Internasional
Akibat Ulah Trump! Dolar Runtuh, Harga Emas Terbang, Pasar Global Bergejolak
“Pasar sudah gelisah karena meningkatnya ketegangan geopolitik,” kata Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi di Saxo, Singapura.
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Akibat Ulah Trump! Dolar Runtuh, Emas Terbang, Pasar Global Bergejolak
SERAMBINEWS.COM-Hari Senin (21/4/2025) menjadi awal pekan yang berat bagi pasar keuangan global.
Saham-saham di Asia turun, pasar saham berjangka Amerika Serikat melemah, dan nilai dolar AS ikut merosot.
Di saat yang sama, harga emas justru melonjak ke rekor tertinggi baru.
Semua ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan Presiden AS Donald Trump, terutama terkait tarif impor dan campur tangannya terhadap bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Ketegangan ini bermula dari pernyataan Trump pada Kamis lalu, di mana ia melontarkan kritik tajam terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell.
Bahkan, menurut beberapa laporan, tim Trump sedang mempertimbangkan apakah mereka bisa memecat Powell.
Sebuah langkah yang sangat tidak biasa dan bisa berdampak besar bagi independensi The Fed serta kepercayaan pasar global.
“Pasar sudah gelisah karena meningkatnya ketegangan geopolitik,” kata Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi di Saxo, Singapura.
“Dan sekarang muncul kekhawatiran bahwa potensi campur tangan Trump terhadap Fed dapat menambah lapisan ketidakpastian lainnya.”
Ia menambahkan bahwa segala bentuk tekanan politik terhadap kebijakan moneter dapat merusak independensi bank sentral.
Jika ini terjadi, menurutnya, arah suku bunga menjadi sulit diprediksi, padahal investor saat ini sangat membutuhkan stabilitas di tengah ketidakpastian global yang makin tinggi.
Saham dan Dolar Melemah, Emas Melambung
Reaksi pasar cukup jelas terlihat, Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun sebesar 0,64 persen, sementara kontrak berjangka Nasdaq turun 0,53 persen.
Di Asia, indeks saham Jepang, Nikkei, turun sekitar 1 persen, dan indeks acuan Korea Selatan cenderung stabil.
Sementara itu, nilai tukar dolar AS mengalami pelemahan terhadap hampir semua mata uang utama dunia.
Euro menyentuh level tertingginya dalam tiga tahun terakhir, dan yen Jepang berada di level tertinggi dalam tujuh bulan.
Bahkan, franc Swiss naik 0,6 persen terhadap dolar, mendekati titik tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Pelemahan dolar ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap aset-aset AS mulai goyah.
Hal ini makin diperburuk oleh konflik dagang yang masih berlangsung antara AS dan China.
Meski Trump sempat menyebut ada “pembicaraan pribadi yang baik” dengan China, pernyataan dari Duta Besar China untuk AS menunjukkan bahwa hubungan kedua negara belum membaik.
“AS harus menunjukkan rasa hormat sebelum pembicaraan apa pun bisa dilakukan,” tegasnya.
Imbal Hasil Obligasi Naik, The Fed dalam Sorotan
Di tengah gejolak ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik sebesar 3 basis poin menjadi 4,358 persen.
Kenaikan ini mencerminkan kecemasan pasar terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Sementara itu, Austan Goolsbee, Presiden Federal Reserve Chicago, mengomentari kondisi ini pada hari Minggu.
Ia menyatakan harapannya agar AS tetap menjadi negara di mana bank sentral bisa membuat keputusan secara independen, tanpa tekanan politik.
“Saya berharap kita tidak masuk ke dalam lingkungan di mana kemampuan bank sentral untuk menetapkan kebijakan moneter secara bebas dipertanyakan,” katanya.
Saham Teknologi Megacap Turun, Investor Menanti Laporan Keuangan
Minggu ini, perhatian investor juga akan tertuju pada musim laporan keuangan perusahaan besar di AS. Beberapa nama besar yang akan melaporkan hasil kinerjanya adalah:
- Alphabet (induk Google)
- Intel (pembuat chip)
- Tesla (produsen kendaraan listrik)
Sayangnya, semua saham dari kelompok “Magnificent Seven” , yaitu perusahaan teknologi terbesar AS mengalami penurunan tajam pada tahun 2025 ini.
Alphabet turun sekitar 20 persen, sementara Tesla anjlok hingga 40 persen sejak awal tahun.
Emas Jadi Tempat Aman di Tengah Ketidakpastian
Di tengah ketidakpastian yang menyelimuti pasar global, harga emas kembali menjadi andalan investor.
Harga emas melonjak lebih dari 1 persen, mencapai rekor tertinggi baru di angka $3.370,17 per ons.
Sepanjang tahun ini, kenaikan harga emas telah mencapai 26 persen.
Lonjakan ini terjadi karena banyak investor mencari tempat aman (safe haven) untuk menempatkan uang mereka, terutama saat aset-aset AS mulai kehilangan daya tariknya.
Emas, yang dikenal stabil dalam jangka panjang, menjadi pilihan utama di tengah gejolak pasar dan ketidakpastian kebijakan pemerintah AS.
(Serambinews.com/ Sri Anggun Oktaviana)
Baca juga: Donald Trump Isyaratkan Meredanya Perang Dagang AS-Cina, Nasib TikTok Masih Jadi Pembahasan
| Iran Serang Pangkalan AS di Arab Saudi, 15 Prajurit Amerika Serikat Terluka |
|
|---|
| Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade |
|
|---|
| Daftar Negara dengan Utang Tertinggi di Dunia, Ada yang Tembus 380 Persen dari PDB |
|
|---|
| Ekonomi India Terancam, Dampak Perang AS–Israel Lawan Iran Picu Krisis Energi Global |
|
|---|
| Sosok Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC, Pernah Dituduh Tewaskan 85 Yahudi Dalam Ledakan di Argentina |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TARIF-DAGANG-AS-Foto-ini-d.jpg)