Ramadhan Mubarak
Keutamaan Sahur Puasa Ramadhan
Sahur merupakan anjuran bagi orang yang berpuasa dimana waktunya mulai masuk pertengahan malam sampai dengan terbit fajar.
Tgk Alizar Usman, (Dewan Pembina DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah/ISAD)
Sahur merupakan anjuran bagi orang yang berpuasa dimana waktunya mulai masuk pertengahan malam sampai dengan terbit fajar. Menurut al-Kaasaaniy al-Hanafi, sahur dilakukan sesudah pertengahan malam. Ini karena sahur berasal dari akar kata “sahar”, sedangkan waktu sahar adalah sesudah pertengahan malam. (Badai’ al-Shanai’fi tartib al-Syarai’ : II/69).
Sesuai dengan ini, Abubakar Syathaa mengatakan, masuk waktu sahur dengan masuk pertengahan malam. Karena itu, makan sebelumnya bukanlah sahur dan tidak mendapat sunnah karenanya. (I’anah al-Thalibin : II/277). Namun demikian waktu utama bersahur adalah di akhir malam.
Hal ini karena makan sahur di akhir malam lebih meringankan orang berpuasa menahan lapar dan haus pada waktu siangnya, juga sesuai riwayat Zaid bin Tsabit berbunyi:
“Kami makan sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami mendirikan shalat. Aku (perawi) bertanya : “berapa ukuran antara keduanya”. Zaid bin Tsabit menjawab : “ukuran membaca lima puluh ayat” (H.R. Muslim)
Dalam hadits lain, Nabi SAW bersabda: “Segerakanlah berbuka dan akhirkan bersahur” (H.R. al-Thabraniy).
Selain mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan bisa menguatkan orang berpuasa, sahur juga mempunyai fadhilah lain, antara lain:
1. Pembeda bagi orang Muslim dan ahlul kitab. Walaupun ahlul kitab juga melaksanakan puasa, tetapi mereka tidak makan sahur sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Pembeda antara puasa kita dan puasa ahlul kitab adalah makan sahur” (H.R. Muslim).
2. Allah dan malaikat-Nya bersalawat kepada yang bersahur. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur”(H.R. al-Thabraniy).
3. Rasulullah SAW pernah berdoa turun rahmat kepada orang bersahur dalam sabdanya:
“Sebaik-baik hidangan sahur adalah kurma. Rasulullah SAW lalu berdoa, “Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya bagi mereka yang bersahur”, (H.R. al-Thabaraniy)
4. Tidak dihisab di hari akhirat kelak. Nabi SAW bersabda :
“Ada tiga orang yang insya Allah tidak akan dihisab yang mereka makan apabila makanan itu halal, yaitu orang yang berpuasa (ketika berbuka), yang bersahur dan yang sedang berjuang di jalan Allah.” (H.R. al-Bazaar dan al-Thabaraniy).
5. Sahur merupakan makanan berkah. Nabi SAW bersabda:
“Bersahurlah, karena pada sahur itu berkah.” (H.R. Bukhari dan Muslim )
Ibnu Hajar al-Asqalaniy menyebut lebih banyak berkah sahur. Berkah sahur didapati dari banyak aspek:
1. mengikuti sunnah dan menyalahi ahlul kitab
2. kuat dan menambah motivasi dalam ibadah
3. terhindar dari keburukan akhlaq karena pengaruh lapar
4. penyebab bersadaqah kepada peminta-minta atau makan bersamanya
5. penyebab berzikir dan berdoa pada waktu ijabah doa
6. berkesempatan niat puasa bagi yang sering lalai niatnya (Fathul Barri : IV/140)
Menurut Daqiq al-‘Aid, berkah sahur ini dimungkinkan kembali kepada perkara ukhrawi seperti menegakkan sunnah yang mendapat pahala di akhirat dan dimungkinkan juga kembali kepada duniawi seperti kuat tubuh pada orang puasa serta ringan dalam berpuasa dan tidak mendatangkan mudharat. (Fathul Barri : IV/140).
Wallahua’lam bisshawab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tgk-alizar-usman-mhum-menjadi-narasumber-dalam-program-bincang-serambi-ramadhan.jpg)