Jumat, 29 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Kiprah Saudagar Dalam Aceh Bisnis Forum

Para pelaku bisnis baik yang sudah mapan maupun yang baru menapaki dunia usaha sebagian besar memiliki tekad serta kesadaran tinggi untuk membangun Ac

Tayang:
Editor: mufti
hand over dokumen pribadi
Rektor UNIKI Bireuen, Prof Dr Apridar SE MSi 

Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si., Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala dan Sekretaris Dewan Pakar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Aceh

Aceh Bisnis Forum (ABF) merupakan sebuah lembaga bisnis yang digagas oleh Owner TransContinent, Ismail Rasyid dan rekan-rekan pengusaha, yang umumnya memiliki semangat serta jiwa kewirausahaan (entrepreneurship).

Para pelaku bisnis baik yang sudah mapan maupun yang baru menapaki dunia usaha sebagian besar memiliki tekad serta kesadaran tinggi untuk membangun Aceh agar lebih bermartabat.

Dalam waktu singkat, hanya tiga hari, para inisiator tersebut telah  mampu mengumpulkan ratusan pengusaha untuk menyatukan diri dalam komunitas peduli usaha. Mereka bertemu untuk pertama kalinya di Krueng Raya, Aceh Besar, di Basecamp PT TransContinent, milik Ismail Rasyid.

Penggagas utama ABF yang juga Chief Executive Officer (CEO) TransContinent itu merupakan pemilik perusahaan multimoda transpor yang didirikan sejak 2004. Perusahaan ini menangani pengiriman, pergudangan, jual beli, manajemen pelabuhan, dan logistik terhadap alat-alat berat dan strategis lainnya.

Perusahaannya memiliki jaringan usaha hingga ke berbagai belahan dunia. Bidang usaha yang beliau tangani begitu kompleks. Namun, tidak mengurangi semangatnya untuk berbuat yang terbaik terhadap daerah kelahirannya, Aceh.

Semangat juang yang begitu tinggi, menjadikan Ismail Rasyid disegani para kompetitor dan sangat disenangi mitranya.

Perusahaan yang beliau pimpin memiliki kantor utama di DKI Jakarta, Perth (Australia), Angeles City Provinsi Pampanga (Filipina), serta memiliki 21 cabang di 14 provinsi di Indonesia (Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banjarmasin Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kaliman Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Yogyakarta, dan berbagai lokasi yang perlu dibangun pelabuhan strategis).

Dengan begitu banyak kantor cabang yang dimilikinya, menjadikan kiprah perusahaan tersebut sangat diperhitungkan keberadaannya di Indonesia.

Untuk Aceh sendiri sejak tahun 2020 telah dimulai oleh anak perusahan PT Royal Andalas Energi yang juga utamanya bergerak di bidang bongkar muat dengan kantor di Seutui, Banda Aceh. Pembangunan TransContinent di seputaran Pelabuhan Kreung Raya, Aceh Besar, di atas perbukitan dengan luas lahan 15 hektare dengan ‘view’   Selat Malaka yang indah, akan dijadikan sebagai kantor alternatif untuk mengontrol jalannya seluruh usaha yang telah merambah dunia tersebut.

Selain itu, barang kiriman melalui pabean Banda Aceh direncanakan akan distok pada areal Perkantoran TransContinent Banda Aceh.

Dengan menggunakan sistem terintegrasi yang berbasis teknologi digital pergerakan usaha terprogram dan dapat dikontrol dari mana saja, termasuk di luar negeri dengan catatan posisi pengawas terkoneksi dengan internet.

Secara umum, hampir semua instruksi dapat dilakukan menggunakan alat komunikasi atau gadget yang memenuhi spesikasi untuk itu.

Armada perusahaan yang jumlahnya ratusan unit dapat dikontrol dan diketahui di mana serta sedang melaksanakan aktivitas apa setiap detiknya. Sistem yang tertanam mampu membaca aktivitas apa pun, seperti  halnya sedang mengisi bahan bakar dan atau bahkan menyedot bahan bakar dari tangki yang dilakukan oleh pengendara nakal dapat terbaca di  pusat kontrol.

Dengan menggunakan teknologi Artificial Intelligency (AI) yang memang telah tersemat dalam sistem kerja perusahaan raksasa tersebut, menjadikan CEO-nya sangat mudah melakukan perintah kerja, koordinasi, serta pengawasan semua sel aktivitas perusahaan tersebut.

Kerja cerdas yang dilakukan putra Aceh lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala tahun 1992 ini membuat usaha yang dirintisnya berkembang dengan sangat luar biasa.

Nah, dalam pertemuan ABF tiga hari lalu, Ismail menceritakan dengan gamblang pengalaman serta berbagai tip dan trik kepada para peserta dalam mendirikan usaha.

Menurutnya, kunci utama untuk membangun usaha adalah bagaimana membangun “trust” atau kepercayaan. Seseorang yang memiliki modal kepercayaan lebih penting dibandingkan dengan orang yang memiliki modal.

Hal ini telah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw  dalam membangun usahanya sejak usia muda di Makkah. Dengan kejujuran serta komitmennya, Muhammad tidak pernah mengecewakan pelanggan dan tidak membeda-bedakan apakah itu elite bangsawan, orang biasa, atau budak sekalipun. Kinerja yang beliau berikan mendapat apresiasi luar biasa dari berbagai kalangan. Beliau dengan jujur memaparkan kelebihan maupun kekurangan suatu barang kepada pelanggan.

Beliau juga tidak pernah melakukan perang harga dengan sesama pedangang sehingga dinobatkan sebagai “Al-Amin” yaitu orang yang terpercaya.

Keberhasilan seseorang dalam kehidupan dunia nyata sangat ditentukan oleh proses yang telah dilaluinya. Seperti halnya terhadap orang yang semasa kecil dalam mengikuti pendidikan selalu berusaha melaksanakan proses/semua tugas yang diberikan guru dengan baik dan jujur secara optimal. Tidak pernah terlintas pada dirinya untuk mencontek, apalagi bolos ketika pelajaran yang dianggap sulit.

Berbagai kewajiban selalu dilaksanakan dengan baik, tanpa mengeluh. Ketekunan yang dilakoni di bangku sekolah dahulu akan tercermin dalam kinerjanya menyelesaikan setiap persoalan di dunia kerja.

Aceh yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dengan posisi yang sangat strategis—sebagai jalur perdagangan dunia—seharusnya mampu membangun perekonomian lebih baik lagi.  Kemajuan dan keandalan para pedagang semasa Kerajaan Samudra Pasai hendaknya dapat dilanjutkan kembali di era digitalisasi sekarang ini. Peluang transaksi elektronik yang sangat menjanjikan sekarang ini hendaknya dijadikan momentum kebangkitan ekonomi kaum milenial.

Pendidikan serta pelatihan yang dapat melahirkan entrepreneur harus menjadi prioritas dalam peta jalan pendidikan Aceh. Berbagai kebijakan semestinya mendukung untuk lahir dan berkembang insan pedagang jujur dan mumpuni di Bumi Serambi Makkah.

Perdagangan yang dipraktikkan Rasulullah saw mesti kita gelorakan dalam membangun perekonomian. Harapan kita semua, dengan semakin banyaknya lahir entrepreneur milenial jujur di Aceh dapat membuat gemerlapnya perekonomian Aceh muncul kembali dengan keberkahan yang nyata.

ABF yang peresmiannya akan dilakukan di Jakarta dalam waktu tak lama lagi, akan coba menggandeng beberapa pimpinan daerah sebagai penasihat sekaligus  pemegang otoritas kebijakan daerah sangat berkepentingan agar daerahnya mampu digerakkan para pengusaha. Komunitas pengusaha ini dirancang sebagai pemberi solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi anggotanya. Apabila diperlukan, tambahan modal misalnya untuk pengembagan usaha juga akan diupayakan secara bertahap oleh komunitas tersebut.

Dengan jaringan yang dimiliki anggota ABF yang begitu luas, diharapkan lembaga independen ini akan mampu membangkitkan kembali kejayaan perdagangan Kesultanan Samudera Pasai secara bertahap.

ABF dibentuk bukan untuk membebani anggaran pemerintah. Komunitas kaum saudagar ini justru digagas lebih kepada pembina para pengusaha pemula khususnya serta peningkatan jejaring usaha anggota senior.

Keanggotaan ABF terbuka bagi semua pihak yang memang ingin membangun usaha atau membangun peradaban Aceh ke depan yang lebih baik.

Semoga kehadiran ABF dapat dijadikan sebagai model pemberdayaan para entrepreneur yang inovatif. Juga dapat dijadikan contoh bagi daerah lain dalam membangun komunitas saudagar yang lebih bermartabat.

Para peserta akan terseleksi secara alamiah keberadaanya dalam forum mulia ini dan sumbangsihnya tentu akan menjadikan nilai tambah terhadap kesejahteraan dunia serta keberhasilan dalam mengumpul poin meraih tiket untuk memasuki  surga “Jannah” yang dipenuhi dengan berbagai kenikmatan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved