Jumat, 24 April 2026

Konflik Rusia dan Ukraina

Zelensky Menuduh Putin Berusaha Sabotase Diplomasi Gencatan Senjata

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuduh Presiden Rusia, Vladimir Putin, berusaha "menyabotase" upaya diplomatik yang bertujuan untuk mencapai ge

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
Tangkapan Layar YouTube The White House
ADU MULUT - Tangkapan layar di YouTube The White House menunjukkan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky dan Presiden AS, Donald Trump beserta Wakilnya, JD Vance terlibat adu mulut di Ruang Oval Gedung Putih pada Jumat (28/2/2025). Dalam adu mulut itu, Trump sampai menyebut Zelensky telah berjudi dengan Perang Dunia III. 

SERAMBINEWS.COM-Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuduh Presiden Rusia, Vladimir Putin, berusaha "menyabotase" upaya diplomatik yang bertujuan untuk mencapai gencatan senjata segera.

 Dalam sebuah unggahan di media sosial, Zelensky mendesak Amerika Serikat untuk memberikan tekanan lebih besar pada Putin, dengan menyatakan bahwa hanya "kekuatan Amerika" yang bisa mengakhiri perang ini.

Zelensky menjelaskan bahwa Putin telah membuat segalanya lebih sulit dengan menetapkan persyaratan yang sangat sulit dan tidak dapat diterima sejak awal.

Menurutnya, Putin bahkan belum memulai pembicaraan gencatan senjata secara serius karena sudah membuat berbagai tuntutan yang dianggapnya tidak realistis.

Pada hari Kamis, Putin menyatakan bahwa dia menerima gagasan tentang gencatan senjata, tetapi mengajukan banyak pertanyaan tentang detailnya. Ia menyebutkan wilayah perbatasan Kursk, tempat pasukan Rusia merebut kembali wilayah yang sebelumnya diduduki Ukraina enam bulan lalu.

Putin menuduh pasukan Ukraina melakukan "kejahatan keji terhadap warga sipil," yang langsung dibantah oleh pemerintah Ukraina. Dia kemudian bertanya apakah pasukan Ukraina harus dibiarkan bebas atau menyerah.

Putin juga mempertanyakan apakah Ukraina akan menggunakan gencatan senjata untuk memobilisasi, melatih ulang, dan memasok kembali pasukannya.

Ini menjadi pernyataan yang penuh dengan keraguan karena ia tidak mengisyaratkan bahwa pasukannya mungkin melakukan hal yang sama.

Salah satu pertanyaan besar yang dia ajukan adalah tentang bagaimana gencatan senjata dapat dipantau sepanjang garis depan di timur Ukraina.

"Siapa yang akan dapat menentukan siapa yang melanggar perjanjian gencatan senjata sejauh 2.000 km dan di mana tepatnya?" tanyanya. "Siapa yang akan bertanggung jawab atas pelanggaran gencatan senjata?"

Baca juga: Putin Setujui Usulan AS Gencatan Senjata 30 Hari dengan Ukraina, tapi Ada Syaratnya

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, Zelensky dalam pertemuan dengan wartawan pada hari Jumat, menjelaskan bahwa Ukraina sudah siap untuk memverifikasi gencatan senjata melalui pengawasan udara dan laut.

Namun, ia juga mengakui bahwa untuk memantau garis depan secara efektif, Ukraina membutuhkan dukungan pengawasan dan intelijen dari pesawat serta satelit yang dimiliki Amerika Serikat dan Eropa.

Ukraina percaya bahwa persyaratan rinci yang diajukan oleh Putin masih dapat dipenuhi.

Yang lebih sulit untuk dipenuhi, menurut Zelensky, adalah keberatan prinsip yang diajukan Putin.

 Putin berpendapat bahwa kesepakatan gencatan senjata harus didasarkan pada asumsi bahwa penghentian ini akan menghasilkan perdamaian jangka panjang dan menyelesaikan akar masalah krisis ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved