Citizen Reporter
Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Muslim di Qinghai, Cina
Ketika saya mendengar suara azan dan kemudian imam melantunkan ayat Al-Qur’an, hati saya langsung terenyuh dan terharu. Sungguh sangat syahdu kedengar
PUTRI KEUMALA RIZKI RANI, mahasiswi asal Aceh di Cina, melaporkan dari Qianghai, Tiongkok
Pada liburan musim panas tahun ini saya diundang teman saya untuk menghabiskan liburan di rumahnya, yaitu di Qinghai. Qinghai adalah provinsi di bagian barat laut Tiongkok, beribukotakan Xining. Ada lima suku utama yang mendiami
Provinsi Qinghai ini, yakni suku Hui, Zang, Tu,Sala, dan suku Innermongol.
Mayoritas yang tinggal di ibu kota provinsi, yakni Xining adalah suku Hui, suku muslim di Tiongkok.
Saya menuju provinsi ini menggunakan kereta cepat dengan waktu tempuh smbilan jam dari kota saya, Chengdu, ke Xining.
Setibanya di sana, kehidupan muslim di Qinghai langsung bisa dirasakan, mengingat banyak warga muslim yang memakai kerudung dan peci.
Saya langsung dijemput oleh teman saya dan adik perempuannya menuju rumah mereka. Setiba di rumahnya saya disambut oleh ibunya. Di rumah ini saya melihat banyak peralatan, misalnya lukisan kaligrafi dan guci, yang berlafazkan Allah.
Ketika itu saya bertanya di mana ayahnya, lalu teman saya menjawab bahwa ayahnya sedang di masjid menunaikan shalat Isya. Fakta menariknya, lelaki muslim di sini rata-rata menunaikan shalat lima waktunya di masjid.
Kemudian saya diajak makan di streetfood-nya Kota Xining. Di sini saya lumayan terkesima karena hampir rata-rata ‘streetfood’ di sini berlogo halal dan penjualnya pun memakai kerudung bagi yang perempuan dan laki-lakinya memakai peci. Ini sangat jarang saya lihat selama di Tiongkok, kecuali saat saya pergi ke kawasan dekat masjid.
Cuaca di Qinghai sendiri sangatlah nyaman. Di musim panas suhu malamnya berkisar 14-17 °Celsius, sedangkan siang hari sekitar 19-23 °C. Jika musim dingin, Qinghai akan sangat
dingin, suhunya dipastikan minus, dan mungkin di akhir bulan September di Qinghai sudah mulai turun salju. Sedangkan normalnya musim dingin di daerah lain saljunya turun pada awal Desember hingga Februari.
Kebetulan saya sampai di Xining pada Jumat malam, jadi keesokan harinya, yaitu pada hari Jumat, teman saya, ayahnya, dan abangnya mengajak saya melihat suasana shalat Jumat di masjid raya yang ada di Kota Xining bernama 东关清真寺(Dong Guan Muslim Grand Mosque).
Di Xining, hanya pria yang pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Ketika saya sampai ke Masjid Raya Dong Guan, saf jamaah untuk shalat Jumat sudah penuh terisi dan saf jamaah sampai meluber ke luar masjid, yakni ke depan toko-toko di pinggir jalan.
Ketika saya mendengar suara azan dan kemudian imam melantunkan ayat Al-Qur’an, hati saya langsung terenyuh dan terharu. Sungguh sangat syahdu kedengarannya. Teman saya mengatakan, imam di sini sebagian besar langsung menempuh pendidikan di Makkah, Madinah, dan Mesir, maka tak heran punya suara dan lantunan ayat yang sangat merdu.
Saya berkenalan dengan satu orang asing lain yang saya temui di masjid itu. Dia katakan bahwa dia orang Mesir dan suaminya orang Xining.
Seusai shalat Jumat, suaminya menemui kami dan saya pun berkenalan. Suaminya adalah orang Xining asli dan menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Jurusan Tafsir Al-Qur’an, dan di sanalah mereka bertemu. Saya sangat terkejut ketika dia katakan bahwa ia mengambil Jurusan Tafsir Al-Qur’an, sungguh tidak ada dalam bayangan saya sebelumnya bahwa masyarakat di sini sangat dekat dengan ajaran Islam.
Setelah itu saya memasuki Masjid Raya Dong Guan dan terlihat bagian dalamnya sangat besar. Bahkan, ada satu tempat bisa dikatakan sebagai museumnya masjid. Di sana disimpan Al-Qur’an dalam berbagai ukuran dan ayat-ayat Qur’an yang ditulis tangan pada zaman dahulu.
Di Xining sendiri masjid sangat mudah ditemui. Saya berkunjung ke beberapa masjid yang berada dan masing-masing memiliki ciri arsitektur yang berbeda. Namun, pada masjid-masjid di sini tidak ada perempuan yang shalat. Semua perempuan shalatnya di rumah, termasuk saat Idulfitri dan Iduladha. Jadi, hanya laki-laki yang pergi ke masjid untuk menunaikan shalat.
Fakta menariknya lagi di sini: saat setiap muslim yang satu dan lainnya bertemu, baik kenal maupun tidak kenal, mereka selalu mengucapkan ‘asalamualaikum’, sebagai doa yang
dipanjatkan kepada sesama muslim. Selama di sini saya juga memulai kebiasaan yang baik ini, baik saat bertemu orang yang tidak saya kenal, maupun orang yang saya kenal.
Kemudian, setiap masuk jadwal waktu shalat, maka azan akan dikumandangkan dari masjid, hal sangat jarang kita dengar di negara yang bukan negara Islam atau mayoritas masyarakatnya beragama Islam.
Di beberapa kesempatan, sejumlah orang tua mengajak saya mengobrol selain dalam bahasa Mandarin, juga dalam bahasa Arab. Rupanya di sini bahasa Arab digunakan secara meluas dan dianggap bahasa yang sangat baik, salah satu alasannya karena merupakan bahasa Al-Qur’an dan bahasa para nabi. Bahkan banyak dari warga di sini yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi sangat fasih berbahasa Arab.
Ketika saya bertanya apakah mereka ada lembaga khusus yang sejak kecil mengajarkan agama atau tidak, teman saya mengatakan mereka sedari kecil sudah rutin belajar mengaji di masjid.
Biarpun di sekolah tidak ada pelajaran agama, tetapi tidak heran sampai besar jiwa islami itu tetap terbentuk di kalangan umat muslim di sini.
Kemudian, alhamdulillah, saya juga beruntung dapat menyaksikan langsung prosesi pernikahan muslim di sini yang sangat menarik. Kebetulan yang menikah itu adalah abang sepupu dari teman saya.
Di Qinghai juga sangat jarang kita jumpai anjing piaraan yang dibawa jalan-jalan oleh pemiliknya atau anjing liar yang berkeliaran di tempat umum. Ketika saya bertanya pada
teman saya tentang ini dia katakan bahwa karena mayoritas penduduk di sini adalah muslim, maka anjing sangat
jarang terlihat. Mereka juga tidak boleh memegang anjing atau terkena ludah anjing.
Mudah pula ditebak, kalau ada orang yang membawa anjing ke jalan atau ke tempat umum di sini dia pastilah orang luar Qinghai yang sedang berlibur ke Qinghai.
Selama di Qinghai, saya tak perlu pusing untuk mencari makanan halal karena rata-rata makanan di sini halal, baik itu makanan restoran maupun jajanana ringan sampai minuman
kekinian.
Total saya tinggal di Qinghai bersama keluarga teman saya yang merupakan muslim selama sembilan hari. Saya merasakan dan mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran berharga di rumah mereka.
Ternyata kehidupan muslim di Tiongkok, khusunya di Qinghai, tidak seperti yang diberitakan di luar sana. Saya bersaksi dan merasakan sendiri bagaimana damai dan sejuknya kehidupan muslim di Qinghai. Baru beberapa hari meninggalkan Qinghai rasanya ingin segera kembali lagi ke sini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/PUTRI-KEUMALA-RIZKI-RANI-OKE.jpg)