Jurnalisme Warga
Kisah Persahabatan Mataram-Aceh Dalam Sebuah Gentong
Sejak awal kepemerintahannya, Kerajaan Mataram mengalami perkembangan yang sangat pesat dari pelbagai segi kehidupan. Pada pemerintahannya juga agama
Dalam situs resmi jogjacagar.jogjaprov.go.id, disebutkan bahwa Babad Momana menyebutkan pembangunan Kompleks Makam Imogiri di mulai tahun 1554 Saka (1632 Masehi). Kemudian selesai pada tahun 1566 Saka (1645 Masehi). Penggunaan lokasi tersebut sebagai makam dilakukan pertama kali tahun 1644 Masehi, tepat pada saat Sultan Agung mangkat. Sejak saat itu Kompleks Makam Imogiri digunakan sebagai makam Raja-Raja Mataram dan keturunannya.
Secara keseluruhan Kompleks Makam Imogiri di bagi menjadi delapan bagian yang disebut dengan “Astan/Kedhaton”. Seluruh Astana terdiri atas Astana Sultan Agungan, Astana Pakubuwanan, Astan Suwargan, Astan Besiyaran, Astana Saptorenggo, Astana Kaswargan, Astana Kaping Sangan, dan terakhir Astan Kaping Sedasan. Pada Astan Sultan Agungan dan Astana Paku Buwanan terdapat makam raja-raja yang memerintah Mataram sebelum kerajaan tersebut terbagi dua oleh Perjanjian Giyati tahun 1755. Kemudian pada keenam Astana lainnya dibedakan menjadi dua: untuk raja-raja Surakarta yang berada di sayap barat dan untuk raja-raja Yogyakarta yang berada di sayap timur.
Keheningan “semadi” keilmuan saya dalam mengulas kembali jejak-jejak masa lalu era Kerajaan Mataram, hingga kembali menemukan jejak persahabatan mereka dengan Aceh seakan membuat waktu yang berjalan ini terhenti seketika.
Dalam keheningan terlintas pandangan subjektif bahwa Aceh tidak hanya menyertai perjalanan sejarah Indonesia dari masa ke masa, akan tetapi juga menyertai perjalanan hidup saya. Seperti persahabatan Kerajaan Mataram dengan Kesultanan Aceh, persahabatan saya dengan Tanoh Aceh semoga dapat menjadi keberkahan bagi seluruh alam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Melinda-Rahmawati-7678.jpg)