Ramadhan Mubarak

Mari Ber-I’tikaf

Apakah pantas orang yang mengaku mencintai Rasulullah, Rasullah tidak pernah meninggalkan i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan sedangkan dia eng

Editor: mufti
IST
Dr Muhammad Yasir Yusuf, MA, (Anggota Pengawas Syariah Bank Aceh) 

Dr Muhammad Yasir Yusuf, MA, (Anggota Pengawas Syariah Bank Aceh)

I’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Penggunaan kata i’tikaf di dalam Alquran terdapat pada firman Allah, “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa” (QS 2:187).

Dalam Islam, seseorang bisa beri’tikaf di masjid kapan saja. Namun dalam konteks bulan Ramadhan, Rasulullah SAW beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir. Sehingga kalau diperhatikan di antara amal-amal utama dan menjadi unggulan Rasulullah di bulan Ramadhan adalah i’tikaf. Karena i’tikaf merupakan sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi Muslim dalam mengevaluasi apa yang sudah dilakukan setahun lepas dan merencanakan serta meningkatkan keberagamaan untuk tahun depan.

Kebanyakan ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Hal ini berdasarkan penuturan Aisyah bahwa Nabi SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh akhir pada bulan Ramadhan hingga wafat. Kemudian (diteruskan sunnah) i’tikaf selepasnya oleh para isterinya. Bahkan pada tahun wafatnya, Rasulullah beri’tikaf selama 20 hari, hal ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata: “Nabi SAW selalu beri’tikaf pada tiap-tiap Ramadhan sepuluh hari (akhirnya). Manakala pada tahun baginda diwafatkan, baginda beri’tikaf dua puluh hari”. (Al-Bukhari).

Adapun tujuan i’tikaf disyariatkan adalah untuk mensucikan jiwa dengan berkonsentrasi semaksimal mungkin dalam kekusyukan beribadah dan bertaqarrub kepada Allah pada waktu-waktu tertentu. Adapun tujuan khusus beri’tikaf di sepuluh akhir Ramadhan adalah:

Pertama, menjauhkan diri daripada kesibukan dunia dan rutinitas, demi mencari kejernihan jiwa dan mengumpulkan kekuatan sebagai bekal dalam menghadapi perjalanan hidup pasca Ramadhan. Kita telah bekerja selama 11 bulan, tiba masanya mengisi perbekalan dan meningkatkan stamina ruhaniah dalam menghadapi berbagai problematika hidup.

Kedua, penggalan terakhir Ramadhan adalah pembebasan dari api neraka, maka ini peluang utama untuk memastikan seorang Muslim tidak lalai untuk menggapai cita dan impian masuk syurga. Ini menjadi tempat menumpahkan air mata penyesalan terhadap kekhilafan yang telah dilakukan guna meraih ampunan dari Allah SWT. Kalaulah ini Ramadhan terakhir bagi kita, maka jangan sia-saikan, karena tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya.

Ketiga, i’tikaf menjadi sarana utama bagi mendapatkan Lailatul Qadar, hal ini sebagaimana disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

Untuk itu, marilah beri’tikaf pada Ramadhan tahun ini. Sebab sangat sedikit kaum muslimin yang mau beri’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan berbanding dengan jumlah kaum muslimin yang menghabiskan malam-malamnya dengan kesibukan berbelanja dan menyiapkan kebutuhan hari raya.  Itulah sebabnya Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sungguh heran sekali situasi umat Islam. Mereka sanggup tidak beri’tikaf (sepuluh akhir Ramadhan) sedangkan Nabi SAW tidak pernah meninggalkan i’tikaf sejak baginda datang ke Madinah al-Munawwarah hingga Allah mewafatkannya (Fathul Bari, 285/4).

Apakah pantas orang yang mengaku mencintai Rasulullah, Rasullah tidak pernah meninggalkan i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan sedangkan dia enggan melakukannya. Apakah kita yakin dosa-dosa kita sudah diampuni, di saat Rasullah serius meminta ampunan dalam do’a-do’a ketika beri’tikaf, kita tertidur dengan nyenyak di ranjang yang empuk. Ya Allah bantu kami untuk kuat melaksanakan i’tikaf dan muliakan kami dengan malam lailatul qadar. Wallahu’alam.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved