Citizen Reporter
Cara Unik Ulama Maroko Mengagungkan Bulan Maulid
Sebagaimana kita ketahui, Maroko merupakan salah satu negara yang memiliki peradaban Islam tertua di dunia.
Muhammad Ihlal Fikri (Mahasiswa Universitas Hasan II Casablanca, Alumni Dayah Insan Qurani Aceh Besar, melaporkan dari Maroko)
BULAN Rabiul Awal telah berakhir dan kini memasuki Rabiul Akhir, akan tetapi suasana bulan maulid tentu belum berakhir disekitar kita.
Khususnya bagi masyarakat Aceh, perayaan ini baru akan usai pada Jumadil Ula.
Begitulah cara penduduk Serambi Mekkah mengagungkan kelahiran Sang Baginda.
Setiap komunitas muslim di dunia tentu punya cara tersendiri untuk mengagungkan hari kelahiran Rasulullah Saw.
Hal ini selanjutnya menjadi tradisi turun temurun yang diwariskan lintas generasi serta terus berakulturasi dengan budaya setempat.
Dari ribuan tradisi tersebut, kali ini saya ingin menceritakan uniknya perayaan maulid di Maroko, negara tempat saya mengenyam pendidikan sarjana saat ini.
Sebagaimana kita ketahui, Maroko merupakan salah satu negara yang memiliki peradaban Islam tertua di dunia.
Sejarah panjang ini membuat nuansa keislaman terasa sangat kuat di sini.
Bagi masyarakatnya, Islam tidak hanya sekedar sebuah agama, melainkan rule of life yang senantiasa dipedomani dalam berkehidupan.
Begitu pula dengan maulid, perayaan ini menjadi sangat spesial dan punya tempat tersendiri di hati mereka.
Liburan musim panas yang lalu, saya beserta sejumlah mahasiswa Indonesia lainnya menyempatkan diri untuk nyantri dan bertalaqqi kepada para masyaikh di Madrasah Atiqah, sebutan untuk lembaga pendidikan islam tradisional di Maroko.
Panjangnya libur membuat banyak pelajar asing memilih belajar di madrasah ketimbang pulang ke kampung halaman.
Terlebih, kurikulum dan sistem pembelajarannya sama persis dengan dayah salafi yang ada di Aceh sehingga ada kesesuaian tersendiri yang saya rasakan.
Dalam liburan ini pula, saya menyaksikan keunikan perayaan maulid di Maroko khususnya di kalangan para ulama.
Seminggu sebelum Idul Adha, liburan panjang musim panas dimulai.
Dari kota Casablanca, kami menempuh perjalanan darat menuju kawasan Sous-Massa yang dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak madrasah.
Perjalanan tersebut berdurasi sekitar 8 jam.
Setibanya di sana, kami langsung menuju salah satu madrasah yang bernama Igdi.
Setelah menyelesaikan sejumlah pengurusan, mulailah kami mengikuti berbagai aktivitas di madrasah tersebut.
Syukur alhamdulillah kami berkesempatan belajar langsung dari faqih (sebutan untuk pimpinan madrasah) yang merupakan pakar ilmu sastra Arab.
Darinya, kami mengaji kitab-kitab sastra arab seperti Matn al-Ajurumiyah dan Maqamat al-Hariri.
Kebetulan kami sampai pada permulaan tahun ajaran baru, yaitu awal bulan Muharram sehingga pelajaran yang tertinggal tidak seberapa banyak.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa dengan berbagai rutinitas khas ureung meudagang seperti belajar-mengajar dan murajaah pribadi.
Nuansa madrasah mulai berubah di akhir bulan Safar, dimana faqih yang awalnya mengajar Maqamat al-Hariri kini berganti menjadi Qasidah Banat Su’ad2 dan Burdah al-Bushiri, dua nazham populer yang berisikan pujian kepada Nabi Muhammad Saw.
Ternyata, pengajian dua kitab ini telah sejak lama menjadi tradisi ulama Igdi dalam rangkaian memperingati Maulid Nabi serta akan dikhatamkan tepat di bulan Rabiul Awal yang merupakan bulan kelahiran Baginda Nabi.
Setelahnya, madrasah akan mengadakan haflah (peringatan) maulid dan santri akan diberikan libur sempena Maulid Nabi.
Tradisi mengajarkan Qasidah Banat Su’ad dan Burdah menjelang maulid membuat saya deja vu dengan maulid tahun lalu, dimana kami mengkhatamkan Syamail Muhammadiyah bersama para ulama hadits.
Kedua adat ini memiliki pola yang sama, hanya saja teknis dan pelaksanaannya yang sedikit berbeda.
Jika para muhadditsin menyambutnya dengan cara membaca hadis Nabawi, para sejarawan dengan membuka kembali buku-buku sejarah, dan zawiyah-zawiyah dengan memperbanyak agenda zikir, maka para udaba’ menyambutnya dengan membaca syair-syair pujian kepada Nabi.
Ragam cara ini jika ditilik dari paradigma saya sebagai penuntut ilmu dapat disimpulkan menjadi suatu pernyataan: bahwa para ulama Maroko menyambut maulid dengan khazanah keilmuan yang berkaitan dengan sahibul maulid (Nabi Muhammad Saw.) sesuai dengan kepakaran masing- masing.
Begitulah perayaan maulid di negeri matahari terbenam ini.
Bagi masyarakat awam hal tersebut memang terkesan biasa saja, akan tetapi akan menjadi sangat istimewa dan spesial bagi para pecinta dan penuntut ilmu.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muhammad-Ihlal-Fikri.jpg)