Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Ketika Mualem Berziarah ke Makam Syeikh As-Sumatrani

Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani adalah seorang mufti dan penasihat Sultan Iskandar Muda. Ia juga dikenal sebagai seorang pembesar dan penghulu agama

Tayang:
Editor: IKL
Tidak Ada
ZIARAH KE MAKAM - Muzakir Manaf bersama rombongan dari Malaysia dan Aceh berziarah ke makam Syeikh Syamsuddin Ibn Abdullah As-Sumatrani, di Kampung Ketek, Melaka, Malaysia, Kamis (23/5/2024). 

SERAMBINEWS.COM - Waliyul ‘Ahdy Wali Nanggroe yang juga Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf, berziarah ke makam Syeikh Syamsuddin Ibn Abdullah As-Sumatrani, di Kampung Ketek, Melaka, Malaysia, Kamis (23/5/2024).

Syeikh Syamsuddin As-Sumatran adalah ulama besar Aceh yang hidup pada abad ke-16 dan ke-17 Masehi.

Informasi diperoleh Serambi, Muzakir Manaf atau yang lebih dikenal dengan nama Mualem, datang ke Malaka bersama Presiden Persatuan Melayu Berketurunan Aceh (Permebam) Datuk Mansyur bin Usman, dan warga Aceh di Malaysia, Bayhaqi.

Terlihat juga sejumlah orang dari Aceh, seperti H. Abdul Jalil (Direktur Yayasan Al-Sumatrani), Hasbalah (Ketua DPW PA Aceh Besar), Safaruddin (Wakil Ketua DPRA), Tarmizi S.P (Anggota DPRA), Hendri Muliana (Anggota DPRA terpilih), H. Sulaiman Tole (pengusaha asal Aceh Timur), dan sejumlah anggota rombongan lainnya.

Makam Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani ini terletak di Kampung Ketek, sebuah kampung yang berada di tengah-tengah kota tua Melaka, Malaysia.

Kampung yang nuansanya penuh dengan rumah penduduk berarsitektur khas Melayu masih bertahan walau zaman sudah beralih ke modern.

Untuk mencapai makam ini, pengunjung harus memasuki lorong kecil yang tidak bisa dilewati oleh mobil. Namun sepanjang lorong ini terlihat sangat bersih dan rapi.

Sebuah prasasti menjelaskan secara ringkas siapa Syeikh Syamsuddin AsSumatrani. Dari prasasti ini kita bisa tahu bahwa Syeikh Syamsuddin datang ke Melaka sebagai bagian dari ribuan mujahidin Aceh yang berperang mengusir penjajah Portugis, demi kebebasan Islam untuk Melayu di Tanah Melaka.

Berikut tulisan lengkap di prasasti: “Nama sebenar beliau Syed Syamsuddin Ibni AlSumatra. Beliau merupakan seorang ulama, sastrawan, dan pahlawan terbilang di Negeri Acheh di zaman Pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Apabila Melaka ditakluki oleh Portugis pada tahun 1511, Acheh sering menyerang Portugis di Melaka. Tujuan serangan dilakukan adalah untuk mengembalikan Melaka kepada keadaan asal dan bebas dari jajahan takluk orang-orang Barat dan juga untuk menegakkan syiar Islam.

Dalam salah satu serangan yang dilakukan oleh Angkatan Tentera Acheh terhadap Portugis di Melaka, Syamsuddin Al-Sumatrani telah turut serta. Bersama-sama beliau iayalah panglima-panglima Acheh, termasuk Panglima Pidi.

Angkatan tentera Acheh gagal untuk menewaskan Portugis Syamsuddin Al-Sumatrani dikatakan tidak kembali bersama-sama angkatan perang Acheh. Beliau dan Panglima Pidi dipercayai telah terkorban jasad.

Panglima disemadikan di Puncak Gedung (Bukit China) dikenali sebagai keramat panjang manakala jasad Syamsuddin Al-Sumatrani disemadikan di Kampung Ketik, Melaka.” Dikutip dari berbagai sumber, Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani adalah seorang mufti dan penasihat Sultan Iskandar Muda.

Ia juga dikenal sebagai seorang pembesar dan penghulu agama, juga syeikh terkemuka yang berada di lingkungan istana kerajaan Aceh Darussalam.

Dikutip dari Wikipedia.org, Frederick de Houtman dalam bukunya Cort Verhael van’t Wedervaren is Frederick de Houtman, Tot Atchein (1603), mengutip catatan orang Eropa yang berjumpa Syeikh Syamsuddin, menyebut Syeikh
Shamsuddin bi Abdullah As Sumatrany, merupakan penasihat agung Sultan Saidil Mukammil.

Orang Eropa ini mengaku bahwa Syeikh ini sempat mengajak dia masuk Islam. Pengaruh Syeikh Syamsuddin As-Sumatrany dalam kerajaan Aceh Darussalam juga dicatat oleh Sir James Lacaster ketika berkunjung ke Aceh pada tahun 1602.

Dalam bukunya The Voyages of Sir James Lascaster, Lacaster menyebut Syeikh Shamsuddin sebagai “a man of great estimation with the king and the peoples (seorang pria yang memiliki pengaruh besar terhadap raja dan rakyat).” James Lacaster bahkan ditanyakan oleh Syeikh Shamsuddin, “Sir, what reasons shall we show to the king, from you whereby he may grants these things which you have demanded to be granted by him (Alasan apa yang akan kami tunjukkan kepada raja, agar dia mengabulkan permintaan Anda).”

Sampai akhir hayatnya beliau merupakan seorang Qadhi di Kesultanan Aceh, sebelum akhirnya meninggal dunia dalam pertempuran melawan penjajah Portugis di Melaka.(nal)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved