Konflik Semenanjung Korea

Tentara Korea Selatan Melepaskan Tembakan Peringatan ke Korea Utara, Konflik Semenanjung Memanas!

Militer Korea Selatan melepaskan tembakan peringatan ke selatan garis demarkasi militer sebagai respon terhadap aksi pengeboman jalan oleh Korea Utara

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
AFP/Ed JONES
Tentara Korea Selatan berpatroli di Inje, dekat perbatasan Korea Utara 

Tentara Korea Selatan Melepaskan Tembakan Peringatan ke Korea Utara, Konflik Semenanjung Memanas!

SERAMBINEWS.COM – Militer Korea Selatan melepaskan tembakan peringatan ke selatan garis demarkasi militer sebagai respon terhadap aksi pengeboman jalan yang dilakukan oleh Korea Utara.

Insiden ini terjadi setelah militer Korea Utara dilaporkan meledakkan bom di beberapa bagian jalan yang menghubungkan kedua negara di bagian timur dan barat Semenanjung Korea.

Menurut pejabat pertahanan Korea Selatan, peledakan jalan oleh Korea Utara tidak mempengaruhi sama sekali dengan negara tersebut.

Namun, sebagai tindakan balasan, militer Korea Selatan melakukan tembakan peringatan ke wilayah selatan garis demarkasi militer.

"Angkatan bersenjata kami melakukan penembakan balasan di wilayah selatan garis demarkasi militer," kata pejabat itu, kantor berita TASS melaporkan, Selasa (15/10/2024).

Sebelumnya, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan bahwa militer Korea Utara telah meledakkan bom di bagian timur dan barat semenanjung dalam upaya yang tampaknya bertujuan untuk menyabotase jalan menuju Korea Selatan

Menurut Korea Selatan, prajurit Korea Utara melanjutkan "kegiatan tambahan dengan menggunakan peralatan berat."

Tentara Korea Selatan hari Selasa, 18 Juni 2024, memberi tembakan peringatan untuk menghalau tentara Korea Utara yang sebentar melintasi perbatasan darat yang dijaga ketat.
Tentara Korea Selatan hari Selasa, 18 Juni 2024, memberi tembakan peringatan untuk menghalau tentara Korea Utara yang sebentar melintasi perbatasan darat yang dijaga ketat. (AP Photo)

Konflik di semenjung Korea ini semakin memanas ketika Korea Utara mendeteksi tiga pesawat nirawak milik Korea Selatan menyusup masuk ke Pyongyang.

Korea Utara mengungkapkan hal ini dapat menyebabkan konflik bersenjata yang bahkan dapat meningkat menjadi perang.

Kementerian Luar Negeri Korea Utara pada Jumat (11/10/2024) sore, mengatakan Korea Selatan pertama kali mengirim pesawat tanpa awak yang membawa selebaran ke Pyongyang pada 3 Oktober.

Pesawat nirawak itu kembali menyuspi wilayah Korea Utara pada 9 Oktober dan 10 Oktober 2024.

“(Hal itu) merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan keselamatan nasional dan pelanggaran hukum internasional yang kejam,” kata kementerian tersebut.

Korea Utara menuntut agar Korea Selatan segera mengakhiri “provokasi berbahaya” yang menurutnya dapat menyebabkan konflik bersenjata yang bahkan dapat meningkat menjadi perang.

"Dengan semua pasukan pertahanan yang siap, kami mengeluarkan peringatan keras ini kepada Korea Selatan sebagai ultimatum terakhir," tambah kementerian itu.

"Tidak akan ada peringatan seperti itu lagi, dan kami akan segera bertindak jika Korea Selatan melakukan tindakan provokatif lagi dengan menerbangkan pesawat nirawak ke wilayah udara Korea Utara," imbuhnya. 

Korea Utara juga merilis foto-foto pesawat tak berawak yang diklaimnya telah ditangkap, serta foto-foto selebaran dan bundel propaganda yang dikirim dari Korea Selatan.

Menyusul insiden itu, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengadakan pertemuan dengan pejabat keamanan tinggi untuk membahas kejadian tersebut.

Pada pertemuan yang diadakan Senin (14/10/2024), Kim Jong Un menerima laporan tentang rencana Korea Utara untuk menghadapi provokasi serius musuh, termasuk rencana tindakan balasan militer dan situasi terkait operasi intelijen Korea Utara.

Militer Korea Utara mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah memerintahkan unit artileri garis depan untuk sepenuhnya siap melepaskan tembakan.

Dalam pertemuan tersebut, Kim menyusun rencana untuk melaksanakan "aksi militer segera".

“Mengusulkan tugas-tugas penting yang harus dipenuhi dalam operasi pencegahan perang dan pelaksanaan hak membela diri untuk menjaga kedaulatan nasional," ujar kantor berita Korea Utara, KCNA.

Laporan tersebut tidak mengungkapkan secara rinci langkah militer apa yang akan diambil oleh Korea Utara.

Dalam laporan itu, Kim Jong Un menyatakan sikap politik dan militer yang tegas, yang didukung dari Partai Pekerja Korea yang berkuasa dan pemerintah Korea Utara pada pertemuan tersebut.

Pertemuan tersebut mempertemukan pejabat utama militer dan intelijen Korea Utara, termasuk Ri Yong-gil, kepala Staf Umum Tentara Rakyat Korea, dan Ri Chang-ho, direktur Pengintaian Umum.

Ketegangan meningkat di Semenanjung Korea, karena Korea Utara memperingatkan perang besar jika Korea Selatan mengirim lebih banyak pesawat tak berawak ke ibu kota Korea Utara.

Kim Yo-jong, saudara perempuan Kim Jong Un, mengeluarkan serangkaian pernyataan tajam yang menuduh Korea Selatan menerbangkan pesawat tanpa awak ke Pyongyang. 

Ia mengklaim pada hari Senin bahwa militer Korea Selatan berada di balik dugaan penyusupan pesawat tanpa awak tersebut.

Menanggapi ancaman militer Korea Utara, Kementerian Pertahanan Korea Selatan telah memperingatkan bahwa Korea Utara akan menghadapi "akhir rezimnya" jika menyebabkan kerugian bagi rakyat Korea Selatan.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan tidak dapat memastikan apakah klaim pesawat nirawak Korea Utara itu benar.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved