Opini

Stimulasi Busuk Kaum Muda

Tujuan utama rekayasa semacam ini berorientasi mutlak demi melancarkan kekuasaan disamping sebagai instrumentasi rejim bersangkutan guna membebaskan d

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBI INDONESIA
Dr. Phil. Munawar A. Djalil. MA, Pegiat Dakwah dan Pemerhati Politik Pemerintahan Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh 

Oleh: Dr Phil Munawar A Djalil MA, Pegiat Dakwah dan Pemerhati Politik Pemerintahan Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh

SETIAP kekuasaan yang dibangun lewat persekongkolan politik yang keji, konon selalu berkepentingan mengeksploitir sekecil apapun elemen-elemen sosial yang mengandung muatan persitegangan satu dengan yang lain di antara sesama masyarakat bangsa yang dikuasainya.

Untuk kepentingan ini, kekuasaan tersebut akan mendesain sedemikian rupa pengelompokan-pengelompokan sosial di dalam masyarakat menyerupai pembiakan koloni-koloni dalam satu jaringan pengkomplotan (konspirasi), diwarnai intrik-intrik politik yang licik, keji dan tersistimasi. Setiap kelompok sosial akan didorong/dimotivasi untuk saling unjuk keberadaan dan saling berkelahi dengan mengibarkan bendera kelompoknya masing-masing di atas dasar semangat primordialisme, kelas sosial, sentimen “korps” atau “pride” golongan-golongan tertentu.

Tujuan utama rekayasa semacam ini berorientasi mutlak demi melancarkan kekuasaan disamping sebagai instrumentasi rejim bersangkutan guna membebaskan diri dari monitor pelacakan moral pertanggungan jawab setiap tindak perbuatannya. Salah satu ciri khas kekuasaan seperti ini ialah kebiasaannya bertindak menyusun formasi perkomplotan demi perkomplotan yang berbeda satu sama lain dalam setiap periode waktu tertentu. Artinya perkomplotan awal yang dibangun ketika kekuasaan itu diberdirikan atau sebelumnya akan sangat berbeda dengan kekuasaan itu dijalankan/berlangsung. Adalah hal yang lazim bilamana rejim itu selalu bertindak “memberangus” perkomplotannya yang baru dalam rangka menghilangkan “jejak” asal usul keberadaannya dan seterusnya.

Sebenarnya sangat mudah untuk memahami mengapa rejim kekuasaan semacam ini cenderung pula memaksakan tafsir, paham atau citra tertentu. Misalnya dengan menciptakan simbol-simbol mengenai kekuasaannya, termasuk dalam memposisikan kesejarahan eksistensi dirinya. Walaupun sebetulnya tafsir, paham atau citra tersebut sering terasa dangkal, tidak subtantif, irrasional atau ahistoris. Biasanya dunia pendidikan merupakan laboratorium paling banyak dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasinya.

Rangsangan Kaum Muda

Bagi kekuasaan (rejim) yang terlahir dari produk politik keji tersebut di atas, ada satu hal penting yang perlu di risaukan dan perlu diwaspadai, karena dianggap potensial sebagai sumber kegelisahan atau bibit malapetaka terhadap pilar-pilar kelestarian kekuasaan yaitu terbitnya pencerahan kaum muda yang tumbuh kemudian dan bangkit dengan kesadaran baru yang lebih kritis, tajam, jernih dan objektif dalam menilai kehidupan sosial masyarakat bangsanya.

Sangat wajar apabila rejim kekuasaan semacam ini sering pula berupaya maksimal untuk memastikan masuknya kaum muda terintegrasi ( atau terkooptasi) dalam jaring pengrekayasaan dan sarana eksploitatifnya. Jikalau tidak, maka timbul kesulitan-kesulitan, misalnya, melahirkan gerakan kaum muda yang umumnya berintikan penggugatan dimensi moral dan etika terhadap kekuasaan itu sendiri. Dalam sejarah gerakan semacam ini bukan mustahil berlanjut lebih meluas, membongkar dan merobohkan sendi-sendi stabilitas kekuasaan tersebut.
Itu sebabnya kehidupan kaum muda di era kekuasaan semacam ini sejak dini telah di-stimulasi (dirangsang) ke arah pembiakan situasi-situasi seperti mengentalnya semangat primordialisme (suku, agama, ras, golongan dan lain-lain). Pemujaan simbol-simbol/ gengsi sosial, orogansi titel-titel pendidikan/keprofesian dan sebagainya.

Tujuanya adalah agar toleransi dan interaksi sosial di antara kaum muda ini jangan sampai bereskalasi lintas kelompok/berskala nasional. Hubungan antara generasi (tua-muda) diwujudkan dengan menciptakan pemahaman relasional yang sifatnya ambivalen (mendua). Di satu sisi, ditanamkan kondisi emosional agar kaum muda patuh dan menaruh penghargaan yang setingginya terhadap generasi terdahulu. Namun pada sisi lainnya subtansi (hakikat) kesejarahan yang berintikan nilai dan makna esensial perjuangan generasi terdahulu cenderung dieleminir (dikorupsi) agar tidak terpahami secara utuh oleh kaum muda tersebut.

Akibatnya pandangan kaum muda terhadap generasi pendahulunya cenderung bersifat mitologis simbolik atau dipenuhi oleh mitos-mitos. Hal ini menjadi kaum muda menjadi kurang antusias atau berpandangan sumbang dan penuh kejengkelan terhadap generasi pendahulunya.

Demikian juga pemahaman tentang politik kemasyarakatan atau kenegaraan. Senantiasa dirangsang (distimulasi) dengan mengarahkan kaum muda untuk berfikir tunggal, pragmatis, konfromis dan bila perlu apolitis. Selalu diupayakan agar kaum muda jangan sampai menaruh perhatian serius terhadap problema-problema sosial masyarakatnya. Dijauhkan dari penghayatan etika dan moral, diantaranya dengan penyediaaan sarana-sarana hiburan berdimensi kenikmatan ragawi, seperti perjudian, minuman-minuman atau obat-obatan terlarang (narkoba), sarang-sarang kemaksiatan dan sebagainya.

Tujuan stimulasi jenis ini adalah untuk memberi “kesibukan” bagi kaum muda agar berkutat di sana dan melupakan soal-soal kemasyarakatan atau kenegaraan. Sebenarnya ada sebuah pertanyaan sejarah yang patut diungkapkan di sini. Mengapa kaum muda selalu menjadi sasaran stimulasi busuk seperti itu demi sebuah kelestarian kekuasaan ? Padahal fakta yang juga terlalu teruji oleh sejarah memperlihatkan bahwa betapapun suatu rejim kekuasaan yang demikian rapi merawat perkomplotan keji kekuasaannya selalu mendapat ruang dan celah bagi terbitnya “pencerahan” zaman yang justru dipelopori oleh kaum muda.

Pengalaman Bangsa

Masyarakat bangsa Indonesia, sesungguhnya memiliki pengenalan, pemahaman dan pengalaman yang sedemikian sarat dan kental mengenai sejarah kekuasaan yang membusukkan kaum muda, di masa era kolonial dan Pemerintah orde baru tempo doeloe. Mestinya hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk tidak mengulangi atau bermaksud mengulangi kejadian serupa.

Melalui rekaman sejarah, kita mengetahui bahwa rejim penguasa kolonial zaman dahulu membangun dan mendirikan kekuasaan kolonialnya melalui upaya perkomplotan-perkomplotan politik dengan konglomerat masa itu, kaum demang atau penguasa-penguasa lokal. Lalu dengan intrik-intrik politik yang keji yakni devide et impera kaum kolonial mengeksploitir setiap elemen-elemen sosial bangsa guna menumbuhkan perpecahan laten pada tubuh bangsa Indonesia masa itu. Semangat primordialisme dikembangbiakkan dengan berbagai cara antara lain dengan membangun mitos-mitos masyarakat tertentu sebagai kelompok masyarakat pemalas, penjagal, pengkhianat, penipu dan sebagainya, sekaligus mempertentangkan satu sama lain. Sesama penguasa local (Demang, Sultan, Pertuanan dan lain-lain) dikompori untuk saling berhantaman satu dengan yang lainnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved