Citizen Reporter
'Farmers Market', Tradisi 'Uroe Peukan' di Amerika Serikat
Saya masih ingat betul betapa pasar uroe peukan yang diselenggarakan setiap Jumat di sana menjadi momentum yang selalu saya tunggu-tunggu.
MARTHUNIS, M.A., Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie dan Anggota FAMe Chapter Pidie, melaporkan dari Washington DC, Amerika Serikat
Saat masih di Kota Chico, California, saya sempat berkunjung ke 'farmers market' yang dibuka setiap hari Sabtu. Pada saat tiba di Washington DC pun saya menemukan juga 'farmers market' di beberapa ruas jalan berbeda yang dibuka pada hari yang berbeda pula. 'Farmers market' atau pasar petani ini mengingatkan saya pada tradisi pasar uroe peukan (pasar mingguan) yang ada di Aceh. Pasar rakyat dengan harga yang lebih miring menjajakan beragam jajanan kuliner, kebutuhan rumah tangga berupa pangan, sandang, dan aneka perlengkapan, serta aksesori kebutuhan lainnya.
Saya coba melempar kembali ingatan masa kecil saya yang masih berkesan dan membekas hingga saat ini mengenai uroe peukan. Ketika itu saya banyak menghabiskan waktu di Pucok Alue, kampung kelahiran saya di Kecamatan Peudada, Bireuen. Saya masih ingat betul betapa pasar uroe peukan yang diselenggarakan setiap Jumat di sana menjadi momentum yang selalu saya tunggu-tunggu. Ketika uroe peukan tiba, almarhum mami (nenek) saya selalu membawakan kami cucu-cucunya yang sudah menunggu di atas pondok kecil di pekarangan rumah berupa 'bada' (pisang goreng) dan kopi khas hari pekan.
Sulit menggambarkan rasa bahagia saya kala itu begitu dari kejauhan melihat nenek menenteng plastik keresek berisi bada dan kopi. Kami setengah berebut begitu nenek tiba di depan rumah. Dulu uroe peukan terasa begitu ramai dan meriah, mungkin karena belum adanya toko-toko retail dan pasar-pasar modern seperti saat ini. Meskipun tidak seramai dan semeriah dulu, nyatanya pasar uroe peukan masih tetap eksis hingga saat ini.
Di Amerika Serikat (AS), tradisi pasar uroe peukan yang mereka namai dengan 'farmers market' memiliki sejarahnya tersendiri. Secara harfiah, 'farmers market' bermakna pasar petani. Hal ini dilatarbelakangi pada masa kolonial di AS sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat kala itu. Pasar ini menjadi tempat petani lokal menjual produk-produk segar mereka langsung kepada konsumen dalam bentuk buah-buahan, sayur-sayuran, dan ragam produk hewani lainnya. Namun, pada abad ke-19 dengan munculnya revolusi industri dan perkembangan sistem transportasi, distribusi makanan mulai berubah. Supermarket dan toko grosir mulai bermunculan dan saat itu pamor pasar ini menurun popularitasnya.
Ketika pertengahan abad ke-20, 'farmers market' mengalami kebangkitan kembali dikarenakan kesadaran konsumen akan pentingnya makanan segar dan lokal sehingga mendorong mereka mencari alternatif selain supermarket.
Lalu adanya gerakan kembali ke Alam (back to nature) pada tahun 1960-an dan 1970-an yang menekankan pentingnya pertanian lokal dan organik. Kemudian juga didukung oleh regulasi pemerintah seperti lahirnya Undang-Undang Direct Marketing Act di California pada tahun 1977 yang memfasilitasi pembukaan lebih banyak 'farmers market'. Saat ini, 'farmers market' telah ada di hampir setiap kota besar dan banyak komunitas pedesaan di seluruh AS, yang mencerminkan perubahan budaya dan ekonomi yang kembali menghargai pertanian lokal dan makanan segar.
Saat ini, dalam gelaran 'farmers market' yang saya temui tidak hanya menjual produk-produk dari petani saja, tetapi juga menjual ragam pernak-pernik aksesori, suvenir, dan sebagainya. 'Farmers market' juga telah menjadi medium hiburan bagi masyarakat AS seperti adanya atraksi sulap atau penyanyi jalanan yang memanfaatkan 'farmers market' untuk mencari cuan. Hampir mirip dengan uroe peukan di Aceh yang juga memiliki atraksi hiburan dalam bentuk akrobat sulap misalnya maupun urueng meukat ubat (tukang jual obat) dengan strategi narasi yang unik demi menarik banyak orang datang untuk berbelanja di sana.
Kini, popularitas 'farmers market' terus meningkat pesat, didorong oleh minat yang tumbuh dalam makanan organik, keberlanjutan, dan dukungan terhadap ekonomi lokal.
Pasar ini juga telah berfungsi sebagai tempat pusat komunitas yang menawarkan kegiatan, musik, dan acara budaya. Terdapat pertumbuhan signifikan dalam jumlah pasar petani di seluruh Amerika Serikat. 'Farmers market' kini dilihat sebagai bagian penting dari infrastruktur pangan lokal, mendukung petani kecil, mengurangi jejak karbon, dan menyediakan akses ke makanan segar dan sehat. Dan yang mengesankan dalam tata kelola 'farmers market' di AS adalah hadirnya pemerintah dalam upaya mendukung dan memberdayakan pasar mingguan ini menjadi lebig baik. Banyak 'farmers market' yang menerima manfaat pemerintah seperti SNAP (Supplemental Nutrition Assistance Program), yang membuatnya lebih mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat.
Sedangkan di Aceh, tradisi uroe peukan atau ada juga yang menyebutnya sebagai uroe gantoe telah dimulai pada abad ke-16 dan ke-17 pada zaman Kesultanan Aceh. Sejak saat itu, pasar mingguan ini telah menjadi tempat bagi masyarakat untuk bertemu, berinteraksi, dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ini juga menjadi sarana bagi petani dan perajin lokal untuk memasarkan produk-produk mereka. Selain fungsi ekonomi, uroe peukan juga memiliki fungsi sosial, menjadi tempat berkumpulnya warga dalam mempererat hubungan sosial dalam komunitas. Harus diakui bahwa kian hari pasar uroe peukan di Aceh semakin tergerus oleh retail-retail modern saat ini. Perlu upaya bersama untuk menjaga khasanah tradisi uroe peukan ini agar tetap berjalan dengan baik. Oleh karena itu, hadirrnya pemerintah untuk memberikan dukungan dan bantuan sudah semestinya dilakukan.
Sama halnya seperti 'farmers market' di AS yang telah bertahan ratusan tahun hingga saat ini, semoga pasar uroe peukan di Aceh juga masih akan tetap eksis di mana-masa mendatang di tengah gempuran ragam supermarket dan pasar modern. Semoga pasar uroe peukan masih tetap menjadi salah satu pilihan masyarakat Aceh dalam berbelanja demi terus dapat memberdayakan geliat ekonomi pedagang-pedagang kecil di Serambi Makkah ini.
Citizen Reporter
Penulis CR
Farmers Market
Tradisi Uroe Peukan di Amerika Serikat
Farmers Market Tradisi Uroe Peukan di Amerika Seri
Tradisi Uroe Peukan
MARTHUNIS MA
| Dari Sopir Truk Menjadi Pengusaha: Raja Khatami Berbagi Waktu untuk Bisnis Sambil Kuliah di UNIKI |
|
|---|
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MARTHUNIS-MA-OKEEEH.jpg)