Minggu, 19 April 2026

Jurnalisme Warga

Ramadhan, Momen Meningkatkan Produktivitas dan Melenyapkan Rasa Malas

Paling tidak, kalaupun rutinitas tetap berlanjut di Ramadhan, secara ritmis akan lebih lambat dan singkat, terutama pagi hari. Saya perhatikan dari ta

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Syarifah Aini, Pegiat Forum Lingkar Pena Aceh dan Tenaga Pengajar di Pesantren Baitul Arqam Sibreh, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar 

Oleh: Syarifah Aini

Pegiat Forum Lingkar Pena Aceh dan Tenaga Pengajar di Pesantren Baitul Arqam Sibreh, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar

RAMADHAN dinanti kehadirannya setiap tahun oleh setiap muslim dan muslimat. Bulan penuh rahmat, berkah, ampunan, dan bisa jadi masa libur panjang di beberapa instansi pendidikan tertentu.

Paling tidak, kalaupun rutinitas tetap berlanjut di Ramadhan, secara ritmis akan lebih lambat dan singkat, terutama pagi hari.

Saya perhatikan dari tahun ke tahun, dari satu pemukiman ke pemukiman lain yang sempat saya tinggali beberapa tahun di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar, termasuk di kampung saya, Aceh Singkil, kehidupan pascasubuh di Ramadhan seperti terhenti secara otomatis.

Geliat kehidupan benar-benar dimulai kembali pukul 8 atau 9 pagi, tetapi sebelum itu kota terlihat mati.

Saya jadi teringat salah satu kisah yang menceritakan suasana pagi di Kairo bakda subuh di musim panas dalam novel Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El-Shirazy bahwa kebiasaan itu disindir para imam.

Imam tersebut mengungkapkan, “Seandainya Israel menggempur Mesir pukul setengah tujuh pagi, maka mereka tidak akan mendapatkan perlawanan apa-apa, mereka akan dengan mudah memasuki Kota Kairo dan membunuh penduduknya satu per satu, karena pada saat itu rakyat Mesir terlelap dalam tidurnya dan baru akan benar-benar bangun pukul 9.”

Sindiran ini kemudian menjadi relevan untuk Aceh di kala Ramadhan.

Ramadhan bisa disebut sebagai momen dianjurkannya tidur selepas shalat Subuh, kalau tidak dikatakan diperbolehkan. Mungkin menggunakan kata ‘bisa dimaklumi’ agak sedikit menurunkan kadar ekstrem bahwa tidur selepas shalat Subuh di kala Ramadhan disunahkan dalam Islam.

Apakah landasan hadis yang mengatakan bahwa orang yang berpuasa itu, tidurnya pun menjadi ibadah bisa melanggengkan kebiasaan tidur selepas subuh bahkan hingga pukul 10 atau 12 siang?

VIDEO Momen Ramadhan di Universitas Harvard AS, Sebulan Penuh Buka Puasa dan Sahur Gratis

Tadi saya sudah menyebutkan ‘bisa dimaklumi’ barangkali buat beberapa individu yang memang mengisi malam Ramadhan-nya dengan iktikaf, tilawah, Tarawih, Tahajud, dan tadarus Al-Qur’an sepanjang malam Ramadhan.

Namun, bagaimana dengan orang yang malam-malam Ramadhan amalannya tidak lebih baik daripada malam lainnya? Hanya ada tambahan Tarawih yang selesai sekitar pukul 21.30 WIB, padahal di malam lain dia juga biasa begadang hingga tengah malam.

Apakah kebiasaan tidur dan tidak melakukan apa pun setelah shalat Subuh juga adalah hal wajar dikerjakan sepanjang Ramadhan?

Saya kira ini hanya perihal kebiasaan dan pola pikir. Jika kita mengatur pikiran bahwa kita perlu tidur lebih cepat agar esok pagi bisa lekas berangkat ke kantor/ke sekolah atau sudah memiliki janji pukul 6 atau 7 pagi, tentunya kita akan ‘berusaha’ melakukannya; yaitu tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi, lalu tidak tidur lagi karena harus bersiap pergi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved