Minggu, 19 April 2026

Video

VIDEO - Mencicipi Salak Manis Asal Paya Guci Tangse Pidie

Komoditas tanaman itu ditanam petani setelah konflik bersenjata di Aceh berganti dengan perdamaian, yang ditandai dengan penandatangan MoU Helsinki.

Penulis: Muhammad Nazar | Editor: m anshar

Laporan Muhammad Nazar I Pidie

SERAMBINEWS.COM, SIGLI- Kecamatan Tangse tidak saja dikenal dengan kopi panah atau liberika, yang sudah lama dibudidayakan petani.

Saat ini, petani di Gampong Paya Guci, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie telah melirik menanam tanaman salak.

Komoditas tanaman itu ditanam petani setelah konflik bersenjata di Aceh berganti dengan perdamaian, yang ditandai dengan penandatangan MoU Helsinki, Filandia antara GAM dengan Pemerintah RI.

Sejak itulah, situasi kondusif menyelimuti Aceh. Sehingga masyarakat sudah leluasa pergi berkebun.

Petani di Gampong Paya Guci memilih menanam salak, mengingat perawatannya mudah hingga pemasaran tidak susah. Kehadiran salak di Tangse akan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berwisata di alam indah Tangse.

Sebagian petani membudiayakan salak di pekarangan rumah. Salah yang telah dipanen itu telah berumur tiga tahun.

Saat ini, kebun salak di Paya Guci Tangse telah berumur 18 tahun. Petani setempat pun sudah beberapa kali panen.

Salak itu dipasarkan dengan dijual dipinggir jalan nasional Beureunuen - Tangse. Selain itu, masyarakat membeli yang langsung datang ke kebun salak. Rasa salak Paya Guci manis, yang dibandrol Rp 15 ribu per kg.

Budidaya salak sangat mudah, sehingga ramai petani di Paya Guci beralih menanam salak. Petani Paya Guci mampu membudidayakan salak setelah memperoleh ilmu dari Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. (*)

Narator: Suhiya Zahrati

Video Editor: M Anshar

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved