Info Kesehatan Aceh

Apa Itu Penyakit Difteri?

Pada keadaan lebih berat yang memang sering terjadi di Aceh, penyakit difteri ini dapat ditandai dengan kesulitan menelan, tidak bisa makan,....

|
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: IKL
FOR SERAMBINEWS.COM
Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Munawar, SpOG (K) 

Angka kematian difteri, sebut Iman, rata-rata 5– 10 persen pada anak usia kurang 5 tahun dan 20 persen pada dewasa (di atas 40 tahun). (CDC Atlanta, 2016) Berdasarkan penelitian sebelumnya, komplikasi difteri terjadi pada 26 dari 71 penderita difteri atau 36,6 % . 

“Difteri dan komplikasinya dapat dicegah dengan melakukan imunisasi difteri secara berulang,” imbuh dr Iman. Penyakit difteri, terang Iman, tersebar di seluruh dunia. 

Jumlah kasus difteri di Indonesia sedikit meningkat pada tahun 2016 dibandingkan tahun 2015 (529 kasus pada tahun 2015 dan 591 pada tahun 2016).

Demikian pula jumlah kabupaten/ kota yang terdampak pada 2016 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan jumlah kabupaten/kota pada tahun 2015.

Tahun 2015 sebanyak 89 kabupaten/kota dan pada tahun 2016 menjadi 100 kabupaten/kota.

Sejak vaksin toxoid difteri diperkenalkan pada tahun 1940-an, maka secara global pada periode tahun 1980–2000 total kasus difteri menurun lebih dari 90 % .

Imunisasi DPT di Indonesia dimulai sejak tahun 1976 dan diberikan tiga kali, yaitu pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan. 

Selanjutnya imunisasi lanjutan DT dimasukkan ke dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada tahun 1984.

Untuk semakin meningkatkan perlindungan dari penyakit difteri, kata Iman, imunisasi lanjutan DPT-HBHib mulai dimasukkan ke dalam program imunisasi rutin pada usia 18 bulan sejak tahun 2014, dan imunisasi Td menggantikan imunisasi TT pada anak SD.

Jadi, untuk saat ini di Indonesia dan di Aceh, program imunisasi difteri terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. 

Imunisasi difteri dasar, lanjut Iman, dilakukan dengan berturut-turut memberikan imunisasi DPT-HB-Hib 1, 2, 3, dan 4 pada bayi usia 2, 3, 4, dan 18-24 bulan atau 12 bulan setelah menerima imunisasi DPT-HB-Hib 3. 

Imunisasi difteri lanjutan bagi anak usia sekolah dasar diberikan tiga kali, yaitu imunisasi DT pada anak kelas 1, imunisasi Td pada anak kelas 2, dan 5. Di Indonesia, angka cakupan imunisasi dasar DPTHB- Hib (1) dan DPT-HB-Hib (3) telah mencapai 95,3?n 93,3 % pada tahun 2016 serta 90,7?n 88,3 % pada tahun 2017. (Dhinata, 2018; WHO, 2017)

Status imunisasi, kata dr Iman, berhubungan dengan kejadian difteri berat dengan persentase insiden difteri berat lebih banyak terjadi pada pasien dengan status tidak imunisasi dan imunisasi tidak lengkap.

Jadi, imunisasi lengkap itu adalah keharusan. (dik)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved