Rabu, 8 April 2026

Kupi Beungoh

Hukum Childfree dalam Tinjauan Islam

Gerakan feminisme merupakan salah satu paham yang telah dikenal dari luar, yang menganggap perempuan bukan objek untuk menghasilkan banyak anak.

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Muhammad Syarif, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh 

Oleh: Muhammad Syarif 

AKHIR-akhir ini childfree kembali menjadi sebuah isu yang hangat diperbincangkan dikalangan masyarakat Indonesia khususnya pasangan muda saat ini, setelah diungkapkan secara terbuka oleh salah seorang influencer tentang pilihannya untuk tidak memiliki anak.

Childfree merupakan sebuah kesepakatan yang dilakukan oleh pasangan suami isteri untuk tidak memiliki anak selama masa pernikahannya.

Padahal selama ini dalam kontruksi budaya masyarakat Indonesia, anak dianggap sebagai satu anugrah yang berfungsi sebagai perekat keharmonisan sebuah keluarga sehingga kehadirannya senantiasa dinanti-nantikan oleh pasangan yang sudah menikah bahkan keluarga besarnya.

Dalam sebuah hubungan pernikahan, sepasang kekasih (suami istri) perlu memikirkan untuk masa depannya, termasuk dalam hal memiliki keturunan. Sebab kehadiran anak dipandang sebagai tujuan dalam pernikahan, anak menjadi harapan masa depan guna meneruskan keinginan orang tuanya.

Selain itu, kehadiran anak juga dapat memberikan suasana baru dalam pernikahannya. Hal ini dikarenakan, hadirnya anak dalam kehidupan pernikahan menjadikan seseorang mempunyai rasa tanggung jawab baru untuk sang anak.

Istilah childfree ini mulai berkembang pada abad akhir 20 Masehi, bahkan sudah banyak orang yang melakukan tren ini terutama di negara-negara Barat.

Para pasangan yang memutuskan childfree biasanya menganggap bahwa memiliki anak atau tidak adalah hak pribadi dan hak asasi manusia yang tidak bisa dipaksakan oleh siapapun. Alasan yang paling sering disampaikan oleh mereka yang memutuskan untuk menjadi childfree adalah untuk menekan overpopulasi.

Gitasav Pilih Childfree, Begini Jawaban Santai Paul Partohap Usai Dituduh Mandul dan Lemah Syahwat

Selain itu, ada juga argumentasi yang menyebutkan bahwa trend childfree ini hadir seiring dengan kampanye politic of body atau politik tubuh yang beranggapan bahwa tubuh perempuan adalah miliknya sehingga tidak ada satupun orang yang berhak memaksakan sesuatu atasnya termasuk mengandung dan memiliki anak.

Secara umum, alasan yang melatarbelakangi komunitas yang mengaku diri sebagai childfree commonity, di antaranya karena kekhawatiran genetik, faktor finansial, mental yang tidak siap menjadi seorang ibu, bahkan alasan lingkungan.

Gerakan feminisme merupakan salah satu paham yang telah dikenal dari luar, yang menganggap perempuan bukan objek untuk menghasilkan banyak anak.

Anggapan banyak anak banyak rezeki tidak selaras dengan kesehatan reproduksi dari seluruh wanita, karena tidak semua wanita memiliki rahim yang kuat untuk melahirkan seorang anak.

Hubungan childfree dengan gerakan feminisme adalah tentang memberikan kebebasan pada wanita untuk memilih apakah dirinya mau untuk memiliki anak atau tidak. Sehingga hal tersebut dapat disepakati oleh pasangan suami-istri yang mendukung prinsip childfree.

Sentil Pasutri Penganut Childfree, Wapres: Kalau tak Mau Punya Anak, Siapa yang Lanjutkan Dunia Ini?

Ada kondisi tertentu yang menyebabkan pasangan menikah tidak juga memiliki anak meskipun tidak dalam kondisi menunda atau mencegah kehamilan, yang dikenal dengan involuntary childless. Kondisi involuntary childless berbeda dengan voluntary childless yang memang secara sadar dan sengaja tidak ingin memiliki anak.

Sebagian masyarakat yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, menyebutnya dengan istilah childfree. Namun, pernyataan tersebut menimbulkan prokontra. Karena, mereka yang memutuskan untuk childfree ada pada usia subur.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved