Banda Aceh
Curhat ke Kapolresta, Balap Liar saat Shalat Jumat Resahkan Warga di Banda Aceh
Kabag Ops itu menyampaikan, potensi kejahatan dan gangguan ketertiban masyarakat di Kota Banda Aceh diprediksi...
Penulis: Sara Masroni | Editor: Eddy Fitriadi
Dengan menggunakan jalan umum mereka melakukan aksi balapan liar, akan mengganggu aktivitas masyarakat pengguna jalan lainnya.
“Kami tentunya akan melakukan penindakan terhadap mereka itu," tegasnya.
Kemudian, sambung Kompol Yusuf Hariadi, menindaklanjuti kejadian meninggalnya seniman Aceh yang terjadi di depan Polsek Ulee Lheue, dia mengajak perlu sama-sama mengoreksi diri dan berembuk kepada Forkopimcam Meuraxa, agar kita dapat mengambil langkah apa saja yang perlu kita dilakukan.
Agar berkurangnya aktivitas balap liar di Jalan Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue dan guantibmas lain.
Sementara Camat Meuraxa, Mustafa mengatakan kegiatan aksi balapan liar baik pada saat kegiatan ibadah salat Jumat berlangsung maupun pada malam hari di jalan Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, rata-rata bukan warga dari Kecamatan Meuraxa.
“Kita bisa melihat pasca kejadian kemarin, yang menjadi korban laka lantas bukanlah warga Kecamatan Meuraxa, melainkan warga salah satu Kecamatan di Aceh Besar,” kata Mustafa.
“Ini membuktikan bahwa masih ada orang tua yang tidak menjaga anaknya berkeliaran di tengah malam dengan melakukan aksi balapan di wilayah kami,” tambahnya.
Kemudian jelang bulan Suci Ramadhan 1446 H, dia mengajak semua pihak sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum setempat.
“Dan apa saja yang perlu kita persiapkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, mari kita bicarakan bersama-sama pada kesempatan ini,” tutupnya.
Sementara Kepala Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh, Wahyudi mengatakan, dengan ditutupnya portal jam malam, dimanfaatkan oleh anak-anak balap liar karena track tersebut sepi dan panjang.
“Untuk itu kita akan berupaya akan membuat marka jalan atau speed bump secepatnya guna memperlambat laju kecepatan anak-anak yang ingin beraksi balap liar tersebut,” sebut Wahyudi.
Terkait dengan menghadapi jajanan takjil di bulan Ramadhan ini, pihaknya juga nanti akan melakukan rapat khusus dengan Satlantas Polresta Banda Aceh, untuk memetakan penjagaan penjual jajanan takjil pada sore hari, guna mengurangi kemacetan akibat adanya yang berjualan di emperan badan jalan,.
Sementara Kasat Pol PP dan WH Kota Banda Aceh, Muhammad Rizal menjelaskan, pihaknya berfokus pada penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) dan penegakan Syariah Islam yang mana saat ini Ulee Lheue menjadi prioritas utama.
“Dan kami akan membuat pos dan portal baik itu di jalan pelabuhan Ulee Lheue dan di Gampong Jawa, wilayah tersebut menjadi tempat rawan pelanggaran Syariah Islam dan live musik, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat,” kata Rizal.
Salah satu kendala yang dihadapi, kurangnya penerangan baik itu lintasan jalan pelabuhan Ulee Lheue ke Gampong Jawa dan belakang Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh sehingga menjadi tempat rawan pelanggaran syariat Islam yang dilakukan muda mudi.
“Oleh karena itu, kita akan membangun pos di beberapa titik dan akan kita buat piket penjagaan sehingga akan menghambat masyarakat untuk melakukan aktifitas baik itu musik yang besar maupun kegiatan masyarakat lainnya yang menimbulkan pelanggaran syariat Islam,” pungkasnya.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.