Mihrab
Memaknai Hari Asyura di 10 Muharram
Pada bulan ini Allah SWT melarang perbuatan zalim dan maksiat, karena dosanya dilipat gandakan dibanding bulan-bulan lain.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM - Bulan Muharram adalah satu diantara empat bulan yang diberikan keistimewaan dan dimuliakan oleh Allah SWT.
Pada bulan ini Allah SWT melarang perbuatan zalim dan maksiat, karena dosanya dilipat gandakan dibanding bulan-bulan lain.
Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Burhanuddin SPdI MA mengatakan, di bulan Muharram ini pula terdapat keistimewaan, yakni hari Asyura atau hari kesepuluh.
“Kata 'asyura menjadi familiar dalam tradisi Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW, walaupun sebelumnya bangsa Arab juga telah memuliakannya,” ujarnya.
Dikisahkan bahwa ketika Nabi tiba di Madinah, Beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa di hari 'asyura.
Puasanya orang Yahudi tersebut karena Allah telah memuliakan Bani Israil dengan memilih Nabi Musa sebagai Rasul yang menyelamatkan mereka dari kekejaman Fir'aun.
Hadis yang berkenaan tentang puasa 'asyura dan tasu'a juga telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
"Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa pada hari itu."
Tgk Burhanuddin mengatakan, kebiasaan berpuasa di Bulan Muharram merupakan amalan yang dapat mengajarkan umat Islam tentang peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan.
Hal ini sebagaimana seruan dan penegasan Rasulullah untuk lebih berhak mengingatnya dibandingkan oleh orang-orang Yahudi.
“Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa 10 Muharram ini merupakan hari yang banyak terjadi peristiwa yang dialami oleh nabi-nabi terdahulu, seperti hari diterimanya taubat Nabi Adam, hari dilepaskan Nabi Ibrahim dari api oleh Raja Namrud, hari dilepaskannya Nabi Yusuf dari penjara, hari dilepaskan Nabi Yunus dari perut Ikan, dan lainnya,” ujarnya.
Dosen STAI Tgk Chiek Pante Kulu ini mengatakan, di hari Asyura inilah upaya untuk menghidupkan kembali kesadaran tentang sejarah, terutama yang memiliki dampak besar bagi kehidupan.
Di hari Asyura lah Allah telah menunjukkan kekuasaannya, yang telah berlaku bagi nabi dan umat-umat terdahulu.
Beranjak dari kesadaran itulah, lanjut dia, walaupun Syariat atau cara menjalankan ajaran agama berbeda antara satu dengan lainnya, tidak berarti semua agama sama, sebab Al-Qur`an juga menegaskan terjadinya penyimpangan dan penyelewangan terhadap ajaran nabi-nabi terdahulu.
“Islam sebagai agama terakhir yang dibawa oleh Nabi Muhammad telah menghimpun dan menyempurnakan ajaran-ajaran nabi terdahulu,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Tgk Burhanuddin, momentum Muharram dan hari Asyura ini umat Islam diingatkan untuk memperkuat nilai persatuan dan persaudaraan, memperbanyak zikir, sedekah dan mendo'akan kebaikan terhadap orang lain, mengenang dan menyiapkan segala hal demi kebaikan bagi semuanya.
“Karena di bulan inipula telah terjadi peristiwa yang mengiringi sejarah Kelam ditubuh umat Islam, tatkala terbunuh Husein di hari Karbala yang bertepatan dengan 10 Muharram,” jelasnya seraya menambahkan, melalui peristiwa Karbala itu juga yang telah menghantarkan sikap berlebihan dalam beragama di kalangan Syi'ah.
“Semoga di bulan Muharram di awal tahun 1445 H Ini, umat Islam terus menghidupkan syiar-syiar agama Islam di setiap jengkal permukaan bumi ini, membawa dan menyebarkan Islam dengan kedamaian yang menjadi rahmat bagi sekalian alam,” ungkapnya. (ar)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ikatan-Sarjana-Alumni-Dayah-ISAD-Aceh-Tgk-Burhanuddin-SPdI-MA.jpg)