Selasa, 21 April 2026

Lhokseumawe

Besok, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Peringati Milad ke-56, Ini Sejarah Pendiriannya

Penyerahan Perpres berlangsung di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, disaksikan oleh Wamensesneg Juri Ardiantoro...

Penulis: Jafaruddin | Editor: Eddy Fitriadi
Foto Dok Panitia 
LAUNCHING - Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Prof Dr Danial MAg, resmi launching peringatan Milad ke-56 yang ditandai dengan tabuhan rapai dan pelepasan balon beserta jajarannya pada Kamis (22/5/2025). 

Laporan Jafaruddin I Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Besok Kamis 12 Juni 2025, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe akan memperingati Milad ke-56.

Momen istimewa ini sekaligus menjadi milad pertama kampus tersebut dengan nama barunya setelah resmi bertransformasi dari IAIN Lhokseumawe melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 56 Tahun 2025.

Sejarah panjang pendirian UIN Sultanah Nahrasiyah bermula dari lahirnya Akademi Ilmu Agama (AIA) pada 12 Juni 1969. Lembaga pendidikan tinggi Islam pertama di Lhokseumawe ini diprakarsai oleh Drs. Tgk. H. A. Wahab Dahlawi, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Aceh Utara, bersama sejumlah tokoh masyarakat.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 24 Mei 1972, AIA bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Malikussaleh (PERTIM) dan AIA dilebur ke dalam Fakultas Syariah PERTIM. Pada 1975, fakultas ini menjadi filial dari Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Kepemimpinan pendidikan ini kemudian dijalankan oleh Drs. Tgk. H. A. Gani El-Ahmady, dan berlanjut ke Drs. H. Ghazali Muhammad Syam pada 1980. Di bawah kepemimpinan Ghazali, nama lembaga diubah menjadi Perguruan Tinggi Pendidikan Malikussaleh, di bawah Yayasan Pendidikan Malikussaleh.

Periode 1987–1994, Drs. Idris Mahmudi memimpin dengan lokasi kampus di Reuleut. Namun situasi konflik yang memanas membuat perkuliahan harus dipindahkan ke Lancang Garam berkat inisiatif Drs. H. A. Muthalib Hasan. Saat itu, nama lembaga juga berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) dengan status terdaftar.

Tahun 1996, di bawah kepemimpinan Muthalib Hasan, STIS memperoleh status "diakui" dari Departemen Agama RI. Pada tahun yang sama, dibuka jurusan Tarbiyah, sehingga nama institusi berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Malikussaleh (STAIM).

Pada 2001, Drs. Hafifuddin memimpin dan mulai mempersiapkan penegerian STAIM. Upaya ini membuahkan hasil dengan keluarnya Keputusan Presiden RI Nomor 2 Tahun 2005, yang mengubah STAIM menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe.

Setelah sempat digantikan oleh Dr. Iskandar Budiman, M.CL pada 2010–2013, Hafifuddin kembali menjabat pada 2014. Di masa inilah, berkat perjuangan bersama aktivis kampus, STAIN Malikussaleh ditingkatkan statusnya menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe melalui Perpres Nomor 72 Tahun 2016. Hafifuddin kembali ditunjuk sebagai rektor hingga 2021.

Pada 3 Maret 2021, Dr. Danial, M.Ag resmi dilantik sebagai Rektor IAIN Lhokseumawe oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, untuk periode 2021–2025. Di bawah kepemimpinannya, IAIN memperoleh akreditasi institusi "Baik Sekali" dari BAN-PT (SK No. 683/SK/BAN-PT/Akred/PT/VII/2021), dan kini memiliki 6.191 mahasiswa yang tersebar di 22 program studi, dengan mayoritas program studi berakreditasi A dan B.

Akhirnya, pada Senin 26 Mei 2025, sejarah baru tercipta. Melalui Perpres Nomor 56 Tahun 2025, IAIN Lhokseumawe resmi bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.

Penyerahan Perpres berlangsung di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, disaksikan oleh Wamensesneg Juri Ardiantoro, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, Dirjen Pendidikan Islam Prof. Dr. M. Amin Suyitno, M.Ag, serta Direktur Diktis Prof. Dr. Phil Sahiron, MA.

Prof. Danial hadir menerima langsung Perpres tersebut, didampingi tiga wakil rektor: Dr. Iskandar, M.Si, Dr. Said Alwi, MA, dan Dr. Darmadi, M.Si.

Perubahan status menjadi UIN membawa harapan besar bagi pengembangan keilmuan Islam yang moderat dan integratif di wilayah Aceh.

Nama "Sultanah Nahrasiyah" diambil untuk menghormati pemimpin perempuan agung dalam sejarah Islam dari Kerajaan Samudera Pasai .

Perayaan milad ke-56 ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menegaskan komitmen UIN Sultanah Nahrasiyah untuk terus maju menjadi center of excellence di bidang pendidikan, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved