Kamis, 9 April 2026

Berita Banda Aceh

Sejarah Islam di Aceh, Dari Kejayaan Syiah hingga Peralihan ke Sunni

Prof Husaini menjelaskan, ada beberapa teori mengenai asal-usulnya, termasuk teori Barat dan Timur. Salah satu teori yang menarik adalah masuknya Isla

Editor: mufti
Tangkap layar YouTube Serambinews
BINCANG SEJARAH SYIAH DI ACEH - Islam Syiah berkembang di Aceh selama 450 tahun sebelum beralih ke Sunni. Diskusi ini dipandu oleh News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M. Ali bersama Prof. Dr. Husaini, MA, Guru Besar Arkeologi FKIP Universitas Syiah Kuala, tentang sejarah awal Islam dan pengaruh Syiah di Aceh, yang disiarkan di SerambiNews on TV pada (7/2/2025). 

Islam Syiah ternyata pernah berkembang pesat di Aceh, bahkan mencapai 450 tahun. Baru ketika Sultan Alaidin Johan Syah naik takhta, pengaruh ajaran ini mulai berkurang, hingga akhirnya hilang berganti menjadi Islam Sunni. Meski demikian, jejak Syiah masih dapat ditemukan dalam budaya dan peninggalan sejarah di Aceh. 

SEBUAH fakta yang mungkin jarang diketahui publik bahwa Islam Syiah dulu pernah berkembang pesat di Aceh, bahkan mencapai 450 tahun lamanya. Baru ketika Sultan Alaidin Johan Syah naik takhta, pengaruh ajaran ini mulai memudar, hingga akhirnya hilang berganti menjadi Islam Sunni.

Hal inilah yang diulas Prof Dr Husaini MA, Guru Besar Arkeologi FKIP Universitas Syiah Kuala (USK), dalam podcast SerambiNews on TV pada Jumat (7/2/2025). Diskusi dipandu oleh News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M Ali, yang menggali lebih dalam tentang sejarah awal Islam di Aceh dan pengaruh Syiah di wilayah tersebut.

Prof Husaini menjelaskan, ada beberapa teori mengenai asal-usulnya, termasuk teori Barat dan Timur. Salah satu teori yang menarik adalah masuknya Islam melalui Persia, yang memiliki pengaruh kuat terhadap ajaran Syiah di Aceh.

"Jika melihat teori Persia, tidak heran pengaruh Syiah di Aceh cukup besar," ungkapnya yang dikutip dalam Serambinews On Tv, Jumat (7/2/2025).

Dalam penelitiannya, Prof Husaini berfokus pada Kerajaan Lamuri di Aceh Besar, yang menjadi pusat perkembangan Syiah sejak abad ke-8 hingga 1205. Bukti arkeologis seperti batu nisan, kaligrafi, dan ornamen khas Syiah menunjukkan keberadaannya.

"Sebelum Islam Sunni mendominasi, pengaruh Syiah telah lebih dulu berkembang di Aceh. Ini terlihat dari batu nisan dan inskripsi yang memiliki corak khas Persia," jelasnya.

Namun, ajaran ini mulai berkurang ketika Sultan Alaidin Johan Syah naik takhta dan membawa perubahan ke Islam Sunni. "Perubahan ini bukan berarti Islam baru masuk, melainkan peralihan dari tradisi Syiah ke Sunni. Pengaruhnya masih bisa ditemukan dalam budaya masyarakat Aceh," tambahnya.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa sebelum Islam berkembang, Aceh juga mendapat pengaruh dari budaya Hindu-Buddha melalui proses Indianisasi. "Sebelum masuknya Islam, Aceh sudah lebih dulu dipengaruhi budaya Hindu dan Buddha. Ini menunjukkan bahwa Aceh memiliki sejarah panjang dalam menerima berbagai pengaruh budaya dari luar," katanya.

Meskipun ajaran Syiah mulai berkurang, jejaknya masih dapat ditemukan dalam budaya dan peninggalan sejarah di Aceh. Prof Husaini menekankan pentingnya pelestarian situs sejarah seperti masjid kuno di Lamuri yang kini kurang mendapat perhatian.

"Banyak peninggalan sejarah yang seharusnya dijaga, karena ini merupakan bagian penting dari sejarah Islam di Nusantara. Sayangnya, banyak situs bersejarah yang kini terabaikan dan terancam hilang," tutupnya.(Gina Zahrina)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved