Kamis, 23 April 2026

Berita Lhokseumawe 

Wakil Ketua Komisi A DPRK Lhokseumawe Isi Diskusi Forum Tika Beut, Ingatkan Ancaman Krisis Identitas

"Jangan bangga kita akan menuju Indonesia emas 2045, sedangkan di sisi lain identitas kita sudah terdiskreditkan. Mari kita berupaya melestarikan...

|
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nurul Hayati
Foto Dok Panitia
Komunitas Tika Beut Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe menggelar diskusi Episode 13 dengan tema "Generasi Emas 2045 Dalam Perangkap Hibriditas Budaya", Jum'at (27/12/24). 

"Jangan bangga kita akan menuju Indonesia emas 2045, sedangkan di sisi lain identitas kita sudah terdiskreditkan. Mari kita berupaya melestarikan identitas kita, terutama budaya yang saat ini mulai ditinggalkan," ujarnya.

Laporan Jafaruddin I Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM,LHOKSEUMAWE - Komunitas Tika Beut Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe menggelar diskusi Episode 13 dengan tema "Generasi Emas 2045 Dalam Perangkap Hibriditas Budaya",  Jum'at (27/12/24).

Acara bertempat di bawah Pohon Rindang, Halaman Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah ini menghadirkan pembicara Farhan Zuhri, SHum MPd, Wakil Ketua Komisi A DPRK Lhokseumawe.

Dalam paparannya, Farhan Zuhri menekankan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi menuju Indonesia Emas 2045.

"Jangan bangga kita akan menuju Indonesia emas 2045, sedangkan di sisi lain identitas kita sudah terdiskreditkan. Mari kita berupaya melestarikan identitas kita, terutama budaya yang saat ini mulai ditinggalkan," ujarnya.

Pemateri juga memberikan apresiasi kepada Komunitas Tika Beut sebagai wadah pengembangan intelektual mahasiswa.

"Tika Beut harus menjadi komunitas yang memperkuat nuansa berpikir bagi Mahasiswa. Selain itu sebagai salah satu opsi merawat pikiran," tambahnya.

Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Dr Rizqi Wahyudi menyambut baik kegiatan ini.

Baca juga: Rektor IAIN Lhokseumawe dan Komunitas Tika Beut Motivasi Mahasiswa Unggul Literasi Serta Dialektika

"Kegiatan seperti ini sangat penting untuk membentuk karakter mahasiswa yang kritis dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal.

Kami berharap diskusi semacam ini dapat terus berlanjut untuk mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan," ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jurusan KPI, Zanzibar, M.Sos menambahkan, "Perpaduan antara pemikiran kritis dan pelestarian budaya adalah kunci dalam menghadapi era globalisasi. Mahasiswa harus mampu mem-filter pengaruh budaya luar tanpa kehilangan jati diri mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia."

Sementara itu, Ketua Komunitas Tika Beut, Jihan Fanyra mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini.

"Alhamdulillah, diskusi Episode 13 ini berjalan dengan lancar.

Kami berharap melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat lebih memahami pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Ke depannya, Tika Beut akan terus mengadakan diskusi-diskusi yang memberikan manfaat bagi mahasiswa IAIN Lhokseumawe," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved