Ramadhan Mubarak
Puasa: Latihan untuk Menahan Diri
Seseorang apabila melakukan puasa dengan sungguh-sungguh maka dia diharapkan akan menjadi orang yang tangguh, dalam arti sanggup menahan dan mengendal
Prof Dr Al Yasa’ Abubakar, MA, (Anggota Dewan Pengawas Syariah Bank Aceh)
SEPERTI sama diketahui, arti puasa (shawm dalam Bahasa Arab) secara kebahasaan adalah imsak yaitu menahan diri (berpantang), tidak mau melakukan sesuatu. Memang ini jugalah makna berpuasa secara istilahi. Orang yang berpuasa diperintahkan menahan diri (berpantang) dari tiga hal, makan, minum dan melakukan hubungan suami istri pada siang hari, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Kalau salah satu dari tiga pantangan di atas dilanggar maka puasa tersebut dinyatakan batal (tidak sah).
Para ulama sampai pada kesimpulan bahwa perintah berpantang di atas (berpuasa) diberikan Allah sebagai latihan kepada umat Islam untuk melahirkan kesadaran dan menumbuhkan kekuatan untuk meningkatkan upaya pensucian diri dalam upaya meningkatkan rasa peduli kepada kelompok miskin dan terpinggirkan yang tidak mampu memenuhi keperluan hidup terutama pangan secara wajar, sehingga sering bahkan mungkin selalu dalam keadaan lapar.
Seseorang apabila melakukan puasa dengan sungguh-sungguh maka dia diharapkan akan menjadi orang yang tangguh, dalam arti sanggup menahan dan mengendalikan diri dari berbagai godaan nafsu negatif dan sebaliknya akan terdorong untuk berbuat baik dan membantu meringakan beban penderitaan orang lain dengan tulus dan tanpa pamrih, karena adanya iman dan kepatuhan yang penuh kepada Allah Swt.
Tiga larangan di atas dapat dianggap sebagai pantangan utama, yang tidak boleh tidak mesti dipatuhi oleh orang yang berpuasa agar puasanya dianggap sah. Di luar tiga pantangan ini masih ada beberapa pantangan lain yang tidak membatalkan puasa, tetapi mesti dipatuhi agar puasa lebih berkualitas, bahkan memperoleh kualitas paling utama yaitu derajat takwa. Larangan dan pantangan lainnya disebutkan di dalam hadis, salah sebuah daripadanya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum saja. Akan tetapi puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagw (sia-sia) dan rafats (cabul, porno). Apabila ada orang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, maka katakan, “Saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa”.” (Riwayat Ibnu Majah dan Hakim)
Hadis ini menyatakan bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi mesti lebih dari itu, mesti mampu menahan diri dari perkataan sia-sia yang tidak memberi manfaat, apalagi perkataan kotor yang merangsang nafsu rendah. Dalam hubungan dengan menahan diri ini, ada hadis lain yang menurut penulis perlu juga direnungkan, yang bermakna lebih kurang, “Kami merupakan kaum yang tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti sebelum kenyang”. Dalam hadis lain Nabi bersabda, “Cukuplah bagi Anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalaupun ingin berbuat lebih, maka cukup sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga lagi untuk bernafas”.
Amalan berpuasa dan hadis-hadis di atas mengajari kita bahwa seorang Muslim yang baik (moderat) akan selalu sadar dan karena itu akan selalu berusaha menahan diri, untuk tidak akan melakukan sesuatu yang sia-sia (menghabiskan waktu tanpa hasil), tidak akan mengucapkan kata-kata kotor dan juga tidak akan menyantap makanan dan minuman sampai kekenyangan, walaupun sedang dalam keadaan sangat lapar dan haus. Bagi orang yang berpuasa, yang selama seharian sudah menahan diri dari makan dan minum, tentu tidak mudah menghentikan makan sebelum kenyang, lebih-lebih lagi ketika makanan tersedia dengan cukup.
Saya rasa semua kita tahu, di tengah masyarakat ada orang-orang yang berpuasa hanya sekadar menunda (memindahkan) jadwal makan dari siang ke malam hari, tanpa ada usaha untuk mengurangi jumlah dan jenis makanan yang akan disantap. Bahkan ada di antara umat Islam yang menjadikan puasa sebagai cara tersendiri untuk menikmati berbagai jenis makanan, menunjukkan kemewahan dan bahkan kedudukan sosial yang berbeda, yang dapat menghilangkan ruh dan tujuan berpuasa yaitu merasakan penderitaan orang yang berada pada kelas “gembel”. Puasa bagi mereka hanyalah sebuah ritual formal yang tidak akan berpengaruh kepada kemewahan dan pengekangan selera makan sehari-hari.
Penulis sadar menjalankan puasa sehingga dapat menggapai maksud dan tujuan seperti diuraikan di atas tidaklah mudah, karena mesti mengekang nafsu. Takwa sebagai tujuan puasa hanya dapat dicapai dengan cara mengendalikan nafsu secara sadar dan sungguh-sungguh karena patuh dan cinta kepada Allah. Ya Allah jadikanlah puasa yang kami jalankan bukan sekadar memperoleh rasa lapar dan dahaga, tetapi dapat membuahkan takwa. Ya Allah, jadikanlah puasa menjadikan kami mampu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu ketika kami sedang sangat menginginkannya, karena kami sadar bahwa Engkau ya Allah sedang menguji keimanan dan ketahanan kami. Wallahu a’lam bi-shawab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Al-Yasa-Abubakar-MA-Guru-Besar-UIN-Ar-Raniry.jpg)