Aba Yunus Thaha Meninggal Dunia
Miftahul Jannah, Warisan Ilmu dan Cinta dari Seorang Ulama yang Telah Pergi
Awal tahun 1998 menjadi saksi gotong royong masyarakat sekitar. Mereka bersama-sama membangun 10 bilik santri dari kayu bulat, beratap rumbia...
Penulis: Sadul Bahri | Editor: Eddy Fitriadi
Laporan Sa’dul Bahri | Aceh Barat
SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Di sebuah sudut kampung sunyi, Desa Lueng Jawa, Kecamatan Woyla, Aceh Barat, pernah tumbuh secercah cahaya dari seorang ulama bersahaja Tgk M Yunus Thaha (Aba Yunus). Beliau tak memulai perjuangannya dengan gemerlap atau sorotan, hanya dengan mengajar Majelis Taklim secara sederhana. Namun, dari majelis kecil inilah, lahir sebuah gagasan besar, sehingga mendirikan sebuah dayah sebagai pusat pendidikan Islam bagi generasi muda.
Gagasan itu tak sekadar menjadi wacana. Berkat musyawarah dan niat yang tulus dari para jamaah, terbentuklah panitia pendirian Dayah, dipimpin oleh Tgk Ilyas Gadong dan Tgk M Jamil. Mereka tak menunggu bantuan besar dari luar, melainkan menggerakkan hati masyarakat sendiri.
Dengan penuh keikhlasan, mereka mengumpulkan sumbangan, dan akhirnya, pada 12 Safar 1315 H / 17 Juni 1997 M, Dayah yang diberi nama Miftahul Jannah berdiri untuk pertama kalinya.
Bangunannya kecil, hanya berukuran 10 x 12 meter, berdiri di atas tanah wakaf. Tapi semangat di dalamnya tak terhingga. Atas permintaan masyarakat, Tgk M Yunus Thaha pun menerima amanah menjadi pimpinan dayah pertama. Bukan sekadar memimpin, beliau merawatnya seperti anak kandung, menanamkan nilai-nilai Islam, akhlak, dan kesederhanaan kepada setiap santri.
Awal tahun 1998 menjadi saksi gotong royong masyarakat sekitar. Mereka bersama-sama membangun 10 bilik santri dari kayu bulat, beratap rumbia. Sederhana, tapi sarat makna perjuangan. Ketika tsunami mengguncang Aceh pada tahun 2006, Dayah ini justru menunjukkan ketangguhannya. Santri semakin bertambah, masyarakat terus mendukung, dan pemerintah pun mulai hadir memberi bantuan.
Kini, Dayah Miftahul Jannah telah tumbuh menjadi salah satu Dayah Salafiah tipe B yang disegani di Provinsi Aceh. Namanya harum bukan karena megahnya bangunan, tapi karena pondasi yang dibangun dari cinta, pengorbanan, dan ketulusan seorang guru.
Namun, takdir berkata lain, pada Rabu (11/6/2025), Aba Yunus menghembuskan napas terakhirnya di kediaman beliau di Ie Itam Tunong Baroh, Kecamatan Woyla. Beliau berpulang setelah puluhan tahun mengabdi, membimbing, dan menyinari kehidupan banyak jiwa dengan ilmunya.
Menurut Wakil Pimpinan Dayah Darul Ihsan Krueng dan Ketua Umum DPP ISAD, Tgk. Mustafa Husen Woyla bahwa jenazah disemayamkan terlebih dahulu di rumah Umi Ramlah. Shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Ie Itam Tunong dan di halaman Dayah Miftahul Jannah lembaga pendidikan yang ia dirikan, rawat, dan cintai hingga akhir hayat.
Prosesi pemakaman berlangsung di kampung kelahiran beliau, Gampong Pasi Lunak. Diiringi isak haru dan banyaknya pelayat dari berbagai pelosok Woyla Raya, kepergian beliau meninggalkan duka mendalam di hati para santri, ulama, dan masyarakat Aceh.
Kini, sosok yang bersahaja itu telah tiada. Namun warisannya hidup dalam lantunan doa santri, dalam setiap pelajaran yang terus diajarkan di Dayah Miftahul Jannah, dalam semangat gotong royong masyarakat yang dahulu bersama beliau membangun dari nol.
Aba Yunus telah kembali ke sisi-Nya, tapi cinta dan ilmu yang beliau tanam akan terus tumbuh menjadi pohon kebaikan yang buahnya dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.