Breaking News

Konflik Palestina dan Israel

Kini Netanyahu Mengincar Iran Setelah Kemenangan atas Hamas, Hizbullah, dan Suriah

"Iran sangat rentan terhadap serangan Israel, terutama terhadap program nuklirnya," kata Joost R. Hiltermann, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
ABIR SULTAN / POOL / AFP
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu 

SERAMBINEWS.COM- Tahun 2025 akan menjadi tahun yang penting bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan musuh bebuyutannya, Iran.

Pemimpin Israel yang berpengalaman ini diperkirakan akan mengukuhkan tujuan strategisnya yaitu memperkuat kendali militernya atas Gaza, menggagalkan ambisi nuklir Iran, dan memanfaatkan runtuhnya sekutu-sekutu Tehran, Hamas Palestina, Hezbullah Lebanon, dan penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Runtuhnya rezim Assad, tereliminasinya pemimpin-pemimpin utama Hamas dan Hizbullah, serta penghancuran struktur militer mereka menandai serangkaian kemenangan monumental bagi Netanyahu

Tanpa Suriah, aliansi yang telah dipupuk oleh Iran selama beberapa dekade mulai runtuh. Seiring melemahnya pengaruh Iran, Israel kini muncul sebagai kekuatan dominan di kawasan tersebut.

Dilansir dari kantor berita Reuters pada Jumat (20/12/2024), Netanyahu kini bersiap untuk fokus pada ambisi nuklir Iran dan program misilnya, dengan tekad yang kuat untuk membongkar dan menetralkan ancaman strategis ini terhadap Israel.

"Iran sangat rentan terhadap serangan Israel, terutama terhadap program nuklirnya," kata Joost R. Hiltermann, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara dari International Crisis Group.

 "Saya tidak akan terkejut jika Israel melakukannya, tetapi itu tidak akan menghilangkan Iran," tambahnya.

"Jika Iran tidak mundur, Trump dan Netanyahu mungkin akan menyerang, karena sekarang tidak ada yang menghalangi mereka," kata analis Palestina Ghassan al-Khatib, yang merujuk pada Presiden terpilih Donald Trump.

Khatib berpendapat bahwa kepemimpinan Iran, yang sebelumnya telah menunjukkan pragmatisme, mungkin bersedia berkompromi untuk menghindari konfrontasi militer.

Trump, yang menarik diri dari kesepakatan 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia yang bertujuan membatasi tujuan nuklir Tehran, kemungkinan akan meningkatkan sanksi terhadap industri minyak Iran, meskipun ada seruan untuk kembali ke negosiasi dari para kritikus yang melihat diplomasi sebagai kebijakan jangka panjang yang lebih efektif.

Setelah perang panjang dengan Hamas yang dimulai pada 2023, Netanyahu kini berusaha untuk memperkuat posisi Israel di Gaza.

Meskipun ada kemungkinan perjanjian gencatan senjata dengan Hamas untuk mengakhiri konflik, Gaza kemungkinan besar akan tetap berada di bawah kendali militer Israel.

Israel menolak menyerahkan kekuasaan Gaza kepada Otoritas Palestina (PA), yang semakin melemah. 

Menurut sumber yang terlibat dalam negosiasi, Netanyahu kemungkinan akan mempertahankan status quo ini untuk mencegah Hamas bangkit kembali.

Bagi Netanyahu, ini adalah kemenangan strategis yang menguntungkan visinya yaitu mencegah terbentuknya negara Palestina dan memastikan kontrol jangka panjang Israel atas wilayah-wilayah yang diperebutkan seperti Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur wilayah yang diakui oleh dunia internasional sebagai bagian dari negara Palestina yang diinginkan.

Namun, masalah utama yang tetap ada adalah Iran. Seiring melemahnya pengaruh Iran di kawasan, Netanyahu kini berfokus untuk menggagalkan ambisi nuklir Iran dan program misilnya, yang dianggap sebagai ancaman besar bagi keamanan Israel.

Di sisi politik internasional, Netanyahu juga akan menghadapai tantangan dari Presiden AS yang terpilih, Donald Trump.

Trump, yang sebelumnya menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2015, diperkirakan akan meningkatkan sanksi terhadap Iran dan mendukung kebijakan Israel.

 Hal ini memberikan dampak besar terhadap kemungkinan tercapainya solusi damai dengan Palestina.

Rencana perdamaian yang diajukan Trump, yang dikenal dengan "Deal of the Century," pada 2020 memperlihatkan keberpihakan AS terhadap Israel.

Rencana tersebut memungkinkan Israel untuk mencaplok sebagian besar wilayah Tepi Barat yang diduduki dan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Hal ini menghalangi aspirasi Palestina untuk menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota mereka.

Sementara itu, di Suriah, negara ini berada di persimpangan kritis setelah Presiden Bashar al-Assad digulingkan oleh kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang dipimpin oleh Abu Mohammed al-Golani.

 HTS kini harus mengkonsolidasikan kekuasaannya di Suriah yang terpecah, yang dihantui oleh ancaman dari sisa-sisa pasukan Assad, kelompok jihadis, dan ketegangan sektarian.

Golani dan HTS menghadapi tantangan besar untuk memastikan stabilitas internal dan membangun negara yang terpecah. Keputusan HTS untuk mengikuti ideologi nasionalis Suriah atau kembali ke ideologi Islam yang lebih keras akan mempengaruhi masa depan Suriah.

Jika mereka berhasil, ada harapan bagi negara tersebut untuk bangkit, namun jika kembali ke jalan ideologi Islam yang kaku, Suriah mungkin akan terperosok dalam kekacauan yang berkepanjangan.

Dengan berakhirnya tahun 2024 dan memasuki 2025, tantangan besar menanti Netanyahu, baik di dalam negeri maupun di arena internasional.

Upayanya untuk mempertahankan kontrol atas Gaza, menanggulangi ancaman nuklir Iran, dan memperkuat posisi Israel di kawasan, akan menentukan warisannya sebagai pemimpin Israel.

Sementara itu, situasi di Suriah dan Palestina akan terus mempengaruhi keamanan dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved