Selasa, 21 April 2026

Konflik Palestina dan Israel

Donald Trump Ancam Hamas: Jika Sandera Tidak Dibebaskan, Kalian MATI!

"Juga, kepada Rakyat Gaza: Masa depan yang indah menanti, tetapi tidak jika kalian menyandera. Jika kalian melakukannya, kalian MATI!"

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Agus Ramadhan
YouTube The White House
DONALD TRUMP - Foto ini diambil dari YouTube The White House pada Rabu (5/3/2025),Donald Trump, baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras kepada Hamas terkait para sandera yang ditawan di Gaza. 

Trump Keluarkan Ancaman Untuk Hamas: "Jika Sandera Tidak Dibebaskan, Kalian MATI!"

SERAMBINEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras kepada Hamas terkait para sandera yang ditawan di Gaza.

Dilansir dari BBC News (6/3/2025), dalam sebuah unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa jika Hamas tidak segera membebaskan para sandera, "semua anggota Hamas tidak akan aman."

"Saya akan mengirimkan semua yang dibutuhkan Israel untuk menyelesaikan tugasnya. Tidak ada satu pun anggota Hamas yang akan aman jika Anda tidak mengikuti perintah saya," tegas Trump dalam pernyataannya, yang disertai dengan ancaman lebih lanjut kepada kelompok teroris tersebut.

Peringatan tersebut dikeluarkan hanya beberapa jam setelah Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah berupaya melakukan pembicaraan langsung dengan Hamas mengenai pembebasan sandera-sandera yang masih ditahan.

 Ini merupakan langkah yang sangat jarang dilakukan oleh Amerika Serikat, mengingat kebijakan lama negara tersebut yang melarang kontak langsung dengan organisasi yang dianggap teroris.

Trump mengungkapkan ancaman yang lebih tegas dalam unggahannya,

 "Bebaskan semua sandera sekarang, jangan nanti, dan segera kembalikan semua mayat orang-orang yang kalian bunuh, atau semuanya BERAKHIR bagi kalian. Untuk para pemimpin, sekaranglah saatnya meninggalkan Gaza, selama kalian masih memiliki kesempatan."

Trump juga menambahkan ancaman yang lebih kejam untuk warga Gaza, "Juga, kepada Rakyat Gaza: Masa depan yang indah menanti, tetapi tidak jika kalian menyandera. Jika kalian melakukannya, kalian MATI!"

Hamas Tanggapi Ancaman Trump

Sementara itu, Hamas merespons keras pernyataan Trump. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa ancaman yang dikeluarkan oleh Presiden AS tersebut akan membuat penyelesaian perjanjian gencatan senjata menjadi lebih sulit.

Qassem juga mengklaim bahwa pernyataan tersebut mendorong Israel untuk menghindari melaksanakan ketentuan dalam gencatan senjata yang berlaku antara kedua belah pihak.

Ini bukan pertama kalinya Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Hamas. Pada Desember 2024, ia juga pernah mengatakan bahwa jika para sandera tidak dibebaskan, akan terjadi "bencana besar" bagi Hamas.

Postingan tersebut juga muncul setelah Trump bertemu dengan sejumlah sandera yang baru saja dibebaskan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Gedung Putih Lakukan Pembicaraan dengan Hamas

Meskipun Amerika Serikat secara tradisional menghindari keterlibatan langsung dengan kelompok yang terdaftar sebagai organisasi teroris, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan Hamas telah berlangsung.

Trump telah mengonfirmasi bahwa upaya diplomatik ini dilakukan untuk mencoba mengamankan pembebasan sandera-sandera AS yang ditahan oleh kelompok tersebut.

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa AS telah bernegosiasi langsung dengan Hamas melalui utusan khusus untuk sandera, Adam Boehler.

 "Dua pertemuan langsung telah terjadi antara Hamas dan seorang pejabat AS, didahului oleh beberapa komunikasi," kata sumber Palestina kepada BBC.

Leavitt juga menyebutkan bahwa Israel telah diajak untuk berkonsultasi sebelum pertemuan-pertemuan ini berlangsung.

 "Presiden Trump percaya bahwa penting untuk selalu mengutamakan kepentingan rakyat Amerika," ujarnya dalam keterangan pers.

Pembicaraan di Qatar dan Posisi Israel

Menurut laporan, pertemuan antara pejabat AS dan Hamas dilaksanakan di ibu kota Qatar, Doha.

 Qatar, yang merupakan sekutu utama AS di kawasan Teluk, telah lama menjadi tempat perundingan internasional yang rumit, termasuk perundingan dengan Iran, Taliban, dan Rusia.

Meskipun Israel telah diberitahu tentang pembicaraan langsung antara AS dan Hamas, mereka belum mengungkapkan posisi resmi mereka tentang masalah ini.

Sementara itu, beberapa sumber dari pihak Palestina menyebutkan bahwa Hamas memiliki basis yang cukup kuat di Doha sejak 2012, dan ini menjadi salah satu alasan mengapa pertemuan tersebut terjadi di negara tersebut.

Konflik antara Israel dan Hamas dimulai setelah serangan lintas perbatasan besar-besaran pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan sekitar 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 orang diculik.

Sejak saat itu, lebih dari 48.000 orang telah kehilangan nyawa mereka di Gaza akibat pertempuran yang terus berlanjut.

Hingga kini, Israel melaporkan bahwa masih ada 59 sandera yang ditahan di Gaza, dengan 24 di antaranya diperkirakan masih hidup.

Di antara para sandera tersebut, lima orang di antaranya adalah warga negara AS. Salah satu dari mereka, Edan Alexander, diyakini masih hidup, sementara empat lainnya diduga telah tewas.

Proses Diplomatik yang Rumit

Mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Timur Tengah, Mick Mulroy, mengungkapkan bahwa AS perlu menjadi lebih "proaktif" dalam memulangkan warganya yang menjadi sandera.

Ia juga menambahkan bahwa jika proses ini tidak dikoordinasikan dengan baik dengan Israel, ini bisa menyulitkan upaya negara tersebut untuk memulangkan warganya yang juga ditahan oleh Hamas.

Hamas, yang memiliki basis di Doha, Qatar, sejak 2012, telah menjadi pemain penting dalam negosiasi perjanjian gencatan senjata dan upaya mengakhiri perang.

Negara kecil namun berpengaruh ini memainkan peran besar dalam membentuk hasil diplomatik di Timur Tengah, termasuk pembicaraan dengan Iran, Taliban, dan Rusia.

Dengan latar belakang pernyataan keras dari Presiden Donald Trump dan pembicaraan yang tengah berlangsung antara AS dan Hamas, situasi di Gaza semakin memanas.

Sementara itu, Israel dan negara-negara Barat seperti AS terus mencari jalan untuk menyelesaikan masalah sandera, yang terus menjadi titik fokus dalam konflik yang telah menewaskan puluhan ribu orang.

Trump, meski mengeluarkan ancaman yang tajam, tampaknya juga berupaya mengamankan kepentingan rakyat Amerika melalui diplomasi yang jarang terjadi dengan Hamas, sekaligus menegaskan posisi keras terhadap kelompok teroris tersebut. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved