Senin, 13 April 2026

Berita Luar Negeri

Angka Pernikahan Tiongkok Terjun Bebas Ancaman Krisis Populasi, Pemerintah Berikan Pendidikan Cinta?

"Ini angka yang belum pernah terjadi sebelumnya! Bahkan pada tahun 2020, karena pandemi Covid-19, angka pernikahan hanya menurun 12,2 persen," kata Yi

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Ansari Hasyim
Instagram.com/ayangkahiyang
Illustrasi 

Angka pernikahan Tiongkok terjun bebas ancaman krisis populasi, pemerintah berikan pendidikan cinta

SERAMBINEWS.COM-Angka pernikahan di China menurun drastis hingga seperlima, penurunan terbesar yang pernah tercatat. 

Meskipun pihak berwenang sudah berusaha mendorong pasangan muda untuk menikah dan memiliki anak demi meningkatkan jumlah populasi, hasilnya tetap mengecewakan.

Salah satu alasan utama penurunan ini adalah biaya pengasuhan anak dan pendidikan yang sangat tinggi di China.

Baca juga: Fakta-fakta Netanyahu Usulkan Negara Palestina Didirikan di Arab Saudi: Mereka Memiliki Banyak Tanah

Selain itu, ekonomi yang melambat membuat banyak lulusan universitas kesulitan mencari pekerjaan, dan yang sudah bekerja pun merasa tidak yakin dengan masa depan mereka.

Dilansir dari kantor berita Reuters pada (10/2/2025), lebih dari 6,1 juta pasangan mendaftar untuk menikah pada tahun lalu, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 7,68 juta pasangan di tahun sebelumnya, menurut data dari Kementerian Urusan Sipil. 

"Ini angka yang belum pernah terjadi sebelumnya! Bahkan pada tahun 2020, karena pandemi Covid-19, angka pernikahan hanya menurun 12,2 persen," kata Yi Fuxian, seorang ahli demografi di University of Wisconsin-Madison.

 Ia juga mencatat bahwa jumlah pernikahan tahun lalu hanya setengah dari 13,47 juta pernikahan pada tahun 2013.

Baca juga: Israel Bunuh Wanita Hamil Bersama Bayi yang belum Lahir Bersama Tiga Warga Gaza Lainnya 

Jika tren ini terus berlanjut, kata Yi, ambisi politik dan ekonomi pemerintah China akan terganggu karena masalah demografi yang semakin parah.

 China, dengan populasi terbesar kedua di dunia yang mencapai 1,4 miliar jiwa, kini menghadapi masalah populasi yang menua dengan cepat.

Kebijakan satu anak yang diterapkan antara tahun 1980 hingga 2015, serta urbanisasi yang pesat, menyebabkan angka kelahiran menurun selama beberapa dekade.

Dalam beberapa tahun mendatang, sekitar 300 juta warga China akan memasuki usia pensiun.

Untuk menangani masalah ini, pemerintah China tahun lalu mengimbau universitas untuk memberikan "pendidikan cinta" yang bertujuan untuk meningkatkan pandangan positif tentang pernikahan, cinta, kesuburan, dan keluarga.

Selain itu, pada bulan November, kabinet China juga meminta pemerintah daerah untuk mengarahkan sumber daya untuk memperbaiki krisis populasi ini dan mempromosikan pernikahan di usia yang tepat.

Meskipun ada sedikit peningkatan kelahiran tahun lalu, karena tahun 2024 adalah tahun naga dalam kalender Cina (tahun yang dianggap membawa keberuntungan dan ambisi besar bagi yang lahir di tahun tersebut), jumlah populasi China tetap menurun untuk tahun ketiga berturut-turut.

Selain itu, data juga menunjukkan lebih dari 2,6 juta pasangan mengajukan perceraian tahun lalu, naik 1,1 persen dibandingkan tahun 2023.

Baca juga: Sambut Ramadhan, Polres Aceh Jaya Gelar Apel Pasukan Operasi Keselamatan Seulawah

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)


 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved