Jumat, 24 April 2026

Berita Banda Aceh

Enam Faktor Penyebab Terjadinya Tsunami

Tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 sebetulnya itu merupakan tsunami yang ke-110 kalinya terjadi di Indonesia

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBI/BEDU SAINI
KAPAL di atas rumah di kawasan Lampulo salah satu dampak Tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 

Catatan Yarmen Dinamika (Wartawan Harian Serambi Indonesia)

26 Desember 2022, genap 18 tahun tsunami mahadahsyat meluluh-lantakkan Aceh.

Sepanjang 800 kilometer ‘costal area’ atau kawasan pesisir Aceh terdampak tsunami yang dipicu oleh gempa tektonik berkekuatan 9,3 skala Richter.

Tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 sebetulnya itu merupakan tsunami yang ke-110 kalinya terjadi di Indonesia.

Namun, mayoritas penduduk Aceh saat itu tak tahu bahwa peristiwa air laut merangsek ke daratan itu sebagai peristiwa tsunami.

Aceh sendiri sebelumnya juga pernah diterjang tsunami pada 7.400, 5.400, dan 3.500 tahun silam.

Hal ini diketahui berdasarkan kajian paleotsunami atau tsunami purba di Guha Ek Luntie, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar.

Di gua ini terekam jejak tsunami masa lalu yang totalnya 12 kali.  Jejak terbaru adalah jejak tsunami yang terjadi tahun 2004 atau 18 tahun silam.

Seringnya terjadi tsunami di Aceh pada masa lalu diperkirakan ikut memengaruhi banyaknya nama lokal tsunami di bekas Kerajaan Aceh Darussalam ini.

Di Aceh Singkil misalnya, nama lokal tsunami adalah “gloro”, berasal dari kata gelora.

Di Simeulue yang penduduknya memiliki tiga Bahasa (Devayan, Sigulai, dan Lekon), tsunami dinamakan “smong” oleh penduduk Devayan dan dinamakan “emong” oleh penutur Bahasa Sigulai.

Sementara itu, di kawasan Aceh Besar, tsunami dikenal dengan nama “ie beuna” atau “air keras dari laut”, sebagaimana tercatat di Perpustakaan Tanoh Abe, Aceh Besar.

Di Pidie, tsunami dinamakan “geulumbang raya”, mirip seperti orang Inggris menyebut tsunami, yakni “big wave” atau “long wave”.

Di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, tsunami yang dalam bahasa Jepang berarti “gelombang yang melampaui lantai pelabuhan” justru dinamakan “alon buluek”. Istilah ini justru berasal dari bahasa Tagalog, Filipina.

Nah, merujuk pada kondisi masa lalu, tampaknya tsunami di wilayah Aceh merupakan peristiwa berulang dengan siklus lebih dari satu abad.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved