Opini

Pelihara Diri dan Keluarga dari Api Neraka

Pada hari itu tidaklah bermanfaat harta dan anak, melainkan orang-orang yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat (selamat).

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Abdul Gani Isa, anggota MPU Aceh dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Unmuha Aceh 

Oleh Abdul Gani Isa

Anggota MPU Aceh dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Unmuha Aceh

JUDUL artikel ini sengaja penulis angkat untuk memenuhi usul dan saran pembaca Harian Serambi melalui SMS dan WA kepada penulis dengan tujuan saling memberikan tausiah kepada semua umat Islam khususnya para orang tua, di tengah maraknya berbagai praktik “haram”, seperti mengonsumsi narkoba sampai tindakan brutal dari sekelompok anak muda seperti kasus ditangkapnya sejumlah remaja di Lhokseumawe beberapa saat lalu.

Qu anfusakum wa ahlikum nara adalah penggalan ayat al-Qur’an tercantum dalam surat at-Tahrim ayat 6, yang bermakna “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka".

Kitab Allah ini, pada dasarnya ditujukan kepada orang-orang yang beriman yang dimulai dengan kalimat “Ya ayyuhalladzina amanu. qu anfusakum wa ahlikum nara”.

Dulu Nantang Ingin Masuk Neraka, Kini Nikita Mirzani Minta Pertolongan Allah saat Dipenjara

Kata “Qu”, adalah fi’il amr, menunjukkan “perintah”, dan setiap perintah dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan kepada “wajib”, sesuai kaidah yang dibuat para ulama “al-asl fil amr lil wujub” (asal semua perintah menunjukkan kepada wajib).

Wajib dalam terima hukum Islam dimaknai dengan “berpahala bila dikerjakan dan berdosa bila ditinggalkan”.

Ibn Abbas ra, memberi komentar kalimat “Qu anfusakum wa ahlikum nara” dengan “i’malu bi ta’atillahi wattaqu ma’asillahi wa amaru ahlikum bidzikri yunjikumullahu minannar” (kerjakanlah olehmu ketaatan kepada Allah, dan hindarilah dengan sesungguhnya perbuatan maksiat dan perintahkan keluargamu mengingat-Nya, niscaya Allah melepaskan kamu dari api neraka).

Pendapat yang sama juga diberikan Qatadah, Mujahid (Lihat Ibn Katsir, Juz. IV, 1993: 390).

Praktik Rasulullah saw

Menarik kita simak kembali cara Rasulullah saw menerapkan nilai dan ajaran agama bagi pembinaan keluarga yang berbasis syariah. Di antara banyak konsep atau cara yang beliau lakukan seperti dijelaskan berikut ini:

Pertama, konsep ramah lingkungan. Dimaksudkan dengan ramah lingkungan adalah “bersih lahir dan bersih batin”. Bila kita mengkaji fiqih, setidaknya ada dua macam kotoran/najis, yang pertama disebut dengan “hissiyah” dan yang kedua disebut “maknawiyah”.

Bentuk hissiyah, semua kotoran atau najis yang dapat dilihat dengan pancaindra, sehingga dengan mudah dibersihkan, sedangkan yang maknawiyah, kotoran yang tidak bisa dilihat oleh pancaindra, inilah yang disebut dengan “dosa-dosa” anak Adam.

BREAKING NEWS - Jokowi Tiba di Bandara Malikussaleh, Langsung ke Pabrik Pupuk NPK di PT PIM

Inilah yang diutamakan Rasulullah saw, agar disekat melalui filter yang bersahaja, tidak hanya yang bersifat hissiyah tidak masuk ke rumahnya, tapi justru yang maknawiyah pun secara lebih tegas, walau dosa yang sekecil pun tidak boleh dekat dan masuk ke dalam rumah tangganya.

Beliau pernah mengingatkan umatnya: “kullu lahmin nabata minal haram ta aula binnar” (Setiap daging yang tumbuh dari jenis haram, maka lebih dekat/condong ke neraka).

Kedua, anjuran beliau “addibu awladakum bi tsalatsati khisalin” Didiklah anakmu dengan tiga hal; (1) mampu membaca al-Qur’an. Al-Qur’an kitab suci umat Islam bahkan petunjuk bagi manusia (hudan linnas).

Al-Qur’an mengajak umat melakukan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Isinya hampir sembilan puluh persen berkisar tentang akhlak. Karena tidaklah berlebihan bila Rasulullah saw disebut “khuluquhu al-Qur’an”, akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an.

Jadi Rasulullah adalah diibaratkan seperti Qur’an berjalan. Inilah yang diisyaratkan al-Qur’an dengan kalimat laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah, pada diri Rasulullah sarat dengan nilai contoh teladan yang baik, yakni akhlaqul karimah.

Dan bila umat Islam tidak lagi berpegang teguh dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, merupakan awal berada di tepi jurang kehancuran atau berada dalam kesesatan yang nyata. (2) mencintai Rasulullah saw.

Mencintai Rasulullah dengan sering bershalawat kepadanya, mengikuti contoh amaliah dan disiplin menjalankan perintah Allah seperti shalat dan lainnya. Shalat menjadi salah satu hal penting diterapkannya di dalam keluarga, seperti sabdanya: Muru as-shabiya bis shalah idza balagha sab’a sinin, fa idza balagha ‘asyra sinin fadhribuhu ‘alaiha (Suruhlah anak-anakmu mendirikan shalat bila berumur tujuh tahun, bila sudah beranjak sepuluh tahun (tidak mau) maka berilah sanksi kepadanya). (HR. Abu Daud, dan Turmidzi).

Konsep seperti digagas Rasulullah dinilai sangat penting, terlebih dalam era modern, di mana dampak dari pengaruh lingkungan sangat tidak mudah diawasi, namun bila si anak sudah disiplin dengan shalat, insya Allah dengan sendirinya bisa mengawal dirinya masing-masing sekalipun saat berada di luar rumah.

Ketiga, mencintai dan mengenal keluarga Rasulullah saw. Dalam kaitan ini orang tua dianjurkan membawa ke rumah bacaan-bacaan yang bernilai agama, seumpama kisah-kisah keluarga Rasulullah atau lagu, CD yang bernafaskan Islami.

Bahkan yang penting juga mengontrol, mengawasi alat komunikasi yang digunakan termasuk komputer, internet/facebook dan HP.

Ini bisa dilakukan baik melalui contoh dari orang tua, pesan moralitas, nasihat yang santun dan bersifat persuasif dan cara-cara lainnya. Karena menurut Rasulullah, setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi (HR. Bukhari Muslim).


Ketiga, Rasulullah juga menganjurkan: akrimu awladakum wa ahsinu adabahum (Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka). Memuliakan si anak bukanlah berarti memenuhi semua permintaannya atau juga bukanlah memanjakan secara berlebihan.

Bila cara seperti ini yang dipraktikkan, akhirnya bukan si anak yang merasa segan dan hormat kepada orang tuanya, tetapi justru orang tuanya yang merasa takut kepada anaknya. Inilah yang diingatkan Imam Syafi’i ra, Laitsal yatimu alladzi qad mata waliduhu walinnal yatima yatimul ilmi wal adabi (Tidaklah seorang anak itu dinamakan yatim karena meninggal kedua orang tuanya, tapi anak itu dinamakan yatim karena miskin ilmu dan akhlaknya”.

Partisipasi guru

Sekalipun keberhasilan anak dalam sebuah keluarga tidak sepenuhnya di tangan orang tua, karena dalam sistem pendidikan modern juga dikenal adanya keterlibatan guru di sekolah dan masyarakat di luar lembaga rumah tangga.

Namun bila merujuk kepada teori dan konsep pendidikan Rasulullah dan perintah Allah dalam al-Qur’an seperti disebutkan, tanggung jawab utama tetap berada di pihak keluarga dengan dukungan para pendidik di sekolah dan masyarakat.

Karena al-Qur’an dengan tegas mengingatkan orang tua agar tidak menjerumuskan anaknya ke dalam neraka, yang kayu apinya terdiri dari manusia dan batu. Di mana siksaan api neraka lebih dahsyat dari api di dunia sekarang ini.

Pada hari itu tidaklah bermanfaat harta dan anak, melainkan orang-orang yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat (selamat).

Tidak ada pilihan lain, bagi orang tua selain memperkuat ketahanan keluarga, dari keluarga yang baik Insha Allah lahir anak-anak yang shalih, quurata a’yun, bukan sebaliknya lahir generasi ‘teler’ dan terlibat kriminalitas yang berhadapan dengan masalah hukum yang merendahkan nama baik kedua orang tuanya. Wallahu a’lamu bish shawab.

BKPRMI Aceh Instruksikan Pemuda Remaja Masjid dan TPA Kumpulkan Donasi untuk Musibah Gempa Turki

VIDEO - Keuchik Gunong Nagan Hilang Tertimbun Longsor Tebing

VIDEO Tuanku Muhammad Bersama Warga Gelar Doa untuk Korban Gempa Turki-Suriah

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved