Luar Negeri

Badai Pasir Hantam Irak, Ribuan Warga Sesak Napas hingga Kota Tertutup Debu

Setidaknya lebih dari 1.000 warga dilarikan ke rumah sakit karena menderita sesak napas yang dipicu debu pekat di udara.

Editor: Faisal Zamzami
Tangkap layar dari The New York Times
BADAI PASIR IRAK - Tangkap layar dari The New York Times, Rabu (16/4/2025). Badai pasir yang parah telah melanda Irak bagian tengah dan selatan selama dua hari terakhir, mengubah langit menjadi jingga yang aneh, mengurangi jarak pandang di beberapa tempat hingga kurang dari setengah mil dan mengirim beberapa ribu orang ke ruang gawat darurat dengan masalah pernapasan. 

SERAMBINEWS.COM - Badai pasir dahsyat menyelimuti wilayah tengah dan selatan Irak pada awal pekan ini.

Ribuan orang mengalami gangguan pernapasan.

Debu berwarna jingga pun melumpuhkan aktivitas harian.

 
Bahkan dua bandara utama di Irak tutup akibat badai pasir ini.

Media lokal dan Arise TV melaporkan bahwa bandara di Najaf dan Basra terpaksa ditutup karena visibilitas yang nyaris nol.

Beberapa wilayah juga mengalami pemadaman listrik.

Dikutip dari AFP, setidaknya lebih dari 1.000 warga dilarikan ke rumah sakit karena menderita sesak napas yang dipicu debu pekat di udara.

Di provinsi Muthanna saja, pejabat setempat melaporkan 700 kasus sesak napas.

 
Sementara di wilayah lain seperti Najaf, Diwaniyah, Dhi Qar, dan Basra juga mencatat ratusan korban.

Rumah sakit di Najaf menerima lebih dari 250 pasien, sedangkan 322 lainnya—termasuk anak-anak—dirawat di Diwaniyah.

Total 530 warga di Dhi Qar dan Basra juga terdampak.

Baca juga: Sedikitnya 100 Orang Tewas Akibat Badai dan Sambaran Petir di India

Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan langit berubah oranye pekat.

Jarak pandang turun drastis hingga kurang dari satu kilometer.

Jalan-jalan tampak sepi, hanya beberapa orang yang terlihat mengenakan masker dan dibantu paramedis di tengah kabut tebal.

 
Layanan cuaca Irak sempat mengeluarkan perkiraan kalau kondisi akan berangsur membaik pada Selasa (15/4/2025) pagi.

Kendati demikain pihak berwenang mewanti-wanti agar warga membatasi aktivitas di luar ruangan.

Badai debu memang kerap melanda Irak, namun para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim telah memperparah frekuensi dan intensitasnya.

“Perubahan iklim dan penggurunan membuat badai semacam ini semakin sering terjadi,” kata para ilmuwan, dikutip Al Jazeera.

PBB sendiri telah menempatkan Irak sebagai salah satu dari lima negara paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk suhu ekstrem, kelangkaan air, dan badai debu.

Pada 2022 lalu, badai pasir serupa menyebabkan lebih dari 5.000 warga harus dirawat dan menewaskan satu orang.

Pemerintah Irak melalui kementerian lingkungan memperkirakan jumlah “hari berdebu” akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, jika krisis iklim global tidak segera ditangani.

 

Baca juga: Tampang Adelan Perdana Aniaya Penjaga Konter Pulsa di Medan, Pelaku Pukul Korban Pakai Kayu

Baca juga: BREAKING NEWS - Polres Langsa Ungkap Kasus Kokain, Barang Bukti 25 Kg Disita, 6 Pelaku Ditangkap

Baca juga: Kisah tentang Mubes Ke-1 Ikatan Alumni FH Unaya

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved