Peristiwa

Kelompok Pro Zionis Konvoi Kibarkan Bendera Israel di Bitung Sulut, Bentrok Pecah: Allahuakbar

Kelompok pro-zionis sampai kibarkan bendera Israel di Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), bentrok pecah dengan pendukung Palestina.

Penulis: Sara Masroni | Editor: Ansari Hasyim
Instagram @kabarnegri
Kelompok pro-zionis sampai kibarkan bendera Israel di Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), bentrok pecah dengan pendukung Palestina. 

SERAMBINEWS.COM - Kelompok pro zionis konvoi kibarkan bendera Israel di Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), bentrok pecah dengan pendukung Palestina.

Beberapa video viral di media sosial terkait dua kelompok yang dinarasikan sebagai massa pro Israel dan pro Palestina.

Dalam video tersebut awal sejumlah massa yang mengenakan atribut Palestina melintas dengan berjalan kaki sambil membawa bendera Palestina.

Kemudian pada video selanjutnya, terlihat konvoi sejumlah massa menggunakan sepeda motor sambil membawa bendera Israel yang diperkirakan mencapai ratusan orang.

Baca juga: Israel Tangkap Direktur RS Al Shifa, Jubir Kemenkes Gaza: Ini Kejahatan Kemanusiaan

Baca juga: Ribuan Pengungsi Palestina Kembali ke Rumah Saat Jeda Kemanusiaan di Gaza

Kemudian massa pro Israel itu berjalan kaki di sekitaran salah satu bank swasta di Bitung.

Pada video selanjutnya, bentrokan pun pecah. Beberapa orang bertakbir di tengah kemelut itu.

"Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar," teriak sejumlah massa pro Palestina saat bentrok pecah dengan kelompok pro Israel dilihat dari video Instagram @kabarnegri, Minggu (26/11/2023).

 

 

Sementara kini kedua kelompok massa yang bertikai itu dikabarkan sudah bersepakat untuk damai pada Sabtu (25/11/2023) malam.

Wali Kota Bitung, Maurits Mantiri mengatakan, kini keadaan sudah aman terkendali.

"Saat ini sekitar pukul 20.00 WITA, pusat Kota Bitung dalam keadaan kondusif dan aman terkendali," kata Maurits Mantiri dikutip dari Tribun Manado, Sabtu malam.

Baca juga: Jelang Pembukaan MTQ Ke-36 Aceh di Simeulue, Ribuan Peserta Ikut Pawai Taaruf

Wali Kota Bitung meminta semua pihak menjaga dan saling mendamaikan, serta tidak mudah terprovokasi. Sementara TNI/Polri masih melakukan pengamanan di beberapa titik.

"Jika ada hal-hal yang menonjol segera laporkan kepada aparat pemerintah/TNI Polri terdekat atau hubungi Call Center 112 (gratis)," kata Maurits.

"Tuhan Memberkati Negera Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya.

Berita Lainnya: Israel Tangkap Direktur RS Al Shifa, Jubir Kemenkes Gaza: Ini Kejahatan Kemanusiaan

Israel tangkap Direktur Rumah Sakit Al Shifa, Muhammad Abu Salmiya. Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Jubir Kemenkes) Gaza, Ashraf Al Qudra sebut tindakan Israel ini sebagai kejahatan kemanusiaan.

Pihaknya juga akan berhenti berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam mengevakuasi pasien dan staf medis, menyusul penangkapan direktur rumah sakit terbesar di Gaza itu.

"Kami mengutuk penangkapan Muhammad Abu Salmiya dan sejumlah petugas medis yang ditahan oleh pasukan pendudukan," kata Al Qudra kepada The National, Jumat (24/11/2023).

"Kami menyerukan semua pihak untuk mengambil tanggung jawab membebaskan dokter dan orang-orang yang bersamanya. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan," sambungnya.

Jubir Kemenkes Gaza itu mengatakan, dokter tersebut ditangkap saat konvoi PBB mengevakuasi pasien dari RS Al Shifa.

"Tentara menghentikan konvoi di sebuah pos pemeriksaan yang memisahkan Jalur Gaza utara dan selatan selama tujuh jam," ungkap Al Qudra.

Berdasarkan keterangannya, tentara Israel melakukan kekerasan ekstrem terhadap staf medis, pasien yang terluka dan sakit serta orang-orang yang menemani mereka.

"Masalahnya berakhir dengan ditangkapnya Tuan Salmiya," jelas Al Qudra.

Dia kemudian menegaskan, kementeriannya akan berhenti bekerja dengan WHO dalam mengevakuasi staf dan pasien dari rumah sakit, yang semakin menjadi sasaran pasukan Israel dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, PBB dan Israel bertanggung jawab atas penangkapannya.

Sementara berdasarkan keterangan pejabat setempat, lebih dari 400 orang dievakuasi dari Rumah Sakit Indonesia pada Rabu malam.

Kompleks tersebut kini terus dikepung oleh pasukan Israel.

Militer Israel menuding rumah sakit tersebut, yang menurut para dokter tidak memiliki makanan, air atau listrik selama hampir dua minggu, adalah rumah bagi “aktivitas militan”.

Para pejabat Israel mengatakan kepada media, direktur rumah sakit tersebut ditangkap oleh intelijen militer bersama dengan beberapa dokter.

Seorang pejabat militer Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Haaretz, Abu Salmiya ditangkap saat menuju ke Gaza selatan melalui koridor kemanusiaan.

Tentara Israel telah memaksa pasien dan pengungsi Palestina yang mencari perlindungan di dalam dan sekitar rumah sakit untuk mengungsi.

Mereka terus memeriksa gedung tersebut untuk mencari kemungkinan adanya infrastruktur Hamas.

Wartawan Israel telah memfilmkan apa yang mereka katakan sebagai terowongan Hamas di bawah kompleks tersebut.

Namun keberadaannya dibantah keras oleh para pejabat Hamas dan Al Shifa .

Pekan lalu, tentara Israel menyerbu rumah sakit tersebut setelah mengepungnya dan mengebom daerah sekitarnya hingga menewaskan banyak orang.

Sementara sekitar 1.500 orang, 600 pasien dan sekitar 700 staf berlindung di dalamnya.

Update Kabar 2 Relawan MER-C Ditangkap Israel di RS Indonesia Gaza

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sebelumnya dikabarkan ditangkap tentara Israel di Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza, mendapat titik terang.

Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad mengatakan, pihaknya kini berhasil berkomunikasi dengan ketiga relawannya setelah 11 hari putus kontak.

Awalnya sekitar pukul 14.45 WIB pihak MER-C Indonesia mendapat informasi kalau ketiga relawannya hilang kontak, dua di antaranya ditangkap tentara (IDF) Israel.

Ketiga relawan dimaksud yakni Reza Aldilla Kurniawan, Fikri Rofiul Haq dan Farid Zanzabil Al Ayubi.

"Saya mendapat informasi dari sumber-sumber kami di Gaza bahwa tiga relawan MER-C, dua ditahan oleh IDF dan satu tidak diketahui posisinya di mana," kata Sarbini dalam konferensi pers yang tayang di YouTube MER-C Indonesia, Rabu (22/11/2023) malam.

Hal ini kemudian membuat pihaknya khawatir, terlebih mulai muncul pemberitaan di media massa.

Kemudian pada pukul 17.30 WIB sore MER-C Indonesia akhirnya bisa berkomunikasi langsung dengan relawan di RSI Gaza, Palestina.

"Kami mendapatkan kontak dari sumber kami dan kami juga langsung bisa berkomunikasi dengan salah seorang relawan yaitu saudara Reza," ungkap Sarbini.

"Kami menanyakan informasi mereka dan sempat berbicara, Reza mengatakan sekarang mereka bertiga ada di RSI Gaza dalam kondisi yang sehat dan selamat," tambahnya.

Kini ketiga relawan asal Indonesia itu sedang menunggu evakuasi ke selatan bersama 600 warga lainnya yang masih di Rumah Sakit Indonesia.

"Kemungkinan ada dua, pertama ke Rumah Sakit Nasser. Kedua, ke Rafah Rumah Sakit Eropa," kata Sarbini.

"Ini informasi yang membuat kami bahagia dan semringah karena sudah 11 hari kami belum mendapatkan informasi ketiga relawan kami," pungkasnya.

Sebelumnya diketahui penjajah Israel menembaki sejumlah pasien di Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.

Sebanyak 13 orang meninggal dunia pada Senin (20/11/2023).

Laporan The National, korban meninggal bertambah menjadi 13 orang di tengah serangan Israel terhadap Rumah Sakit Indonesia.

"Sebanyak 12 pasien dan satu kerabat tewas dalam serangan Israel terhadap Rumah Sakit Indonesia di Gaza," kata juru bicara Kementerian Kesehatan Ashraf Al Qudra, Senin.

Selain itu, seorang dokter terluka dalam pemboman di lokasi di Beit Lahia, tempat di mana tank dan penembak jitu Israel ditempatkan di sekitar kompleks tersebut.

Laporan kantor berita resmi Palestina Wafa, tentara Israel menembak apa saja yang bergerak di dekat pintu masuk rumah sakit.

"Sekitar 5.000 warga sipil berlindung di rumah sakit," kata para pejabat.

Penjajah Israel Masuki Rumah Sakit Al Shifa di Gaza

Sebelumnya, penjajah Israel memasuki Rumah Sakit Al Shifa di Gaza, Palestina serta menembaki beberapa pada Rabu Rabu (15/11/2023).

Militer Israel mengatakan pasukannya melakukan operasi pada melawan Hamas di kompleks rumah sakit terbesar di Gaza itu.

Pihaknya menuding Hamas memanfaatkan ruang bawah tanah Rumah Sakit Al Shifa untuk melakukan serangan.

Mereka meminta semua anggota Hamas di rumah sakit tersebut untuk menyerah.

"Pasukan Israel sedang menggeledah ruang bawah tanah Al Shifa, rumah sakit terbesar di Gaza," demikian kata seorang pejabat dikutip dari Thenationalnews.com, Rabu.

Direktur Jenderal Rumah Sakit Gaza, Dr Muhammad Zaqout mengatakan kepada Al Jazeera, tentara Israel juga memasuki gedung bedah dan darurat di kompleks rumah sakit.

"Beberapa orang ditembaki ketika mencoba meninggalkan daerah tersebut meskipun diberitahu bahwa mereka aman," ungkapnya.

Israel mengatakan pihaknya melakukan operasi di bagian tertentu rumah sakit tersebut dan menuding Hamas memiliki pusat komando di sana.

(Serambinews.com/Sara Masroni)

BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved