Perang Gaza
Polisi AS Tangkap 900 Mahasiswa Pro Palestina dalam Protes Antigenosida di Gaza
Protes selama berminggu-minggu telah memicu tanggapan politik Amerika yang berbeda. Beberapa pihak mengutuk anti-Semitisme, namun yang lain khawatir a
SERAMBINEWS.COM - Setidaknya 900 orang telah ditangkap di kampus-kampus AS sejak 18 April ketika polisi New York memindahkan kamp pengunjuk rasa pro-Palestina di Universitas Columbia dan menangkap lebih dari 100 demonstran.
Mahasiswa di puluhan universitas sejak itu mendirikan perkemahan untuk menyerukan diakhirinya perang Israel di Gaza dan agar universitas mereka memutuskan hubungan dengan perusahaan yang menjual senjata ke Israel.
Lebih dari 290 orang ditangkap pada hari Sabtu dari protes di Universitas Northeastern di Boston, Universitas Negeri Arizona, Universitas Indiana di Bloomington, dan Universitas Washington di St Louis.
Anggota fakultas di beberapa universitas telah menyatakan dukungan mereka terhadap mahasiswa, termasuk di universitas di California, Georgia dan Texas, di mana mereka mengadopsi mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan mereka.
Baca juga: Kampanye ‘Retakkan Tulang Zionis’ Menggema di Seluruh Dunia, Kemlu Iran: AS Tidak Memiliki Moral
Protes selama berminggu-minggu telah memicu tanggapan politik Amerika yang berbeda. Beberapa pihak mengutuk anti-Semitisme, namun yang lain khawatir akan pelanggaran kebebasan karena lembaga-lembaga tersebut secara paksa membubarkan protes dan memenjarakan ratusan mahasiswa.
Ketika demonstrasi "dukungan untuk Gaza, protes terhadap Israel" menyebar ke kampus-kampus di seluruh Amerika Serikat, ratusan mahasiswa berkumpul di halaman Universitas George Washington di ibu kota, Washington, juga mengorganisir demonstrasi.
Ditemani oleh mahasiswa Palestina serta mahasiswa Yahudi Amerika dan latar belakang etnis dan agama lainnya, seorang aktivis berusia 88 tahun yang selamat dari Holocaust juga berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut.
Bergabung dengan barisan pengunjuk rasa adalah Marione Ingram yang berusia 88 tahun, seorang penyintas Holocaust Yahudi yang menjadi aktivis perdamaian.
Ingram menuntut diakhirinya kekerasan di Gaza, menyerukan agar Amerika menghentikan pendanaan konflik dan agar Israel menghentikan serangannya terhadap wilayah tetangga.
Ingram berkata, "Saya adalah seseorang yang selamat dari Holocaust. Saya di sini untuk memprotes pembantaian di Gaza. Saya ingin Amerika berhenti mendanai pembantaian ini. Saya ingin Israel berhenti membom tetangganya."
Dengan keras mengkritik pemerintah Israel dan pemerintah AS yang mendukungnya, Ingram mengatakan, "Lebih dari 34.000 orang telah terbunuh, 15.000 di antaranya adalah anak-anak," menyatakan bahwa ini bukan pembelaan diri dan anak-anak yang meninggal tidak berhak membela diri.
Kekerasan polisi "tidak manusiawi"
Sementara itu, seorang pengunjuk rasa bernama Rafi, yang merupakan mahasiswa di Universitas George Washington, menyoroti kekerasan yang dilakukan polisi terhadap aktivis di beberapa universitas di Amerika Serikat.
Rafi menyatakan bahwa situasi ini "tidak manusiawi" dan semua gambar ini disiarkan langsung di media sosial, mengingatkan para aktivis yang diikat di belakang punggung dan menjadi sasaran kekerasan polisi.(*)
| Armada Sumud Dekati Gaza, Angkatan Laut hingga Drone 3 Negara Kawal Kapal Bantuan |
|
|---|
| 20 Poin Kesepatakan Trump & Netanyahu, TNI Siap Dikerahkan ke Gaza? |
|
|---|
| Tuai Pro Kontra Internasional, Siapa Tony Blair yang Disebut Bakal Pimpin Transisi Gaza? |
|
|---|
| IDF Semakin Bar-bar, 48 Ribu Warga Gaza Terpaksa Mengungsi, Israel Buka Rute Baru Selama 48 Jam |
|
|---|
| Ungkap 9 Langkah Hentikan Genosida di Gaza, Spanyol Embargo Senjata dan Minyak Israel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Demonstran-anti-pemerintah-Israel-di-Yerusalem-pada-31-Maret-2024.jpg)