Gara-gara Main Film Horor, Acha Septriasa Harus ke Psikolog
“Jadi sebenarnya bentuk pendalaman karakter ya riset. Jadi pas di Sydney, Australia kalau kita mau ke dokter khusus harus ada rekomendasi dari dokter
“Jadi sebenarnya bentuk pendalaman karakter ya riset. Jadi pas di Sydney, Australia kalau kita mau ke dokter khusus harus ada rekomendasi dari dokter umum. Sebenarnya tidak direkomendasikan,” kata Acha saat ditemui di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (1/3/2023).
SERAMBINEWS.COM - Acha Septriasa merupakan salah satu artis peran kenamaan Indonesia.
Ia telah membintangi sejumlah film seperti: My Heart, Test Pack, Coklat Strawberi, dan 99 Cahaya di Langit Eropa.
Keluar dari peran yang biasa dimainkannya, Acha kini menjadi psikolog dalam dalam horor berjudul: Aku Tahu Kapan Kamu Mati: Suicide Village.
Film horor ini merupakan karya sutradara Anggy Umbara.
Dalam film ini, Acha memerankan tokoh sebagai seorang psikolog yang merupakan sahabat dari Siena yang diperankan Natasha Wilona.
Untuk mendalami perannya itu, Acha Septriasa pun total dengan mendatangi psikolog menjalani riset di Sydney, Australia.
“Jadi sebenarnya bentuk pendalaman karakter ya riset. Jadi pas di Sydney, Australia kalau kita mau ke dokter khusus harus ada rekomendasi dari dokter umum. Sebenarnya tidak direkomendasikan,” kata Acha saat ditemui di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (1/3/2023).
Meski tak memberitahukan untuk kebutuhan film, Acha akhirnya meminta dirinya dites mengenai kesehatan mental.
Baca juga: Acha Septriasa Jadi Istri Peselingkuh di Film Suami yang Lain, Skenario Oleh Penulis Layanan Putus
“Aku bilang mau tahu aja, saya perlu apa enggak konsultasi dengan pakar tentang masalah mental,” ungkap Acha.
Acha pun dibuat kaget saat mengetahui hasil tes tersebut bahwa ia memerlukan psikolog.
“Cuma dokter suruh aku jawab 10 pertanyaan, enggak mungkin saya jawab bohong, jadi saya jawab jujur. Terus saat saya kasih jawaban, dari hasil skor jawaban saya sebetulnya saya membutuhkan buat datang mendalami ke psikologi,” tutur Acha.
“Ya aku enggak tahu ada diposisi membutuhkan psikolog,” tambah Acha.
Acha menduga bahwa ia membutuhkan psikolog setelah mengalami keguguran anak keduanya beberapa waktu lalu.
“Mungkin kemarin saya merasa kehilangan dan keguguran anak kedua diusia kehamilan muda. Mungkin itu yang membuat saya harus mengenali diri saya lagi,” ucap Acha.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/acha-septriasa-hadir-dalam-sebuah-acara-di-kawasan-tebet-barat-jakarta-selatan.jpg)