Kamis, 23 April 2026

DERAP NUSANTARA

Menjajaki Potensi Kopi dari Kaki Gunung Rinjani di Pasar Global

Potensi kopi Indonesia berda sarkan indikasi geografis (IG) menarik bagi pasar internasional, khususnya Eropa dan Amerika. Namun demikian, proses.....

Editor: IKL
(ANTARA/HO-ANTARA/HO-COOP COFFEE)
CEO Coop Coffee Indonesia, Reza Fabianus saat saat memetik kopi di kawasan Sembalun, Lombok Timur, NTB, Jumat (26/01/2024). 

SERAMBINEWS.COM - Potensi kopi Indonesia berda sarkan indikasi geografis (IG) menarik bagi pasar internasional, khususnya Eropa dan Amerika. Namun demikian, proses pascapanen komoditas tersebut harus memenuhi standar yang dibutuhkan pasar dunia.

IG adalah tanda yang menun jukkan daerah asal suatu produk yang menitikberatkan pada faktor lingkungan geografis untuk meningkatkan nilai jual produk.

Faktor lingkungan geografis memberikan ciri dan kualitas pada produk yang dihasilkan. Faktor tersebut dapat berupa faktor alam, faktor manusia atau faktor keduanya.

Tuntutan pasar dunia ini membuat Kementerian Koperasi UKM berkolaborasi dengan salah satu perusahaan kopi dengan cara menjajaki 50 titik potensi dan kualitas kopi di Indonesia dengan kondisi geografis di masing-masing wilayah.

Salah satu nya di kawasan Sembalun, Lom bok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penjajakan tersebut juga dalam rangka memberdayakan petani tradisional menjadi pe tani profesional. Kementerian Koperasi UKM berkomitmen meningkatkan ka pasitas pengusaha mikro kecil menengah melalui fasilitasi, sin kronisasi dan koordinasi kemit raan, pada akses pembiayaan pemasaran dan pemanfaatan teknologi.

Karena itu, fokus utama pe layanan Kemenkop UKM pada mayoritas UMKM yakni petani dan nelayan. Namun demikian, perlu kolaborasi antara tiga entitas yaitu koperasi, perusahaan (PT) dan kegiatan yayasan.

CEO Coop Coffee Indonesia, Reza Fabianus saat sosialisa si dan serap aspirasi petani di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat, 26 Januari 2024, mengatakan bahwa pen jajakan potensi kopi Sembalun dilakukan setelah sukses meng antar Kopi Kintamani, Bali, menembus bisnis kopi Starbucks. Starbucks Corporation ada lah sebuah perusahaan kopi dan jaringan kedai kopi global asal Amerika Serikat yang berkantor pusat di Seattle, Washington.

Sejak tahun 2015, Reza yang saat itu masih di Koperasi Nasi onal (Kopnas) mengaku sempat mendampingi para petani kopi Kintamani mulai dari edukasi pascapanen hingga pemasaran.

Harapannya saat itu adalah ke inginan kuat agar kopi tersebut mampu menembus pasar dunia. Untuk itu, diperlukan upaya te rus menerus guna menjaga kuali tas kopi dengan cara memberikan edukasi kepada kelompok petani, termasuk harus petik saat buah merah, pemrosesan hingga jadi green bean dan akhirnya Starbuc ks mau menerima kopi tersebut.

Namun demikian, karena per dagangan kopi dunia menuntut adaptasi bisnis dengan pergerakan yang cepat maka kemudian timbul ide membangun perusa haan perdagangan kopi berbasis koperasi.

Sementara itu, terkait penja jakan ini sejalan dengan keikut sertaan salah satu perusahaan kopi Indonesia dalam Pameran Agrikultur terbesar di Eropa yai tu SIA Paris Expo di akhir Febrari 2024. SIA Paris Expo mengusung tema "Komoditas pertanian ber basis Indikasi Geografis".

Kopi Sembalun menjadi model awal fasilitasi, sinkronisasi dan koordinasi kemitraan pada akses pembiayaan pemasaran serta pemanfaatan teknologi.

Kemen kop UKM bersama perusahaan kopi memasarkan kopi dari Sem balun di kaki Gunung Rinjani ke pasar Eropa, yang sudah terkola borasi dengan Kemenlu, KBRI di Paris dan Mitra BUMN.

Jadi, upaya menemui para petani kopi Sembalun di Lom bok adalah untuk meningkatkan akses pasar, sehingga kopi dari daerah ini memiliki pasar lokal maupun global yang baik.

Gerakan tersebut akan dapat dicapai dengan kolaborasi bersama antara entitas bisnis, ke menterian/lembaga seperti Ke menkop UKM sebagai penggerak. Sedangkan dalam rangka efek tifitas pelaksanaan kerja sama kemitraan kopi berbasis Indikasi Geografis (IG), perlu dukungan koordinasi dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan terkait, para petani kopi dan juga UMKM setempat, selain perbankan se bagai akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved