Kamis, 7 Mei 2026

Internasional

Turki, Kini Muncul Sebagai Pemain Kunci Dalam Upaya Pemulihan Ekonomi Suriah

Menurut Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral Suriah, infrastruktur energi negara itu pun berada jauh di bawah kapasitas operasional,

Tayang:
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Ansari Hasyim
the national/tangkap layar/kredit foto: Reuters
Kelompok bersenjata oposisi Suriah yang menumbang rezim Bashar al-Assad. Sumber keamanan Suriah mengatakan sebagian besar kelompok bersenjata di Lebanon memanfaatkan kesempatan ini untuk membeli senjata tentara Suriah. 

SERAMBINEWS.COM- Setelah lebih dari satu dekade konflik yang menghancurkan, Suriah kini menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali ekonominya yang hancur.

Dilansir dari kantor berita Aljazeera pada Rabu (8/1/2025), sektor-sektor vital seperti energi dan infrastruktur mengalami kerugian yang signifikan, dengan sektor minyak Suriah mencatat kerugian hingga $91,5 miliar antara 2011 dan 2021.

Menurut Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral Suriah, infrastruktur energi negara itu pun berada jauh di bawah kapasitas operasional, dengan dampak besar terhadap keuangan publik.

Pasca-perang, mayoritas ladang minyak dan gas Suriah kini berada di bawah kendali Pasukan Demokratik Suriah (SDF), kelompok yang didukung AS yang menguasai wilayah timur laut negara tersebut.

Mengingat pentingnya sektor hidrokarbon bagi ekonomi Suriah, pengembalian kontrol atas sumber daya ini kepada pemerintah Damaskus menjadi krusial untuk mendanai rekonstruksi negara yang diperkirakan memerlukan antara $250 miliar hingga $400 miliar.

Di tengah situasi ini, Turki muncul sebagai pemain kunci dalam upaya pemulihan ekonomi Suriah.

Meskipun investor cenderung enggan kembali ke Suriah karena ketidakpastian dan risiko yang tinggi, Turki menunjukkan komitmen untuk mengisi kekosongan tersebut.

 Turki telah lama beroperasi di wilayah yang dikuasai oposisi, khususnya dalam sektor konstruksi.

Selain itu, Turki juga memiliki kehadiran militer di wilayah barat laut Suriah sebagai bagian dari penentangannya terhadap SDF yang dianggap memiliki hubungan erat dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang dianggap sebagai kelompok teroris oleh Turki dan AS.

Menteri Energi Turki, Alparslan Bayraktar, menyatakan bahwa pemerintah Turki berencana untuk melakukan studi mengenai potensi pemanfaatan sumber daya alam Suriah, khususnya gas alam dan minyak, untuk pembangunan dan rekonstruksi.

Dengan bantuan investasi dalam pipa ekspor dan fasilitas pelabuhan, sektor energi Suriah dapat dipulihkan dan berkontribusi pada stabilitas ekonomi negara tersebut.

Namun, beberapa analis, termasuk Robert Perkins dari S&P Global, meragukan apakah investasi dari Turki saja dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek yang signifikan.

Perkins menyoroti bahwa investasi besar diperlukan, namun lebih banyak tantangan yang harus diatasi, salah satunya adalah sanksi internasional yang masih membatasi Suriah.

Untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, para ahli berpendapat bahwa pengurangan sanksi internasional menjadi langkah awal yang penting.

Omar Dahi, seorang profesor ekonomi dari Hampshire College, menyatakan bahwa "program ekonomi yang serius harus dimulai dengan pelonggaran semua sanksi internasional."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved