Internasional
Barrick Gold Hadapi Tantangan di Mali, Terancam Hentikan Operasional Jika Pengiriman Emas Diblokir
Beberapa karyawan perusahaan telah dipenjara tanpa alasan yang jelas, dan pengiriman emas ke luar negeri diblokir, yang mengancam kelangsungan operasi
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM- Barrick Gold, perusahaan pertambangan emas terbesar kedua di dunia berdasarkan volume, menghadapi tantangan besar di Mali, negara tempat mereka mengoperasikan salah satu tambang emas utama mereka, Loulo-Gounkoto.
Perusahaan ini mengumumkan pada hari Senin (16/12/2024) bahwa mereka mungkin terpaksa menghentikan operasionalnya di Mali jika pengiriman emas terus diblokir oleh pihak berwenang.
Dilansir dari kantor berita Reuters pada Selasa (17/12/2024), situasi ini semakin memburuk setelah kesulitan yang dihadapi Barrick dalam mencapai kesepakatan dengan pemerintah Mali mengenai perubahan kode pertambangan negara tersebut.
Barrick mengungkapkan bahwa kondisi di kompleks Loulo-Gounkoto telah "berkurang secara signifikan".
Beberapa karyawan perusahaan telah dipenjara tanpa alasan yang jelas, dan pengiriman emas ke luar negeri diblokir, yang mengancam kelangsungan operasional tambang tersebut.
Jika situasi ini tidak segera diselesaikan, Barrick akan terpaksa menghentikan operasionalnya, yang tentunya akan memberi dampak besar pada perekonomian Mali, mengingat sektor pertambangan adalah salah satu penggerak utama ekonomi negara tersebut.
Barrick telah terlibat dalam negosiasi dengan pemerintah Mali selama sekitar satu tahun terkait peraturan pertambangan baru yang diadopsi pada 2023. Peraturan baru ini mengharuskan tambang-tambang di Mali untuk beroperasi berdasarkan aturan yang lebih ketat.
Namun, Barrick mengatakan bahwa peraturan tersebut tidak dapat diterapkan pada operasi yang sudah ada, termasuk tambang Loulo-Gounkoto.
Meskipun Barrick telah menawarkan beberapa konsesi besar dalam upaya untuk mencapai kesepakatan, pemerintah Mali menolak tawaran tersebut.
Pemerintah Mali juga ingin memastikan bahwa seluruh kegiatan pertambangan di negara tersebut berjalan sesuai dengan peraturan baru, yang semakin menambah ketegangan antara Barrick dan pihak berwenang.
Salah satu pejabat senior di Kementerian Pertambangan Mali mengatakan kepada Reuters bahwa negosiasi masih terus berlangsung dan belum ada keputusan final.
Masalah semakin rumit dengan tindakan keras yang diambil oleh pemerintah Mali terhadap eksekutif-eksekutif pertambangan asing.
Sebelumnya, pihak berwenang Mali menangkap beberapa staf dari Resolute Mining asal Australia, termasuk CEO-nya Terence Holohan, yang akhirnya dibebaskan setelah perusahaan tersebut setuju membayar $160 juta untuk menyelesaikan sengketa pajak.
Barrick juga menghadapi masalah serupa, dengan beberapa eksekutifnya ditahan, dan pemerintah Mali bahkan mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk CEO Barrick, Mark Bristow.
Barrick dengan tegas membantah tuduhan terhadap stafnya, menyebutkan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar, dan surat perintah penangkapan terhadap Bristow dianggap "ilegal".
| Iran Serang Pangkalan AS di Arab Saudi, 15 Prajurit Amerika Serikat Terluka |
|
|---|
| Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade |
|
|---|
| Daftar Negara dengan Utang Tertinggi di Dunia, Ada yang Tembus 380 Persen dari PDB |
|
|---|
| Ekonomi India Terancam, Dampak Perang AS–Israel Lawan Iran Picu Krisis Energi Global |
|
|---|
| Sosok Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC, Pernah Dituduh Tewaskan 85 Yahudi Dalam Ledakan di Argentina |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/barrick.jpg)