Kamis, 16 April 2026

Internasional

Dunia Bernapas Lega! Saham Asia Meledak Usai Perang Dagang AS-China Mereda

"Kemenangan sesungguhnya di sini adalah perubahan nada dari AS dan China. Kata-kata seperti 'saling menghormati' dan 'martabat' menandai perubahan taj

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/tom/am
SAHAM ASIA- Pasar saham Asia mengalami kenaikan tajam pada hari Selasa (13/5/2025). Pekerja melihat gawainya di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (28/6/2024). 

Dunia Bernapas Lega! Saham Asia Meledak Usai Perang Dagang AS-China Mereda

SERAMBINEWS.COM-Pasar saham Asia mengalami kenaikan tajam pada hari Selasa (13/5/2025), setelah Amerika Serikat dan China sepakat untuk menghentikan sementara perang dagang yang telah memicu kekhawatiran akan resesi global.

Kesepakatan ini memberi angin segar bagi para investor dan membuat pasar keuangan global bergairah.

Indeks saham utama di Asia seperti Nikkei Jepang melonjak 2 persen dan menyentuh level tertinggi sejak 25 Februari.

Sementara itu, indeks saham Taiwan, yang banyak berisi perusahaan teknologi, juga naik sebesar 2 persen.

 Indeks saham China bergerak sedikit lebih tinggi di awal perdagangan.

Kenaikan ini mendorong indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang ke titik tertingginya dalam enam bulan terakhir.

Baca juga: Harga Emas di Banda Aceh Kembali Meredup, Berikut Rincian Harga per Mayam, Edisi 12 Mei 2025

Dilansir dari kantor berita Reuters (13/5/2025),  di pasar saham AS, indeks S&P 500 naik lebih dari 3 persen , sedangkan indeks Nasdaq melonjak hingga 4,3 persen  setelah pengumuman kesepakatan dagang.

Menurut Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi di Saxo Singapura, perubahan sikap dari kedua negara menjadi faktor utama yang mendukung penguatan pasar.

"Kemenangan sesungguhnya di sini adalah perubahan nada dari AS dan China. Kata-kata seperti 'saling menghormati' dan 'martabat' menandai perubahan tajam dari retorika konfrontatif baru-baru ini, dan itulah yang membuat pasar gembira," ujarnya.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, AS akan menurunkan tarif atas barang-barang impor dari China, dari sebelumnya 145 persen menjadi 30 persen.

Sebaliknya, China juga akan menurunkan bea masuk atas barang-barang dari AS, dari 125 persen menjadi 10 persen.

Meski demikian, sebagian kalangan masih khawatir tarif yang tersisa tetap bisa membebani perekonomian global.

Christopher Hodge, Kepala Ekonom AS di Natixis, menyebut bahwa meski ada kemajuan, dampak jangka panjang dari perang dagang belum sepenuhnya hilang.

 "De-eskalasi ini memang tak terelakkan, tapi saya pikir jelas tidak akan ada hasil yang bertahan lama dari pembicaraan ini. Jika semua sudah dikatakan dan dilakukan, tarif akan tetap jauh lebih tinggi dan akan membebani pertumbuhan AS," katanya.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings mencatat bahwa rata-rata tarif efektif AS kini turun menjadi 13,1 persen dari sebelumnya 22,8 persen.

 Namun angka ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan akhir tahun 2024 yang hanya 2,3 persen, dan bahkan setara dengan tingkat tarif yang terakhir terlihat pada tahun 1941.

Baca juga: Harga Emas Terjun Bebas! Sinyal Damai Perang Dagang AS-Tiongkok Guncang Pasar Safe-Haven

Dolar AS dan Aset Global Lainnya

Setelah pengumuman kesepakatan dagang, nilai tukar dolar AS sempat melonjak terhadap yen Jepang, euro, dan franc Swiss.

Namun pada Selasa pagi, nilainya sedikit melemah, meski tetap mempertahankan sebagian besar keuntungannya.

Investor saat ini sedang menunggu rincian lebih lanjut dari perjanjian dagang ini serta apa yang akan terjadi setelah masa 90 hari jeda tarif berakhir.

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis hari ini. Angka inflasi ini penting karena bisa memengaruhi keputusan bank sentral AS dalam menentukan suku bunga.

Harga Bitcoin, Minyak, dan Emas

Di pasar mata uang kripto, harga bitcoin turun tipis sebesar 0,5  persen menjadi $102.146 pada hari Selasa (13/5/2025).

 Meski turun, bitcoin masih berada di atas level penting $100.000 yang ditembus minggu lalu.

Sementara itu, harga minyak dunia sedikit melemah setelah mencapai titik tertinggi dua minggu sebelumnya.

Penurunan ini terjadi setelah optimisme terkait kesepakatan dagang mulai mereda. Harga emas juga stabil setelah turun 2 persen pada hari Senin karena investor mulai keluar dari aset-aset safe haven seperti emas untuk beralih ke aset berisiko seperti saham.

Baca juga: Gempar! Trump Janjikan Kesepakatan Dagang Raksasa, Dunia Tunggu Arah Baru Perdagangan Global

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved