Kamis, 4 Juni 2026

Aceh Besar

Disnak Aceh Latih Gratis 60 Calon Kader Peternakan Selama Lima Bulan di Saree

Acara pembukaan ditandai dengan pengalungan 'badge' peserta secara simbolis kepada satu peserta putra dan satu peserta putri...

Tayang:
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Eddy Fitriadi
YARMEN DINAMIKA/SERAMBINEWS.COM
BUKA ACARA - Asisten II Sekda Aceh, Dr Ir Zulkifli MSi mewakili Plt Sekda Aceh membuka Pelatihan Kader Peternakan Aceh 2025 di Aula UPTD IBI Saree, Aceh Besar, Senin (7/7/2025) pagi. Pembukaan itu ditandai dengan pengalungan 'badge' secara simbolis kepada dua peserta oleh Asisten II Sekda Aceh, dilanjutkan oleh Kepala Dinas Petenakan Aceh, Zalsufran ST MSi. 

Laporan Yarmen Dinamika | Jantho

SERAMBINEWS.COM - Pemerintah Aceh melalui Dinas Petenakan (Disnak) Aceh pada tahun anggaran 2025 ini kembali merekrut dan melatih 60 orang pemuda/pemudi Aceh untuk dipersiapkan menjadi kader peternakan yang terampil dan mandiri di bidang peternakan.

Pelatihan kader peternakan ini dilaksanakan selama lima bulan,  dipusatkan di Kompleks Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Inseminasi Buatan dan Inkubator (IBI) Kader Peternakan Saree, Kabupaten Aceh Besar.

Pelatihan Kader Peternakan Aceh itu dibuka resmi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Aceh yang diwakili Asisten II Sekda Aceh, Dr Ir Zulkifli MSi di Aula UPTD IBI Saree, Aceh Besar, Senin (7/7/2025) pagi.

Acara pembukaan ditandai dengan pengalungan 'badge' peserta secara simbolis kepada satu peserta putra dan satu peserta putri oleh Asisten II Sekda Aceh,  dilanjutkan oleh Kepala Dinas Petenakan Aceh,  Zalsufran ST MSi.

Kemudian, dilanjutkan dengan pemakaian topi dan penyerahan baju seragam serta sepasang sepatu kepada kedua peserta.

Berikutnya, Kepala UPTD IBI Saree,  Dr Ir Hendra Syahputra SPt MM menyerahkan daftar nama ke-60 peserta kepada Kompol Muara Uli selaku Kasubbag Perencanaan dan Administrasi (Renmin) Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Seulawah,  Aceh Besar yang hadir pada acara pembukaan.

Penyerahan daftar nama tersebut menandai bahwa para peserta akan dididik kedisiplinan dan bina mental selama lima hari oleh para instruktur dari SPN Seulawah Polda Aceh.

Dalam laporannya selaku ketua panitia pelatihan, Dr Hendra Syahputra MM mengatakan, minat generasi muda Aceh untuk ikut menjadi kader peternakan tahun ini cukup tinggi. Terbukti, dari seluruh Aceh ada 984 orang yang mendaftar. “Namun, yang lulus seleksi hanya 60 orang sesuai kapasitas yang kita alokasikan. Jadi, tak sampai 10 persen yang lulus,” ujarnya.

Ia sebutkan bahwa proses seleksi sudah berlangsung sejak bulan Mei-Juni lalu. Sedangkan pelatihan dimulai pada 7 Juli hingga Desember 2025.

Seluruh peserta pelatihan akan diasramakan dengan biaya pendidikan ditanggung seluruhnya oleh Pemerintah Aceh, dalam hal ini oleh Disnak Aceh.

Konsentrasi pelatihan ini adalah memberikan keterampilan kepada para peserta untuk mahir melakukan inseminasi buatan (IB), meningkatkan derajat kesehatan hewan (keswan), dan manajemen peternakan. “Jadi, pelatihan ini hanya 30 persen teori, 70 persen praktik. Adapun sumber dananya tertuang pada DPA Pemerintah Aceh,” lapor Dr Hendra.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Aceh, Zalsufran ST MSi mengatakan, pelatihan ini sangat strategis dan besar manfaatnya untuk mencetak kader peternakan yang nantinya dapat berperan sebagai agen perubahan pada sektor peternakan di Aceh.

“Para kader peternakan, alumni dari pelatihan lima bulan ini, kita harapkan dapat menjadi agen yang dapat mengubah persepsi dan praktik para peternak kita di provinsi ini dari pola peternakan tradisional ke pola yang modern, sesuai kaaidah-kadiah peternakan yang seharusnya,” kata Zalsufran.

Selain itu, lanjutnya, kader peternakan ini dapat pula berperan sebagai motor penggerak untuk meningkatkan keberhasilan program ketahanan pangan di desa-desa tempat mereka berdomisili.

“Tugas kader setelah pelatihan ini adalah menjadi wirauusaha/entrepreneur di sektor peternakan, sekaligus menjadi contoh baik bagi masyarakat untuk menerapkan cara pengelolaan peternakan yang baik," terang Zalsufran.

Kader peternakan, kata Zalsufran, juga bisa berperan menumbuhkan kesadaran di kalangan peternak agar tidak sembarang melepaskan ternaknya sehingga leluasa berkeliaran di jalan. Cara beternak seperti ini sangat riskan karena dapat mengundang kecelakaan lalu lintas, seperti sering terjadi di lintas  barat-selatan Aceh (Barsela).

“Dengan kehadiran kader peternakan di tengah masyarakat, kita harapkan  gangguan ternak di jalanan semakin berkurang karena para peternak semakin teredkasi,” kata Zalsufran.

Bertambah Wawasan

Saat membuka acara, Dr Zulkifli MSi mengatakan, para peserta pelatihan ini sangat beruntung, mengingat dari hampir 1.000 orang yang mendaftar, hanya 60 orang yang lulus untuk ikut pelatihan.

“Maka, jangan sia-siakan pelatihan ini. Manfaatkan waktu seoptimal mungkin untuk menambah wawasan dan menyerap ilmu dari para instruktur agar nantinya mampu membina para peternak kita menjadi lebih professional dan produktif,” kata Zulkifli.

Pelatihan selama lima bulan ini, lanjut Zulkifli, merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Aceh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), termasuk di sektor peternakan. Oleh karenanya, para peserta haruslah benar-benar menentut ilmu selama pelatihan ini dan praktikkan.

Sekembalinya ke kampung halaman masing-masing nantinya, kata Zulkifli,  harus pula inovatif dan kreatif dalam pemanfaatan sumber daya desa. Perlu juga berkolaborasi dengan kepala desa agar dana desa dapat  pula dialokasikan untuk peningkatan produktivitas di sektor peternakan.

“Bahkan, dana desa dapat digunakan untuk melatih kader-kader desa agar terampil mendampingi dan membimbing masyarakat di sektor peternakan supaya peternak kita lebih profesional. Jadi, dana desa jangan cuma dimanfaatkan untuk bimtek aparat desa. Alokasi juga untuk melatih kader-kader desa di bidang tertentu yang sifatnya produktif,” ujar Zulkifli.

Ia juga berharap agar kader peternakan yang sedang dilatih ini nantinya dapat berperan sebagai motor penggerak ekonomi desa, mendorong ketahanan pangan, pengentasan kemskinan, dan berinovasi.

“Upayakan juga agar uang lebih banyak dan lebih lama beredar di sini. Jangan sampai yang masuk banyak, tapi uang yang keluar dari Aceh justru jauh lebih banyak,” tukasnya.

Sanggup Tidak Menikah

Para peresta pelatihan ini minimal berijazah SLTA atau sederajat, berumur antara 18 s.d. 25 tahun pada saat mendaftar; dan belum menikah, serta berjanji sanggup tidak menikah selama masa pendidikan yang lamanya lima bulan.

Selama pelatihan, peserta tidak dipungut biaya dan ditanggung pemondokan (asrama) maupun konsumsinya oleh Dinas Peternakan Aceh.

Peserta hanya libur pada hari Minggu dan  pada hari itu dibolehkan untuk dikunjungi keluarganya. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved