Berita Internasional
Ukraina Rusia Kembali Berunding di Turki, Tanpa Zelensky dan Putin, Apa Yang Akan Terjadi?
Namun, belum ada kepastian apakah perwakilan AS akan ikut terlibat langsung dalam proses negosiasi utama antara Rusia dan Ukraina.
Penulis: Gina Zahrina | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM - Setelah lebih dari tiga tahun perang berlangsung tanpa jeda, Ukraina dan Rusia kembali duduk di meja perundingan dalam upaya terbaru untuk mencari jalan keluar dari konflik yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi.
Pertemuan ini digelar di Istanbul, Turki, namun pertemuan Ukraina dan Rusia berlangsung tanpa kehadiran langsung Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky maupun Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (15/5/2025) atau Jumat (16/5/2025) waktu setempat.
Presiden Ukraina, Zelensky sebenarnya telah tiba di Turki dan sempat bertemu Presiden Recep Tayyip Erdogan di Ankara pada Kamis sore sebagaimana diberitakan oleh AFP.
Namun, ia menegaskan tidak akan menghadiri pertemuan dengan delegasi Rusia setelah Putin menolak undangannya untuk berdialog secara langsung.
Melansir dari Kompas, Zelensky menyampaikan kekecewaannya atas keputusan Moskwa, yang menurutnya menunjukkan bahwa Rusia tidak serius menyelesaikan konflik.
Ia kemudian menunjuk Menteri Pertahanan Rustem Umerov untuk memimpin delegasi Ukraina dalam perundingan tersebut.
Sementara itu, Rusia mengirim delegasi yang dipimpin oleh Vladimir Medinsky, mantan Menteri Kebudayaan yang kini menjadi penasihat Presiden Putin.
Baca juga: Serda Satria Dipecat TNI AL karena Terlibat Operasi Militer Rusia Perangi Ukraina, Kabur Sejak 2022
Ia dikenal sebagai tokoh berhaluan keras. Delegasi Rusia juga mencakup pejabat penting lainnya seperti Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Galuzin, Wakil Menteri Pertahanan Alexander Fomin, dan Kepala Badan Intelijen Militer (GRU) Igor Kostyukov.
Komposisi delegasi ini pun dikritik oleh Zelensky, yang menilai bahwa tidak adanya tokoh puncak dari pihak Rusia mencerminkan kurangnya itikad baik untuk berdamai.
Dalam perundingan ini, Ukraina datang dengan mandat yang jelas: mendorong terwujudnya gencatan senjata tanpa syarat.
Kyiv didukung oleh negara-negara sekutunya, termasuk Amerika Serikat, yang ingin menghentikan konflik secepat mungkin.
Namun, Rusia menolak tawaran itu. Moskwa bersikeras bahwa sejumlah isu mendasar harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum kesepakatan gencatan senjata dapat tercapai.
Mereka tetap menuntut "denazifikasi" dan demiliterisasi Ukraina yaitu dua istilah yang selama ini digunakan Kremlin sebagai dalih untuk melancarkan invasi serta menuntut pengakuan atas wilayah-wilayah yang saat ini diduduki oleh pasukannya.
Baca juga: VIDEO - Pangkalan Udara Pakistan Digempur Rudal India, Rudal Rusia Berhasil Ditembak Jatuh
Di sisi lain, Ukraina menegaskan tidak akan pernah menyerahkan wilayah kedaulatannya kepada Rusia.
Meski begitu, Zelensky mengakui bahwa kemungkinan untuk merebut kembali wilayah tersebut secara militer kian sulit, sehingga jalur diplomasi menjadi satu-satunya opsi yang realistis saat ini.
| Strategi Baru Iran: Buka Selat Hormuz, Tunda Isu Nuklir di Tengah Tekanan AS? |
|
|---|
| Update Hari ke-59 Perang Iran: Diplomasi Dikebut, Trump Buka Jalur Telepon di Tengah Ketegangan |
|
|---|
| Begini Nasib Gaza di Tengah Gencatan Senjata Iran dan Lebanon |
|
|---|
| Teka Teki Penembakan di Jamuan Trump, Real atau Rekayasa? Sistem Pengamanan Jadi Sorotan |
|
|---|
| Netanyahu Ngaku Sempat Idap Kanker Prostat Stadium Awal, Kini Klaim Pulih Total |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/PUTIN-BERTEMU-LUKASHENKO.jpg)