UNESCO-USK Gelar Workshop Tentang Kesiapan AI, Rektor Sebut Pihak Kampus Siap Berperan
“Kami sangat gembira dapat menjadi tuan rumah acara penting ini yang menitikberatkan pada etika dan tata kelola AI...
Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Eddy Fitriadi
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Departemen Informatika FMIPA Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan UNESCO, badan PBB untuk ilmu pengetahuan dan budaya, menggelar Workshop Konsultatif mengenai Metodologi Penilaian Kesiapan AI (RAM AI) di Indonesia.
Acara yang berlangsung, Kamis (11/7/2024) berkolaborasi juga dengan Kominfo dan Korika (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial).
Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof Dr Ir Marwan menegaskan, komitmen USK untuk berperan dalam kemajuan teknologi di Indonesia.
“Kami sangat gembira dapat menjadi tuan rumah acara penting ini yang menitikberatkan pada etika dan tata kelola AI, dengan metodologi pengukuran kesiapan penerapan teknologi AI yang dikembangkan oleh Unesco,”ujarnya.
Kata Rektor, AI telah menjadi teknologi utama yang mengubah berbagai aspek kehidupan dan industri. Potensi AI dalam meningkatkan efisiensi, inovasi, dan daya saing semakin diakui secara global. Namun, untuk memaksimalkan potensi AI, diperlukan kesiapan yang komprehensif dalam infrastruktur, sumber daya manusia, dan strategi implementasi. “Metodologi Penilaian Kesiapan AI adalah pendekatan yang membantu kita menilai kesiapan mengadopsi teknologi AI,” tutupnya.
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Aceh, Marwan Nusuf B.HSc M.A juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, kita dapat memastikan perkembangan AI di Indonesia sesuai dengan prinsip etika dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Presiden Korika, Prof Dr Ir Hammam Riza M.Sc IPU menambahkan, workshop ini merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan Indonesia mengadopsi AI. “Kami berharap dapat mengumpulkan wawasan berharga dari berbagai pihak untuk menyusun strategi nasional yang komprehensif,” ujar Prof Hammam Riza.
Dekan FMIPA USK, Pro Dr Taufik Fuadi Abidin S.Si M.Tech, yang juga pakar AI menjelaskan, perkembangan pesat kecerdasan buatan memerlukan kesiapan matang dalam berbagai aspek, termasuk sumber daya manusia (talenta).
Katanya, sejak tahun 2019, Departemen Informatika telah mempersiapkan talenta AI dengan membuka Program Studi Magister Kecerdasan Buatan. Melalui Projek Erasmus, bersama mitra dari Eropa dan konsorsium beberapa perguruan tinggi di Asia, Program S2 Kecerdasan Buatan didirikan pada tahun 2021.
Program ini telah meluluskan beberapa individu dengan capaian luar biasa. Pada tahun 2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika, bekerja sama dengan USK, menyediakan 20 beasiswa penuh untuk mahasiswa baru S2 AI yang lolos seleksi.
Workshop ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Undral Ganbaatar dari UNESCO, Aries Kusdaryono dari Kominfo, dan Adya Danaditya dari Korika.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.