Kamis, 9 April 2026

Perang Gaza

Mantan Menteri Minta Israel Akhiri Perang, dan Hamas Harus Tinggalkan Gaza

Israel tidak mampu bagi Hamas untuk terus memerintah Gaza, namun hal ini berarti bahwa kita harus melanjutkan perang ini

Editor: Ansari Hasyim
tangkap layar Memo/Getty Images
SIAGA TEMPUR - Puluhan tank dan kendaraan lapis baja Mesir dalam status siaga tempur di wilayah Sinai dekat perbatasan Rafah. Pengerahan militer Mesir itu tersebut terjadi menjelang perluasan operasi militer Israel (IDF) di sekitar kota Rafah di Gaza selatan. 

SERAMBINEWS.COM - Yossi Beilin, yang menjabat sebagai menteri kehakiman Israel dari 1999 hingga 2001, mengatakan ada dua langkah kunci yang harus diambil Israel untuk mengakhiri perang di Gaza: pertama, mengamankan pertukaran tawanan-tawanan dengan Hamas; dan kedua, mengasingkan para pemimpin Hamas dari Gaza.

“Israel tidak mampu bagi Hamas untuk terus memerintah Gaza, namun hal ini berarti bahwa kita harus melanjutkan perang ini selamanya dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah di kedua sisi,” Beilin mengatakan kepada Al Jazeera.

“Sudah cukup.”

Jika Hamas melepaskan kepemimpinannya, kata Beilin, Israel harus menarik diri dari daerah kantong tersebut dan kekuatan multilateral negara-negara Arab dan negara-negara lain harus memerintahnya untuk masa transisi beberapa tahun.

“Saya yakin, ini adalah solusi paling masuk akal untuk masalah ini,” kata Beilin.

Para pejabat Hamas telah berulang kali mengatakan pemerintahan Gaza adalah urusan Palestina yang murni.

Biden Marah ke Israel, Ini Jenis Bom AS yang Dibatal Dikirim ke Zionis untuk Bunuh Warga Palestina

Para pejabat AS mengkonfirmasi pada hari Rabu bahwa Washington menghentikan pengiriman amunisi ke Israel lantara Israel menyerang Kota Rafah yang dihuni 1, l4 juta jiwa pengungsi Palestina.

Tindakan Israel ini membuat Presiden AS marah sehingga membatalkan pengiriman senjatanya ke tentara Zionis.

Senjata yang dibatalkan itu berupa 1.800 bom seberat 2.000 pon (907kg) dan 1.700 bom seberat 500 pon (227kg) ke Israel karena berisiko terhadap warga sipil di Gaza.

Empat sumber mengatakan kepada Reuters bahwa pengiriman yang tertunda setidaknya selama dua minggu melibatkan Joint Direct Attack Munitions buatan Boeing, yang mengubah bom bodoh menjadi bom berpemandu presisi, serta Bom Diameter Kecil (SDB-1).

Mereka adalah bagian dari pengiriman yang disetujui sebelumnya ke Israel, bukan paket bantuan tambahan $95bn baru-baru ini yang disetujui Kongres AS untuk Ukraina, Israel dan Taiwan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved