Subulussalam

Ini Sederet Kasus Ikan Mati Massal Diduga Akibat Pencemaran Limbah Pabrik Sawit di Subulussalam

Kejadian ini memicu protes dari warga dan nelayan yang merasa dirugikan akibat matinya ikan-ikan air tawar yang notabene sebagai usaha mereka...

Penulis: Khalidin | Editor: Eddy Fitriadi
For Serambinews.com
IKAN MATI - Para nelayan tradisional di Sungai Lae Batu-Batu, Kota Subulussalam dihebohkan dengan temuan ikan mati massal. Peristiwa tersebut terjadi Rabu (7/5/2025) dan videonya tersebar pada pukul 08.00 WIB hingga viral di media sosial whatsapp dan facebook. 

Laporan Khalidin I Subulussalam

SERAMBINEWS.COM, SUBULUSSALAM – Peristiwa ikan mati secara massal kembali terjadi di Kota Subulussalam tepatnya Rabu-Kamis (7-8/5/2025) di aliran Sungai Lae Batu-Batu sejak dari Kecamatan Sultan Daulat hingga Kecamatan Rundeng.

Ikan-ikan tersebut mati diduga kuat akibat Sungai Lae Batu-Batu yang bermuara di Kecamatan Rundeng tercemar limbah Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS).

Menurut informasi, sejak peristiwa yang terjadi pada tanggal 7-8 Mei, hingga sekarang masyarakat dan nelayan nyaris tiap hari menemukan ikan mati secara massal.

Kejadian ini memicu protes dari warga dan nelayan yang merasa dirugikan akibat matinya ikan-ikan air tawar yang notabene sebagai usaha mereka.

Gelombang protes dilancarkan hingga aksi unjuk rasa ke Kantor Wali Kota Subulussalam menuntut PMKS yang dicurigai bertanggungjawab atas pencemaran tersebut.

Belakangan, warga makin dikecewakan oleh hasil uji laboratorium sampel air Sungai Lae Batu-Batu yang dilakukan oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Subulussalam.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Subulussalam menyimpulkan jika air sungai Lae Batu-Batu masih baik atau tidak tercemar.

Kesimpulan itu tertuang dalam Telaah Staf yang dikuarkan DLHK Kota Subulussalam, Rabu (28/5/2025) menyikapi hasil uji aboratorium terhadap sampel air sungai Lae Batu-Batu (daerah Belintang), Lae Sarkea, Lae Raso (Singgersing), Hilir Lae Rikit Dusun Rikit), Median Lae Rikit, dan Hulu Lae Rikit.

Telaah staf tersebut bernomor :66/ 80 /DLHK/2025 tentang Analisis Data dari Hasil Uji Laboratorium Balai Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJT) Banda Aceh terhadap sampel yang diambil pada tanggal 7 Mei 2025 meliputi Hulu Lae Rikit, Lae Sarkea, Hilir Lae Rikit, Median lae Rikit, Lae Raso Singgersing), Sungai Baltu-Batu (Belintang) Dugan Pencemaran PMKS PT Mandiri Sawit Bersama.

Dijelaskan berdasarkan hasil analisa kualitas air sungai Lae Batu-Batu (Belintang), Lae Sarkea, Lae Raso Singgersing), Hilir Lae Rikit, Median Lae Rikit, dan Hilir Lae Rikit dengan baku mutu air sungai kelas 3 dan 4 sesuai PP RI Nomor 22 tahun 2021.

Maka semua parameter yang diuji masih berada ibawah baku mutu air sungai kelas 3, sehingga kualitas air sungai tersebut masih baik atau tidak tercemar.

Parameter kualitas air yang dipengaruhi oleh air limbah Pabrik Minyak Kelapa Sawit berdasarkan PermenLHK Nomor 5 tahun 2014 adalah pH, TSS, BODS, COD, minyak dan lemak, serta N-Total.

Sehingga untuk mengatakan suatu air sungai telah tercemar oleh sebuah pabrik minyak kelapa sawit dapat dilihat dari kadar parameter tersebut apakah melebihi baku mutu atau tidak. 

Sementara dari hasil uji laboratorium yang telah dilakukan yakni kadar parameter pli, TSS, BOD5, COD, minyak dan lemak, serta N-Total pada lokasi Hilir.

Air Sungai Lae Rikit dari titik rencana pembuangan air limbah PMKS PT. Mandiri Sawit Bersama (MSB) masih berada di bawah baku mutu air sungai.

Hal ini diprotes warga dengan cara memperlihatkan kondisi Sungai Lae Batu-Batu yang telah rusak akibat pencemaran sebagaimana postingan akun facebook Jarir Munthe Mabat.

Dalam postingan siaran langsung, Akun Facebook Jarir Munthe Mabat merekam kondisi air Sungai Lae Batu-Batu penuh dengan gumpalan mirip jelly yang diduga adalah limbah pabrik.

"Buka mata kalian lebar-lebar, siapa bilang sungai Lae Batu-Batu baik-baik saja, lihat ini sudah rusak. Siapa yang tak percaya coba minum airnya," kata perekam dengan nada kesal.

Secara terpisah Masyarakat dan nelayan Kota Subulussalam mendesak Wali Kota Haji Rasyid Bancin atau HRB agar segera menonaktifkan Kepala dan Kabid Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) setempat.

Desakan itu disanpaikan Hasbi Bancin warga Kecamatan Rundeng kepada Serambinews.com Kamis (29/5/2025) menanggapi hasil uji laboratorium air Sungai Lae Batu-Batu yang diduga tercemar oleh limbah dari Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS).

Menurut Hasbi, warga dan nelayan meragukan hasil uji lab air maupun ikan yang dilaksanakan oleh pihak DLHK Subulussalam.

Kecurigaan tersebut diakui sejak awal apalagi saat mendapat pemberitaan jika  sampel air dan ikan dikirim seperti paket biasa dan tujuannya bukan ke lembaga lab namun personal.

"Kami dari nelayan dan masyarakat Desa Muara Batu-Batu sudah jauh hari tidak percaya dengan hasil uji lab dan kami duga ada permainan di dalamnya itu sudah terlihat mulai dari pengiriman nya yang tidak realistis dan tidak secara prosedural," kata Hasbi.

Terbukti, kata Hasbi saat hasil uji lab keluar dinyatakan air Sungai Lae Batu-Batu tidak tercamar padahal sampai Kamis (29/5/2025) kasus ikan mati masih terjadi.

"Sampai hari ini masih ada kasus ikan mati massal di Sungai Batu-Batu, kalau tak percaya silakan turun ke lapangan," tegas Hasbi.

Terhadap hal ini, Hasbi menegaskan sebagai masyarakat dan nelayan meminta Wali Kota Subulussalam HRB agar menonaktifkan kepala dan kabid  DLHK dan Kota Subulussalam.

Penonaktifkan tersebut menurut Hasbi penting agar nanti ada pengambilan sampel air dan ikan mati untuk diuji kembali ke laboratorium.

"Kalau tidak dinonaktifkan maka tetap saja nanti hasilnya sia-sia, karena kami tidak percaya lagi kepada kedua orang tersebut," tegas Hasbi.

Hasbi berharap agar Wali Kota Subulussalam segera menindak tegas atas  keluhan-keluhan dari rakyat.

Hasbi mengaku tidak ingin  karena kesalahan dari DLHK Wali Kota Subulussalam menjadi sasaran.

Terakhir, Hasbi menyatakan bahwa mereka warga dan nelayan akan melakukan aksi lanjutan terkait hasil laboratorium tersebut. 

Kasus ikan mati secara massal yang diduga akibat pencemaran limbah pabrik kelapa sawit di Kota Subulussalam ini bukan pertama kali.

Namun ada sederet kasus serupa terjadi di Kota Sada Kata tersebut terhitung sejak tahun 2012 lalu.

Lima tahun lalu kasus serupa juga terjadi tepatnya 16 Juni 2020.

Ratusan ribu ekor lebih ikan air tawar berbagai jenis di Sungai Longkib mabuk bahkan mati secara massal pada Selasa (16/6/2020) tadi siang. 

Kasus ikan mabuk massal ini menggemparkan masyarakat sekitar yang berbondong-bondong ke lokasi memungut dari sungai hingga dengan jumlah banyak bahkan berkarung-karung.

Pantauan Serambinews.com di lokasi, hingga petang tadi puluhan masyarakat pria dan wanita bahkan anak-anak berbondong-bondong memungut ikan yang sempoyongan di sungai Longkib.

Banyak warga yang mampu mengumpulkan ikan air tawar berbagai jenis hingga jumlah besar. Bahkan ada yang mampu membaa hingga tiga karung beras isi 15 kilogram.

”Ada tiga karung, lumayan lah untuk lauk pauk,” kata warga usai keluar dari sungai membawa hasil pungutannya.

Informasi yang dihimpun dari sejumlah warga ikan mabuk tersbeut terjadi di sepanjang sungai Longkib. 

Kasus ini pun menurut warga baru pertama kali terjadi dan dipastikan bukan sengaja diracun dengan bahan kimia yang dijual di toko.

Sebab, aroma racun bahan kimia biasa dapat ditandai dan lebih menyengat. Warga mensinyalir jika ikan yang mabuk tersebut disebabkan limbah karena saat mereka masuk ke sungai ada aroma terkait.

Berdasarkan catatan Serambinews.com, di Kota Subulussalam sudah beberapa kali terjadi kebocoran limbah Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) yang mencemari sungai hingga mematikan ikan-ikan air tawar secara massal. 

Kasus terbesar pertama kali terjadi pada 2012 atau 13 tahun lalu. Ini akibat jebolnya kolam limbah milik PMKS PT Bangun Sempurna Lestari (BSL) di Pelayangan Desa Buluh Dori, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

Kolam penampungan limbah PT BSL ini jebol pada Sabtu (23/6/2020) lalu sekitar pukul 09.00 WIB. 

Tidak ada korban jiwa karena kejadian ini karena lokasinya jauh dari pemukiman warga. 

Namun, puluhan ton limbah hitam yang keluar dari kolam nomor tiga berukuran sekitar 20X40 meter dengan kedalaman 4-5 meter itu mengalir Sungai (Lae) Kombih dan Souraya dan menyebabkan ikan-ikan di sana mati bahkan dikuatirkan punah.

Informasi yang diperoleh Serambinews.com dari berbagai sumber satu dari 14 kolam penampungan limbah milik PMKS PT BSL jebol sekitar 4-5 meter. 

Kolam itu sendiri persis berada di atas sungai (lae) Kombih yang melintas Sungai Souraya dan bermuara ke Sungai Singkil, Kabupaten Aceh Singkil. 

Peristiwa tersebut terjadi sketar pukul 09.00 atau menjelang siang. Akibarnya, puluhan ton limbah hitam pekat tumpah ke sungai dan menyebabkan pencemaran yang sangat patal. 

Pasalnya, menurut warga semua jenis ikan sungai yang selama ini menjadi tumpuan hidup para nelayan mati. 

Bukan hanya ikan, limbah berbau busuk tersebut juga mematikan udang sungai.

”Wah banyak kali ikan mati karena limbah pabrik kelapa sawit jebol,” kata Fudin, salah seorang warga.

Sejumlah warga sekitar sungai justru berbondong-bondong berebut mengambil ikan-ikan yang sempoyongan sebelum mati untuk dikonsumsi bahkan dijual. 

Apalagi, pada hari minggu pasar mingguan terminal terpadu Subulussalam digelar sehingga warga dapat menjualnya. 

Dampak pencemaran sungai akibat limbah pabrik yang jebol dilaporkan sampai ke Desa Binanga, Kecamatan Runding bahkan Lentong, Kecamatan Kutabaharu, Aceh Singkil.

”Limbah pabrik jebol pencemaran sampai ke Kutabaharu, di semua ikan mati, bahkan udang saja mati, air sungai bau busuk,” kata Sudirman, salah seorang warga di sana.

Sudirman mengatakan ikan yang mati tersebut diambil oleh warga untuk dikonsumsi. 

Sementara air sungai meski tidak berubah warna namun menimbulkan bau busuk menyengat. 

Jenis ikan sungai souraya antara lain adalah Mekhah, Selleng, Baong, Kelubak, Lemeduk, Bebale, Seluntok, Temabu, Balakihik, Kacingen, Itu, Bakkut, Kokhop, Bacek, Bujuk, Pahiten dan sebagainya.

Ikan-ikan tersebut dipastikan punah akibat pencemaran oleh tumpahnya limbah pabrik kelapa sawit ke sungai. 

Kondisi ini tentunya menyebabkan terganggunya mata usaha mayoritas masyarakat di bantaran sungai.

Berselang tiga bulan atau masih di tahun yang sama, kasus limbah pabrik kelapa sawit jebol dan mencemari sungai kembali terjadi. 

Kali ini menimpa PMKS PT Samudera Sawit Nabati (SSN) hingga berton-ton ikan dan udang di Sungai Batu-Batu yang bermuara ke Sungai Souraya Kecamatan Runding Kota Subulussalam dilaporkan mati secara tiba-tiba pada Rabu (5/9/2012).

Ikan-ikan ini mati diduga kuat akibat pencemaran dari limbah Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS).

“Kami duga ada limbah yang tumpah kembali ke sungai, tapi ini yang terkena Sungai Batu-Batu, ikan berton-ton mati,” kata Jaddam Basri, mantan kepala Desa Panglima Sahman, Kecamatan Runding kepada Serambinews.com, Rabu (5/9/2012).

Jaddam mengatakan, semua jenis ikan dan udang air tawar di Sungai Batu-Batu terancam punah. Pasalnya, dari jumlah ikan yang mati diperkarakan berton. Bahkan, kata Jaddam, ada ikan yang mati akibat mabuk limbah tersebut dijual seharga Rp 500.00 satu ekor.

”Warga berebut memang mengambil ikan yang mati secara missal, jumlahnya sangat banyak. 

Bayangkan saja ada ikan yang cukup besar sampai hargnya Rp 500.000 satu ekor. jadi bukan hanya ikan kecil, induk-induknya pun punah,” terang Jaddam.

Lebih jauh Jaddam menjelaskan, air sungai yang sudah pasti tercemar baru di Sungai Batu-Batu sedangkan Souraya yang menjadi muaranya belum terlihat. 

Kendati demikian dikuatirkan pencemaran limbah pabrik tersebut bakal mengancam hingga ke Sungai Souraya. 

Ikan yang mati menurut Jaddam memang dipungut oleh warga namun saat dimasak rasanya berubah menjadi pahit. Padahal, biasanya ikan air tawar yang baru diambil dari sungai rasanya segar. 

Daging ikan yang mati akibat pencemaran limbah tersebut pahit terutama pada bagian perut. 

Hal tersebut dibuktikan langsung oleh Jaddam yang memasak dan mengonsumsi ikan terkait.

Hal senada disampaikan Suryadin, warga dan tokoh pemuda Kecamatan Runding yang dihubungi secara terpisah.

Suryadin mengaku peristiwa matinya ikan sungai Batu-Batu secara missal terjadi sekira pukul 08.20 WIB. 

Saat kejadian, air sungai berubah keruh kehitam-hitaman dnegan menebarkan aroma persis limbah kelapa sawit

Beberapa menit kemudian, kata Suryadin, ikan-ikan dan udang mengapung dan mati secara massal. 

Sebagian warga menurut Suryadin memang memungut ikan dan udang tersebut namun tak sedikit yang kesal dan marah. 

Pasalnya, matinya ikan sungai yang diduga kuat akibat pencemaran limbah menghancurkan habitat sungai dan mata pencaharian warga di sana.

Dugaan warga matinya ikan akibat pencemaran limbah didasarkan oleh keberadaan PMKS milik PT Sawit Sejahtera Nabati (SSN) yang terletak di Kampong Singgersing Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam

Pabrik tersebut persis berada di sekitar sungai Singgersing yang bermuara ke Batu-Batu dan Souraya. 

Karena itu, warga mengecam terjadinya pencemaran sungai oleh limbah pabrik. Suryadin yang juga ketua KMPA Kecamatan Runding mengatakan pihaknya akan menuntut perusahaan membayar ganti rugi penaburan benih ikan, pembayaran kompensasi berupa uang tunai kepada nelayan yang kehilangan pekerjaan serta memberi pekerjaan.

Jaddam Basri juga menyampaikan hal serupa. Pasalnya, menurut Jaddam. Lae Batu-Batu menjadi tumpuan hidup ratusan nelayan. 

Di sana lebih seratusan nelayan tradisional mencari ikan. Bahkan untuk Desa Panglima Sahman saja ada 22 Kepala Keluarga yang menjadi nelayan di Sungai Batu-Batu. 

Tak hanya warga Runding, sebanyak 33 KK warga Pasar Panjang Kecamatan Simpang Kiri juga berusaha di Sungai batu-Batu. Dan hal ini belum termasuk apabila pencemaran yang diduga akibat limbah pabrik masuk ke sungai Souraya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kebersihan Pertamanan dan Pemadam Kebarakan (BLHKPPK) Kota Subulussalam, Ibnu Hajar yang dikonfirmasi Serambinews.com mengaku sudah menurunkan tim yang membidangi lingkungan hidup ke lokasi pabrik guna mengecek apakah limbah perusahaan tersebut tumpah ke sungai atau sengaja dibuang. 

Ibnu sendiri mengaku baru mendapat informasi adanya ikan mati secara massal pada Rabu sore. 

Karenanya, Ibnu belum dapat menjelaskan hasil pengecekan ke lapangan. Ibnu meminta waktu untuk menjelaskan hasil kerja tim terkait dugaan pencemaran limbah pabrik kelapa sawit PT SSN.

”Tim sudah kami turunkan, saya pun baru dapat kabar tadi sore, jadi besoklah baru bisa kita ketahui informasi lebih jelas apakah ada pencemaran limbah dari PT SSN,” kata Ibnu.

Sekarang, kasus serupa kembali terjadi di lokasi berbeda yakni Sungai Longkib, Kecamatan Longkib. 

Namun, sungai-sungai di Subulussalam ini semuanya bermuara ke Souraya, sungai terbesar di daerah tersebut. Kasus yang terjadi di sungai Longkib juga berat dugaan akibat pencemaran limbah.

Sebelumnya, masyarakat Longkib, Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam menduga kuat jika ikan air tawar yang mabuk bahkan mati mendadak secara massal akibat pencemaran.

”Kami menduga kuat ikan ini bias mabuk massal karena keracunan limbah,” kata Ahmad, salah seorang warga Longkib saat dikonfirmasi Serambinews.com, Selasa (16/6/2020) di sekitar sungai Longkib.

Ahmad dan warga lain menyatakan memiliki dasar kuat jika ikan di sana mabuk akibat tercemar limbah. Pasalnya, selama ini belum pernah terjadi ikan mabuk massal di sungai tersebut. 

Selain itu, saat Ahmad dan puluhan warga masuk ke dalam sungai memungut ikan-ikan yang mabuk sempoyongan tercium aroma limbah. 

Baunya, kata Ahmad lebih mengarah ke limbah bukan racun kimia. Karenanya, Ahmad maupun warga lain meyakini jika ikan-ikan di sana mabuk dan mati akibat limbah.

Warga menyatakan di ulu sungai terdapat cabang kali yang mengalir di dekat limbah sebuah pabrik kelapa sawit.

Nah yang makin mencurigakan warga di atas cabang kali ini ikan-ikan tidak mengalami mabuk atau dampak pencemaran. 

Sementara di bawah cabang tersebut hingga ke sungai Longkib ikan-ikan mabuk massal.

Akibat ikan yang mati mendadak ini sangat berdampak pada usaha masyarakat sekitar. 

Pasalnya, sebagaimana disampaikan Ahmad, adsa tiga desa di Kecamatan Longkib yang masyarakatnya menumpukan hidupnya mencari ikan di Sungai Longkib. Warga di sana umumnya menggeluti usaha mencari ikan air tawar di sungai Longkib.

”Jadi dengan peristiwa ikan mabuk dan mati massal ini membuat usaha masyarakat rusak, karena ini bertahun baru ikannya bias ada lagi,” ungkap Ahmad.

Peristiwa ikan mati secara massal kembali terjadi di Sungai Lae Batu-Batu, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam.

Kasus ini kembali terjadi Kamis (8/5/2025) di sekitar Muara Batu-Batu, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam.

Camat Rundeng, T Ridwan yang dikonfirmasi Serambinews.com membenarkan peristiwa ikan mati massal di wilayah kerjanya.

Ridwan mengaku pihaknya sudah turun ke lokasi mengecek dan mengambil sampel air maupun bangkai ikan.

Sebelumnya, ikan terkait juga mati massal dan membuat para nelayan di sana menjadi heboh.

"Benar, ada kasus ikan mati massal lokasinya di Sungai Muara Batu-Batu," kata Ridwan.

Lebih jauh dikatakan jika ikan yang mati massal masih baru dan ada pula sedang mabuk.

Ridwan juga mengaku sedang dalam perjalanan untuk melapor ke Wakil Wali Kota Subulussalam atas peristiwa terkait. (*)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved