Citizen Reporter
Menginspirasi dari Changi Airport di Singapura
Sikap mereka dalam memuliakan sesama muslim sangat memukau, mirip dengan masyarakat Aceh yang terkenal dengan pemujaan sesama.
Dicky Wirianto, pengurus DPP ISAD Aceh dan dosen tetap STAI Washliyah Banda Aceh melaporkan dari Singapura.
PADA tanggal 4 Oktober 2023, saya memulai perjalanan menuju Malaysia dengan tujuan menghadiri maulid di Singapore yang diadakan oleh Zawiyah Ahmadiah Idrisiah Singapore, juga dikenal sebagai tarekat Ahmadiah Idrisiah.
Penting untuk dicatat bahwa Tarikat Ahmadiyah tidak ada hubungan sedikitpun dengan aliran Ahmadiah Qadiyani yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Lahore.
Sebelumnya, saya telah mendalami kajian tentang tarekat Ahmadiah Idrisiah al-Muhammadiah di berbagai tempat seperti Tasikmalaya, Makasar, dan Sarang Rembang di Jawa Tengah.
Perjalanan ke Singapura dilakukan melalui jalur darat dari Malaysia menuju Johor Baru sebelum masuk ke Singapura.
Selama seminggu di Singapura, saya dengan cermat memperhatikan interaksi dan komunikasi muslim di sana.
Sikap mereka dalam memuliakan sesama muslim sangat memukau, mirip dengan masyarakat Aceh yang terkenal dengan pemujaan sesama.
Layanan maksimal yang diberikan kepada sesama muslim menunjukkan rasa hormat yang mendalam.
Saya juga diajak untuk menelusuri jejak-jejak tarekat Idrisiah di Singapura, yang memberi wawasan mendalam tentang sejarah dan praktik keagamaan mereka.
Saat tiba waktunya untuk kembali ke Indonesia, saya memutuskan untuk mengelilingi Changi International Airport.
Tempat ini memiliki daya tarik unik, terutama Jewel, yang telah menjadi magnet baru bagi wisatawan di Singapura.
Selama mengelilingi bandara ini, saya menemukan sesuatu yang menarik terkait makanan halal dan haram.
Berbeda dengan pengalaman di Indonesia, di Changi Airport, alat makan seperti piring dan sendok dipisahkan antara yang halal dan non-halal.
Sistem pemilahan ini sangat ketat dan menggambarkan tingginya kepedulian terhadap kebutuhan agama.
Penjual di bandara juga memberikan informasi dengan jelas mengenai status halal atau non-halal dari makanan yang dijual.
Bahkan, seorang penjual dengan tegas menyampaikan bahwa ada makanan yang tidak dapat dikonsumsi karena mengandung bahan non-halal.
Pengalaman ini memberi inspirasi bagi pariwisata di Indonesia.
Dengan menerapkan standar pelayanan dan SOP yang ketat di tempat-tempat wisata, Indonesia dapat menarik wisatawan lokal dan mancanegara, baik Muslim maupun non-Muslim, dengan memberikan akses sesuai dengan kebutuhan agama masing-masing.
Dengan penerapan praktik seperti yang dilihat di Changi Airport, Indonesia dapat menciptakan pengalaman wisata yang lebih inklusif dan menghormati kebutuhan agama para pengunjung.
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah pemisahan alat makan antara halal dan non-halal, serta pelabelan yang jelas pada makanan yang dijual.
Ini tidak hanya menciptakan rasa aman bagi para wisatawan, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk menghargai kepercayaan dan praktik agama dari berbagai budaya.
Saya yakin dengan menerapkan pendekatan ini, Aceh dan Indonesia secara keseluruhan dapat menjadi tujuan wisata unggulan yang ramah terhadap keberagaman agama.
Hal ini akan menarik lebih banyak wisatawan lokal dan internasional yang mencari pengalaman wisata yang berdampak positif dan memuaskan dari segi spiritual.
Tidak hanya itu, kesadaran terhadap kebutuhan agama juga dapat memperkuat ikatan antara komunitas Muslim di seluruh dunia.
Ini adalah langkah positif menuju memperluas saling pengertian dan menghormati antarbangsa, melalui perjalanan dan interaksi antarumat beragama.
Terima kasih telah membagikan pengalaman menarik ini, dan saya berharap bahwa inisiatif ini akan terus berkembang di masa depan untuk memperkaya pariwisata di Indonesia.
Dengan semangat untuk terus memperbaiki pengalaman wisata, saya percaya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi tujuan yang memadukan keindahan alam, warisan budaya, dan pelayanan yang memahami kebutuhan agama.
Melalui pelaksanaan standar layanan seperti yang ditemui di Changi Airport, pariwisata di Indonesia dapat membangun reputasi sebagai destinasi yang inklusif, ramah, dan menghormati keberagaman agama.
Tidak hanya itu, inovasi dalam menyediakan makanan halal dengan jelas memisahkan antara halal dan non-halal, serta memberikan informasi yang transparan kepada pengunjung, adalah langkah positif untuk menciptakan pengalaman yang berkesan.
Saya harap bahwa pemerintah dan pihak terkait di Indonesia dapat mengadopsi praktik-praktik terbaik ini, sehingga negara ini dapat memperluas daya tariknya bagi wisatawan dari berbagai latar belakang dan keyakinan agama. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dicky-Wirianto.jpg)