Opini
Haji dan Isu Kesehatan Global: Sebuah Memori dan Catatan Petugas Haji
Catatan diatas mengingatkan kita sebagai petugas haji sudah semestinya mempunyai jiwa seperti jiwa Uwais Al-Qarni yang dianggap makhluk langit, dimana
Oleh: Dahrul Fakri SKM MSi dan Safrizal SKM MKM*)
BAGI tenaga kesehatan, menjadi petugas haji merupakan cita-cita yang paling tinggi dalam sebuah pengabdian.
Ada kisah yang menarik yang dituliskan oleh Helmi Hidayat dalam Buku Catatan Petugas Haji: Ketika Allah Cemburu Ka’bah, dimana menjadi petugas haji harus berani berkorban demi kepentingan jemaah.
Praktik ini bisa disaksikan ketika misalnya, petugas yang kakinya melepuh tapi tetap semangat menggendong jemaah lansia, merawat jemaah 24 jam serta menganggap jemaah seperti orang tua sendiri.
Catatan di atas mengingatkan kita sebagai petugas haji sudah semestinya mempunyai jiwa seperti jiwa Uwais Al-Qarni yang dianggap makhluk langit, dimana mampu menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, kita sebagai petugas haji harus mau menggendong jemaah haji khususnya bagi mareka yang lansia, serta selalu memberikan pembinaan, pelayanan, perlindungan yang terbaik bagi jemaah haji.
Dalam surat Ali Imran Ayat 97 Allah Berfirman yang artinya “Disana terdapat tanda-tanda yang jelas, (diantaranya) Maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mnengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.
Dalam pelaksanaan ibadah haji tahun 1444 H/2023 M total jemaah haji Aceh berjumlah 4.563 orang dengan jumlah laki-laki 1.832 orang sedangkan perempuan berjumlah 2.731 orang. Berdasarkan data dari Embarkasi Aceh Bagian Surveilans Epidemiologi (2023). Yang meninggal di tanah suci mencapai 13 orang, dari Certificate of Death (CoD) yang dikelurakan oleh KKHI atau dokter kloter diaganosa yang paling tinggi penyebab kematian jemaah haji adalah Penyakit Sistem Sirkulasi (Cardiovascular).
Apa Kaitan Current Issue and Global Health dengan Haji?
Kita mengetahui bahwa Makkah dan Madinah menjadi tempat berkumpulnya manusia dari seluruh dunia untuk melaksanakan haji, umrah dan berziarah. Tempat utama pelaksanaan ibadah haji itu sendiri berada di Arafah (Haji itu adalah Arafah).
Arafah menjadi tempat berkumpulnya manusia dalam satu waktu dan dalam satu tempat, jumlah total jemaah haji tahun 2023 mencapai 1.8 juta jiwa.
Perkumpulan manusia yang banyak tersebut tentu berisiko penularan penyakit, khususnya penyakit menular, seperti Influenza, Meningitis, Covid 19, Mers Cov, Ebola dan Communicable Diseases lainnya. Pada tahun 2020 dan 2021, sempat terhambat prosesi ibadah haji disebabkan oleh Covid 19.
Sehingga Kerajaan Saudi Arabia (KSA) membatasi jumlah jemaah haji pada tahun-tahun tersebut, dan sudah kembali normal pada prosesi haji tahun 2022 dan 2023. Kerajaan Saudi Arabia (KSA) juga mengharuskan jemaah haji untuk dilakukan vaksinasi meningitis dan Covid 19 sebelum berangkat tanah suci.
Formula 5-5-3 Ala Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
Rabu malam (15 Agustus 2018) Menag Lukman Hakim Saifuddin sebagai “Amirul Hujjaj” mengumpulkan 3.500 petugas haji yang ada di Mekkah. Malam itu disebut juga malam konsolidasi, penuh dengan kehangatan dan kebersamaan, malam itu mirip juga seperti malam konsolidasi pasukan tempur sebelum diberangkatkan ke medan perang.
Para ujung tombak keberhasilan haji dipertemukan dengan para pejabat penting dari Jakarta dan Arab Saudi, diantaranya adalah Dubes RI untuk Arab Saudi, dan dua wakil ketua DPR RI, serta sejumlah wakil rakyat dan pejabat lainnya.
Di tengah keheningan, Menag Lukman Hakim Saifuddin berpidato, konsolidasi ini penting agar semua hati yang hadir, baik para petugas maupun para pejabat negara menyatu dan kompak dalam tekad melayani tamu Allah.
Menag Lukman Hakim Saifuddin juga meminta kepada petugas untuk menjalankan formula 5-5-3, Apa itu formasi 5-5-3?
A. Fase Pra Wukuf
1. Antisipasi berhentinya layanan katering
2. Antisipasi berhentinya layanan bus shalawat
3. Perhatikan kesehatan jemaah
4. Sosialisasikan kondisi Armuzna agar jemaah siap mental
5. Intensifkan bimbingan manasik haji.
B. Fase Wukuf
1. Sweeping (sapu bersih) jemaah yang berada di Makkah agar seluruhnya diberangkatkan ke Arafah pada tanggal 8 Dhulhijjah
2. Pastikan semua jemaah berada di Arafah saat wukuf 9 Dhulhijjah termasuk yang di safari wukufkan
3. Antisipasi pergerakan jemaah dari Arafah ke Muzdalifah ketersediaan bus dan taraddudi
4. Fokus pada pergerakan jemaah dari Muzdalifah ke Mina
5. Monitoring pergerakan jemaah saat melontar jumrah, patuhi jam-jam melontar di Jamarat
C. Fase Pasca Wukuf
1. Seluruh petugas kembali ke pos masing-masing yang telah ditentukan oleh Daker Makkah, Daker Madinah dan Daker Bandara
2. Pastikan kepulangan jemaah haji gelombang 1 kembali ke tanah suci
3. Pastikan pergerakan jemaah gelombang II menuju Madinah berjalan dengan aman dan lancar.
Dari formula tersebut, yang paling sulit dijalankan oleh petugas adalah fase wukuf. Ini adalah fase terberat dalam prosesi ibadah haji. Fase wukuf dimulai sejak jemaah yang berada di hotel-hotel mewah di Makkah diberangkatkan dengan bus.
Caranya sangat luar biasa. Dari 221.000 jemaah haji Indonesia, masing-masing dikumpulkan dalam satu kompi berjumlah 3.000 jemaah, masing-masing kompi tersebut harus diangkut dalam 21 bus dari hotel-hotel mewah yang berada di Makkah dan diberangkatkan ke Arafah, dari Arafah esok harinya habis ashar akan diberangkankan kembali ke Muzdalifah tapi karena jarak Arafah - Muzdalifah pendek, maka setiap kompi 3.000 jemaah haji hanya diangkut oleh 7 bus.
Dipertengahan malam itu juga jemaah haji diberangkatkan kembali dari Muzdalifah ke Mina dengan bus yang sama, pengalaman kami sebagai petugas, pergerakan jemaah dari Muzdalifah ke Mina merupakan kondisi yang paling berat yang dialami oleh jemaah dari semua prosesi ibadah haji, disinilah jemaah butuhkan kesabaran yang tinggi dan sambil jemaah haji bertalbiah “Labbaik Allahumma Labbaik…”.
Haji Sehat Haji Mabrur
Jemaah haji Indonesia sebagian besar (1 dari 3 jemaah haji) adalah lansia dan terjadi tren peningkatan setiap tahun, serta memiliki risiko tinggi kesehatan, misalnya usia diatas 60 tahun, memiliki masalah potensial kesehatan seperti penyakit cardiovascular, metabolik, paru (saluran pernafasan), ginjal, hypertensi dan gangguan kejiwaan seperti (skizofrenia, gangguan bipolar).
Seluruh jemaah haji wajib mengikuti 3 kali pemeriksaan kesehatan (tahap 1 Puskesmas, tahap 2 Rumah Sakit Daerah dan tahap 3 Embarkasi/Asrama Haji) sebelum diberangkatkan ke tanah suci. Vaksinasi yang diharuskan adalah meningitis dan vaksin covid 19 lengkap.
Hal yang sangat penting dijaga oleh jemaah saat berada di tanah suci yaitu:
1). Minum air putih sesuai kebutuhan (sangat baik kalau yang diminum air zamzam), bila selesai Tawaf minum 2 gelas air zamzam, selesai Sai juga minum 2 gelas air zamzam. Saat wukuf di Arafah maka air putih dicampur dengan oralit dan diminum per 2 jam di mulai selesai shalat subuh, yaitu jam 6, 8, 10, 12, 14 dan jam 16 Waktu Saudi Arabia (WSA), untuk menghindari heat stroke (heat stroke sering terjadi saat wukuf di Arafah). lihatlah warna urine saat buang air kecil kalau warna urine kecoklatan dan kuning tua maka diperlukan minum yang banyak, serta jangan tunggu haus baru minum,
2). Makan makanan sesuai dengan yang dibagikan di kloter (nasi, ikan/daging dan sayur), apabila masih kurang bisa ditambah dengan buah-buahan dan roti, ditanah suci sangat mudah mendapatkan buah-buahan seperti kurma sangat dianjurkan,
3). Menggunakan payung apabila keluar hotel untuk menghindari sengatan panas (heat stroke).
4). Selalu memakai sendal bila keluar hotel dan keluar dari Masjid Haram, bila perlu bawakan 1 pasang sendal cadangan di tas untuk jaga-jaga apabila sendal hilang.
5. Memakai kaca mata bila keluar hotel untuk menghindari iritasi mata yang bisa menyebabkan mata merah/sakit mata.
6. Memakai masker saat keluar dari hotel untuk mencegah penularan penyakit melalui udara dan menghindari dari penyakit asma (bagi yang alergi debu).
7. Bagi penderita penyakit degenarif, seperti hypertensi, gula dan lainnya utuk rutin minum obat sesuai anjuran dokter serta rutin memeriksa kondisi kesehatan ke pos kesehatan kloter yang buka 24 jam.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi calon petugas haji dan calon jemaah haji tahun 1445 H/2024 M. Tugasku adalah ibadahku.
*) Dahrul Fakri SKM MSi, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran USK
Alumni Magister Ilmu Kebencanaan USK
TKHI 2016, 2018 dan 2019
PNS Pada Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Sabang
*) Safrizal SKM MKM
Alumni Magister Kesehatan Masyarakat Unmuha Aceh
PPIH 2016 dan 2018
PNS Pada Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Banda Aceh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dahrul-Fikri-73u3.jpg)