Selasa, 5 Mei 2026

Kilas Balik Tsunami Aceh 2024

Dua Dekade Tsunami Aceh - Dahsyatnya Gelombang Tsunami, Tiada Lagi 'Olele di Koetaradja'

Serambinews.com menayangkan kembali arsip berita dari Harian Serambi Indonesia, edisi Minggu 9 Januari 2005. 

Tayang:
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM
Kenangan - Pantai Ulelheue yang dulu semarak dikunjungi wisatawan seperti dalam gambar ini. kini keindahannya 'lenyap' diterjang tsunami. Gambar ini ditayangkan dalam Harian Serambi Indonesia, edisi Minggu 9 Januari 2005. 

SERAMBINEWS.COM - Dalam mengenang 20 tahun Tsunami Aceh, Serambinews.com menayangkan kembali arsip berita dari Harian Serambi Indonesia, edisi Minggu 9 Januari 2005. 

Artikel ini ditayangkan tepat 14 hari setelah tsunami menghantam kota Serambi Mekkah.

Tanggal 26 Desember 2024, kini Aceh kembali mengenang dua dekade atau genap 20 tahun peristiwa gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Tanah Rencong. 

Bencana maha dahsyat yang bermula dari gempa magnitudo 9,3 itu terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004 sekitar 07.59 WIB.

Gempa dirasakan selama 10 menit dan berpusat di Samudra Hindia pada kedalaman 10 kilometer di dasar laut, kemudian disusul dengan gelombang tinggi yang disebut tsunami, air laut menyapu daratan membuat sekitar ratusan ribu nyawa tenggelam.

Saat tsunami, hampir sebagian besar wilayah di Serambi Mekkah rata dengan tanah, satu di antaranya ialah wilayah wisata Ulelheue (orang luar sering menyebut Olele).

Baca juga: 20 Tahun Tsunami Aceh - Jamaah Menangis saat Shalat Jumat Perdana di Masjid Raya Baiturrahman

Pantai Ulelheue yang dulu semarak dikunjungi, namun setelah Tsunami, keindahan pantai ini "lenyap' diterjang Tsunami.

Tiada Lagi "Olele di Koetaradja"

Pieter, seorang pekerja media televisi dari Toronto, Kanada, tampak geleng-geleng kepala sambil mengangkat bahu.

Dia berkata, "Tak pernah saya melihat kehancuran sedahsyat ini".

Pernyataan Pieter meluncur spontan ketika dia bersama Serambi melihat kehancuran total sebuah wilayah dalam Kota Banda Aceh, yaitu Ulelheue (orang luar sering menyebut Olele, red). Kecamatan Meuraxa.

Pernyataan Pieter meluncur spontan ketika dia bersama Serambi melihat kehancuran total wilayah dalam Kota Banda Aceh, yaitu Ulelheue (orang luar sering menyebut Olele, red). Kecamatan Meuraxa.

Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di wilayah pesisir itu.

Baca juga: Kisah Pelajar SMP Selamatkan Hidup dengan Tong Sampah dan Sepotong Kayu saat Tsunami Aceh 2004

Kenangan - Pantai Ulelheue yang dulu semarak dikunjungi wisatawan seperti dalam gambar ini. kini keindahannya 'lenyap' diterjang tsunami.
Gambar ini ditayangkan dalam Harian Serambi Indonesia, edisi Minggu 9 Januari 2005.
Kenangan - Pantai Ulelheue yang dulu semarak dikunjungi wisatawan seperti dalam gambar ini. kini keindahannya 'lenyap' diterjang tsunami. Gambar ini ditayangkan dalam Harian Serambi Indonesia, edisi Minggu 9 Januari 2005. (SERAMBINEWS.COM)

Asrama Polisi tak berbekas.

Kantor Bea Cukai tak tetandai lagi.

Pemukiman masyarakat, seperti Dusun Kakap. Dusun Alue, Dusun Tenggiri, Dusun Bawal, dan Dusun Tongkol di tepian pantai lenyap.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved