Jurnalisme Warga

Kuliah Bukan untuk Menambah Penganggur

Kendatipun data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2022 jumlah penganggur di Indonesia 208,54 juta orang, 14% di antara

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
ANDI SYAHPUTRA PhD, Dosen Prodi Tadris Bahasa Inggris STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Dewan Pakar Pergunu Aceh Barat, dan Anggota Pengurus PCINU Tiongkok, melaporkan dari Meulaboh 

ANDI SYAHPUTRA PhD

Dosen Prodi Tadris Bahasa Inggris STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Dewan Pakar Pergunu Aceh Barat, dan Anggota Pengurus PCINU Tiongkok, melaporkan dari Meulaboh

PERNAH suatu ketika di tahun 2008, saat wisudawan berjalan menuju ke tempat kegiatan seremonial wisuda, sepintas terdengar sorakan para penonton di jalan dengan kalimat “Ka meutamah lôm pengganggur” (Sudah bertambah lagi penganggur). Saat itu pula, di antara wisudawan ada yang tidak menghiraukan kalimat tersebut, tapi ada yang turut menyoraki seolah-olah mereka juga sepakat dengan sorakan itu, dan sebagian lainnya turut merenunginya.

Selain itu, saat ini beberapa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan perguruan tinggi negeri (PTN) umum masih terus melakukan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru ke berbagai kabupaten/kota di Indonesia, termasuk lima PTKIN yang berada di Aceh, seperti STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, IAIN Lhokseumawe, dan IAIN Gajah Putih Takengon.

Kendatipun data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2022 jumlah penganggur di Indonesia 208,54 juta orang, 14 persen di antara mereka adalah sarjana, pengelola PTN dan PTS tetap melakukan beberapa strategi guna tercapainya kuota penerimaan mahasiswa baru sesuai rencana. Termasuk memberikan pandangan perubahan ‘mindset’ kepada para bakal calon mahasiswa baru (camaba) tentang “pengangguran” dan memperkenalkan prioritas unggulan jurusan atau prodi mereka setelah camaba menyelesaikan kuliah hingga mereka tetap tertarik melanjutkan pendidikan ke PT.

Oleh karena itu, saya ingin memberikan beberapa pandangan tambahan apabila masih ada pertanyaan “Apakah melanjutkan kuliah akan tetap menambah angka pengangguran?” Sehingga, tidak terulang kembali kejadian yang sama dan memberikan wawasan kepada mereka untuk bersegera mendaftarkan diri sebagai mahasiswa pada tahun akademik baru ini.

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada baiknya saya sampaikan definisi “pengangguran” terlebih dahulu. Pengganggur artinya orang yang tidak memiliki sebuah pekerjaan. Sedangkan secara istilah bermakna orang yang sedang berusaha mencari pekerjaan, tapi belum menemukan pekerjaan yang layak baginya.

Keadaan yang membuat mereka berhadapan pada situasi yang demikian disebut “pengangguran”.

Menariknya, istilah pengangguran terkadang acap dialamatkan kepada sarjana. Alasannya, berdasarkan beberapa hasil kajian disebutkan bahwa 1) mereka menjalani proses penyelesaian kuliah hanya berharap gelar sarjana sebagai atribut kebanggaan dan formalitas memenuhi kebutuhan apresiasi sosialita; 2) mereka menerjemahkan gelar sarjana dan nilai IPK tinggi sebagai syarat wajib untuk mendapatkan sebuah pekerjaan tetap, sehingga terciptalah kalimat “gelar dulu, baru kerja” di kalangan mereka; dan (3) mereka berhipotesis bahwa ilmu yang telah diserap di bangku kuliah akan efektif diterapkan sepenuhnya di masyarakat dan di dunia kerja.

Berikut adalah beberapa pandangan mengenai “kuliah”.

Sarjana bukan hanya sekadar gelar akademik

Sarjana adalah sebuah gelar akademik seorang mahasiswa yang telah berhasil menempuh pendidikan pada program strata 1, magister, dan doktoral pada sebuah PTN ataupun PTS. Program pendidikan diampunya selama menjadi mahasiswa tentunya tidak hanya bersifat formalitas menghadiri kuliah dan menghabiskan jumlah SKS selama 2, 3, 3,5, atau 4 tahun semata, sebaliknya mereka dididik untuk mampu mengimplementasikan dan mempertanggungjawabkan ilmu pengetahuan dan teknologi mereka secara ilmiah dan memiliki visi-misi masa depan yang jelas. Misalnya, selesai kuliah bukan hanya untuk menjadi aparatur sipil negara (ASN), atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), atau karyawan pada sebuah perusahaan/lembaga nonpemerintah, tapi setidaknya mereka juga mampu membuka lowongan pekerjaan mandiri, berbagi ilmu secara tentatif, dan membantu membina serta mengasah skill para penganggur lainnya, terutama yang belum sarjana.

Pekerjaan bukan money-oriented

Sebagian sarjana sepakat bahwa pekerjaan dapat pula diterjemahkan sebagai aktualisasi ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi kemampuan tertentu yang bukan hanya berorientasikan uang (money-oriented), melainkan juga berorientasi kepada kenyaman atau kepuasaan kerja masing-masing individu. Sebab, kepuasan kerja akan sangat berpengaruh pada kualitas layanan yang akan mereka berikan dan peningkatan kinerja mereka.

Pengangguran bukan tidak memiliki pekerjaan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved