Kamis, 9 April 2026

Program Lumbung Pangan Mualem-Dek Fadh, Apa Urgensinya Bagi Petani?

Dia berharap, pasangan gubernur terpilih ke depan memperhatikan nasib para petani, baik itu dari sistem pengairan sawah, pupuk hingga...

Penulis: Sara Masroni | Editor: Eddy Fitriadi
SERAMBINEWS.COM/SARA MASRONI
Muzakir Manaf alias Mualem. Program Lumbung Pangan Mualem-Dek Fadh, Apa Urgensinya Bagi Petani? 

Laporan Sara Masroni | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Pasangan Gubernur Aceh terpilih, Muzakir Manaf dan Fadhlullah (Mualem-Dek Fadh) dalam visi-misi menyebutkan, masalah kemiskinan di Aceh masih tinggi dan perlu solusi pemimpin selanjutnya. Salah satu solusi itu itu yakni di bidang pertanian dengan membangun lumbung pangan.

"Revitalisasi BUMA, BUMG dan Koperasi. Pembangunan lumbung pangan serta pembangunan kawasan pertanian berbasis koorperasi," sebut dalam visi-misi Mualem-Dek Fadh.

Sementara salah seorang petani asal Gampong Lambiheue Siem, Kecamatan Darussalam Aceh Besar, Siti Sarah (49) mengatakan, pihak sangat membutuhkan lumbung padi mengingat harga penjualan hasi panen mereka yang tidak stabil.

Dikatakannya, bila sedang tidak panen seperti sekarang, harga gabah mencapai Rp 7.000 per kilogramnya. Sementara bila musim panen, turun drastis bisa menyentuh Rp 4.800 per kilogram.

"Perlu lumbung, karena kalau ada tempat tampung, kita bisa jual dengan harga stabil," kata Siti saat ditemui di rumahnya, Selasa (31/12/2024).

Di sisi lain dikatakannya, bila tidak musim panen, terkadang beras putus atau mahal. Bahkan sebagai petani yang bersawah hanya setahun sekali karena menunggu musim hujan di awal tahun akibat pengairan yang belum ada, dia kesulitan mendapatkan beras kalau tidak menyetok sendiri di rumah.

"Kami itu bagi hasil sama pemilik tanah, jadi kalau setelah dapat bersih 30 karung dengan berat rata-rata 35 kg per karungnya, sekitar 15 karung itu kami tinggal di rumah dan sisanya baru dijual," jelas Siti.

Dia berharap, pasangan gubernur terpilih ke depan memperhatikan nasib para petani, baik itu dari sistem pengairan sawah, pupuk hingga sarana dan prasarana pertanian seperti mesin bajak dan sebagainya.

"Karena kita soal mesin bajak saja, harus minta tolong sama orang kampung sebelah, kalau lagi butuh pun kadang nggak ada," pungkasnya. (*)

Konten ini merupakan bagian dari program fellowship Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved