Breaking News
Jumat, 10 April 2026

Mata Lokal Fest 2025

Ternyata Ini Alasan Direktur Utama Bulog Dicopot dan Diganti Perwira TNI Aktif

Pada awal Februari 2025, Mayjen TNI Novi Helmy Prasetyo resmi menggantikan Wahyu Suparyono sebagai pimpinan Bulog.

Endrapta Pramudhiaz/Tribunnews
MATA LOKAL FEST - Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian Sam Herodian dalam acara Mata Lokal Fest 2025 di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025). Ia menjelaskan alasan pergantian Dirut Perum Bulog yang kini dijabat perwira TNI aktif. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pertanian mengungkapkan alasan pemberhentian Direktur Utama Perum Bulog yang kini dijabat oleh perwira TNI aktif, Mayjen TNI Novi Helmy Prasetyo.

Staf Khusus (Stafsus) Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian Sam Herodian mengungkap sejumlah alasan penunjukan Novi Herlmy sebagai Dirut Bulog.

Sam menjelaskan, pada awal Februari 2025, Mayjen TNI Novi Helmy Prasetyo resmi menggantikan Wahyu Suparyono sebagai pimpinan badan usaha milik negara yang bergerak di sektor pangan itu.

Menurut Sam, keputusan ini diambil karena pemerintah membutuhkan pemimpin yang mampu mengikuti ritme kerja Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya cepat.

"Contohnya (direktur utama) Bulog kemarin tidak bisa mengikuti irama. Jadi terpaksa dicari yang bisa mengikuti irama kecepatan sekarang Pak Prabowo," katanya ketika memberi sambutan dalam acara Mata Lokal Fest 2025 di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Ditemui di sela acara, Sam menjelaskan bahwa pemerintah membutuhkan sosok pemimpin Bulog yang lebih lincah dan bisa mengikuti cara kerja pemerintah saat ini.

Sam kemudian menyebut  Smart Agriculture System (SAS) yang dimiliki Kementerian Pertanian yang bisa mengidentifikasi daerah-daerah yang akan melakukan panen.

Berdasarkan data dari SAS, Kementan akan memberi perintah ke Bulog untuk langsung bergerak ke daerah itu dan menyerap gabahnya. 

Inilah yang dimaksud Sam sebagai kecepatan. Bulog diminta lebih cekatan begitu diperintah Kementan menyerap gabah.

"Jadi ada sinkronisasi. "Eh Bulog, itu di sana produksi, tolong di itu, itu harus bisa." Dan sekarang sudah bagus, cantik sekali. Jadi di SAS kami bisa liat ini di sini mau panen, nanti Bulog ke sana," ujar Sam.

Terkait rencana mengembalikan status Bulog dari BUMN menjadi lembaga di bawah pemerintah, ia menyoroti peran Bulog yang sekarang sebagai BUMN memilik dua tugas, yaitu menjaga stok serta kestabilan harga pokok dan keharusan mereka berbisnis.

Ia memandang dua tugas tersebut sebagai dualisme yang membingungkan.

Jika dikembalikan seperti zaman dulu ketika masih di bawah pemerintah, ia mengatakan Bulog bisa lebih lincah karena tidak ada beban untuk mencari untung.

Sebagai contoh, saat pemerintah menugaskan Bulog untuk menyerap gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram tanpa memandang kualitasnya, hal ini sangat memberatkan jika dipandang dari sisi bisnis.

Menurut dia, perusahaan manapun pasti akan menolaknya. Bulog sendiri dinilai akan menolaknya jika bisa. Namun, karena itu tugas negara, mereka harus melaksanakannya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved