakini jauh lebih besar, dengan penduduk tidak lagi diharuskan melakukan tes PCR atau melaporkan hasil tes antigen mereka.

Seorang profesor Cina yang berspesialisasi dalam kebijakan kesehatan telah memantau krisis di negara asalnya dari Universitas Yale di Amerika Serikat (AS).

Chen Xi mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan direktur rumah sakit dan staf medis lainnya di Cina tentang tekanan besar pada sistem saat ini.

"Orang yang telah terinfeksi diharuskan bekerja di rumah sakit yang menciptakan lingkungan penularan di sana," katanya seperti dikutip BBC, Rabu (14/12/2022).

Rumah sakit Cina sejak pekan lalu meningkatkan kapasitas bangsal demam mereka untuk memenuhi gelombang besar pasien.

Bangsal-bangsal tersebut kemudian telah terisi dengan cepat, meskipun ada pesan yang masih beredar bahwa "tidak apa-apa untuk tinggal di rumah jika Anda tertular virus".

Chen mengatakan masih banyak yang harus dilakukan untuk menjelaskan hal ini kepada orang-orang.

"Tidak ada budaya tinggal di rumah untuk gejala ringan," katanya.

Baca juga: Wabah Flu Melonjak di Beijing

Baca juga: Presiden China Xi Jinping Muncul Pertama Kali sejak Isu Kudeta, Kunjungi Pameran di Beijing

"Ketika orang merasa sakit, mereka semua pergi ke rumah sakit, yang dapat dengan mudah merusak sistem perawatan kesehatan," imbuhnya.

Serbuan apotek oleh para warga juga telah menyebabkan kekurangan obat yang signifikan di seluruh negeri.

Banyak warga mencari obat pilek dan flu.

Kit pengujian mandiri untuk Covid-19 juga sulit didapat.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved