Gadis Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha: Kami Sangat Nyaman Sekolah di Aceh
Dalam momen ngopi santai tersebut, para muda-mudi lintas agama di Aceh saling berbagi pengalaman.
SERAMBINEWS.COM - Sejumlah muda-mudi dari unsur Generasi Zelinial (Gen Z) yang tinggal di Banda Aceh dan Aceh Besar bertemu dalam forum ”Coffee Morning Pemuda Lintas Agama” di Oen Coffee Lueng Bata, Banda Aceh, Sabtu (23/12/2023).
Acara ”jep kupi beungoh” pemuda lintas agama ini difasilitasi oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh dan dipandu oleh duet Cut Intan Arifah serta Hasan Basri M Nur dari pengurus FKUB Aceh.
Dalam momen ngopi santai tersebut, para muda-mudi lintas agama di Aceh saling berbagi pengalaman. Rata-rata mereka bercerita tentang pengalaman dunia pendidikan, sekolah dan kuliah.
Lisa Sembiring, gadis Kristen di Aceh. Dia mengaku dilahirkan di Banda Aceh.
Saat ini Lisa Sembiring kuliah di FEB Universitas Syiah Kuala (USK). Ayahnya juga tamatan USK dan pensiunan PNS di Pemko Banda Aceh.
Baca juga: Rugi Besar Usai 2 Perwira Tinggi Tewas, Tentara Israel Kabur dari Gaza, Bagaimana Reaksi Hamas?
”Saya tak memakai jilbab. Orang luar Aceh mengira perempuan bukan Islam juga harus memakai jilbab di Aceh,” kata Lisa.
”Kalian gak pernah ke Aceh. Banyak berita tentang Aceh telah ”digoreng”. Makanya saya ajak mereka agar datanglah ke Aceh, lihat langsung kemari,” sambung Lisa.
Roma Sianipar, gadis Katolik di Aceh., Roma tercatat sebagai mahasiswa Prodi Keperawatan di USK. Dia bercerita tentang pengalamannya bergaul dengan muslimah yang merupakan kawan belajar di kampus.
”Persahabatan kami sangat baik. Kami saling merangkul. Saya sering mengingatkan kawan saya untuk menunaikan shalat saat tiba waktunya. Begitu juga mereka ke saya, terutama saat Natal tiba,” ujar Roma Sianipar.
Puspita Safitri, gadis Hindu yang sekolah di Aceh Besar. Dia mengaku aman dan nyaman, walaupun hanya dia seorang diri yang beragama Hindu belajar di sekolah yang terletak di Kecamatan Darul Imarah tersebut.
”Hanya saya sendiri yang beragama Hindu di sekolah saya. Tapi kawan-kawan saya di sekolah baik semua. Saya nyaman di Aceh,” ujar Puspita.
Baca juga: Sambut Libur Akhir Tahun, Polres Aceh Tamiang Siagakan Dua Pos Tepadu di Perbatasan Sumatera Utara
Sementara Fajar, tokoh pemuda dari unsur agama Buddha, mengaku sangat nyaman bagi penganut agama minoritas tinggal dan dalam beribadah di Aceh.
Lebih dari itu, Fajar menjelaskan bahwa di Banda Aceh terdapat empat unit vihara sebagai tempat ibadah penganut agama Buddha. Semuanya terletak di jalan yang sama, Jalan Panglima Polem.
Para peserta berharap pertemuan dan ngopi bareng anak muda lintas agama agar lebih sering dilaksanakan di Aceh. Bukan di Banda Aceh, melainkan juga di kabupaten/kota.
”Pemuda lintas agama jangan hanya diundang dalam pertemuan, tapi perlu diberi kesempatan untuk berbicara,” kata Angel Herlina.
Ketua FKUB Aceh, H A Hamid Zein, pada sesi pembukaan Coffee Morning Pemuda Lintas Agama berpesan agar kerukunan umat beragama di Aceh untuk terus dijaga, terutama oleh Gen Z dan Millenial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dari-kiri-Cut-Intan-Arifah-Roma-Sianipar-Lisa-Sembiring-Fajar-Puspita-Safitri-dan-Afrah.jpg)