Berita Pidie
Melihat Home Industri Kerupuk Kulit Secara Manual di Pidie Milik Bang Don
Usaha home industri kerupuk kulit telah ia geluti sejak tahun 1990 atau persisnya sejak 33 tahun lalu saat usia masih remaja
Penulis: Idris Ismail | Editor: Muhammad Hadi
Laporan Idris Ismail I Pidie
SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Tangan Zulkifli (43) atau lebih kerap disapa Bang Don bergerak sangat cepat dan cekatan dalam mencincang kulit kerbau dan sapi yang telah di bakar disalah satu sudut Gampong Dayah Tengoh, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Minggu (7/5/2023).
Usaha home industri itu telah ia geluti sejak tahun 1990 atau persisnya sejak 33 tahun lalu saat usia masih remaja.
Hingga kini, ayah dua anak itu tetap eksis menjalani usaha kerupuk kulit dengan menerapkan sistem secara manual, yaitu dengan memotong atau mencincang kulit jenis sapi dan kerbau yang telah dibakar dengan menggunakan pisau besar dan alas papan.
"Saban hari, saya mampu memproduksi kerupuk kulit siap jual rata-rata mulai 50 Kg hingga 70 Kg," sebut Zulkifli kepada Serambinews.com, Minggu (7/5/2023) disela-sela mencincang kerupuk kulit.
Baca juga: Tabrak Truk Mogok, Penumpang Minibus Meninggal di Aceh Tamiang
Adapun bahan baku utama berupa kulit kerbau dan sapi di pasok dari pusat pasar sembelihan hewan di Kota Beureunueun, Kecamatan Mutiara, Pidie dalam setiap pekannya 3 sampai 5 ekor.
Dijelaskan Bang Don sapaan akrabnya itu, adapun proses bahan baku untuk dijadikan kulit, yaitu pada awalnya dengan membuang lendir lemak yang melekat pada bagian kulit.
Selanjutnya di tabur garam 2 sampai 3 Kg garam pada setiap kulit sapi atau kerbau.
Kemudian kulit yang telah ditabur garam lalu dijemur pada terik matahari selama satu hari.
Berikutnya dilakukan pembakaran serta dilakukan pembersihan kulit dalam air.
"Terakhir, baru dilakukan upaya pencincangan sesuai dengan ukuran permintaan konsumen," jelasnya.
Baca juga: Sering Dimasukkan Dalam Masakan, Ternyata Ini Manfaat Daun Salam Untuk Kesehatan
Menurut Bang Don, untuk ukuran kecil rata-rata dijual dengan harga kisaran Rp 70.000/Kg.
Sedangakn ukuran besar Rp 80.000/Kg.
Adapun pemasaran kerupuk kulit selama ini dipasok ke Banda Aceh dan Langsa 100 Kg dalam setiap tiga hari sekali.
Selebihnya rata-rata untuk konsumen lokal baik untuk pasar di Grong-grong, Sigli, maupun Beureunueun.
"Produksi kerupuk selama ini menjadi relatif minim karena terbatasnya bahan baku," tutur Bang Don menutup pembicaraan. (*)
Baca juga: BREAKING NEWS: Banjir Rendam 17 Desa dalam 5 Kecamatan di Nagan Raya, Jalan Provinsi Terganggu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kerupuk-kulit-sapi-dan-kerupuk-kulit-kerbau-di-Pidie.jpg)